September 11, 2018

Kisah Nabi Yusuf dalam Naskah Lontar


Agus Wibowo

Lontar Kisah Nabi Yusuf di Museum Sri Baduga Bandung
Kisah Nabi Yusuf dan Legenda Damarwulan sama-sama bercerita tentang pemuda tampan, dekat dengan penguasa, dan punya hubungan khusus dengan perempuan cantik di istana kerajaan. Nabi Yusuf dikisahkan secara utuh, panjang-lebar dan tuntas di Al Quran dalam Surat ke-12 yaitu Surat Yusuf sebanyak 111 ayat. Nabi Yusuf hidup di istana dan ketampanannya mempesona Zulaikha yang berujung fitnah dan mengantarkannya ke penjara. Di dalam penjara dia memecahkan teka-teka dari mimpi raja yang melihat 7 sapi gemuk dan 7 sapi kurus, sebagai masa makmur 7 tahun yang disusul kemudian dengan masa kerontang selama 7 tahun .

Kisah Air Suci Amerta dalam Samudramanthana


Agus Wibowo

Samudramanthana
Samudramanthana merupakan miniatur bangunan candi, yang terdapat relief kisah agama Hindu tentang pencarian Air Amerta –Air Kehidupan. Alkisah, di suatu masa dunia hanya dihuni oleh para dewa dan para raksasa. Suatu hari Dewa Brahma khawatir suatu saat dunia dikuasai oleh kejahatan, karena jumlah raksasa lebih banyak. Para dewa kemudian berkumpul mengadakan rapat dan memutuskan untuk mengaduk samudra  untuk mendapatkan air amerta. Sebagai alat pengaduk digunakanlah Gunung Mandara dengan alas kura-kura jelmaan Dewa Wisnu. Untuk alat memutar gunung digunakanlah ular yang sangat panjang yang merupakan perwujudan dari Dewa Besuki.

Angklung Buhun, Angklung Pusaha Masyarakat Baduy


Agus Wibowo

Angklung Buhun
Indonesia memiliki banyak peninggalan pusaka, salah satunya Angklung Buhun. Angklung Buhun merupakan kesenian angklung khas Kabupaten Lebak –salah satu Kabupaten di Provinsi Banten yang terletak di sisi tenggara. Kesenian ini memiliki karakter kesenian yang sederhana, baik dalam lirik maupun lagunya. Kenapa disebut sebagai Angklung Buhun? Buhun menunjukkan arti usia yang sudah sangat tua, kuno, peninggalan nenek moyang, hadir dari jaman baheula dan digolongkan sebagai kesenian pusaka. Angklung ini diperkirakan lahir bersamaan dengan terbentuknya komunitas masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak.

Melihat Rumah Majapahit di Trowulan Mojokerto


Agus Wibowo

Replika Rumah Majapahit
Dalam kunjungan ke situs bekas ibukota Majapahit di Trowulan Kabupaten Mojokerto, saya melihat beberapa bangunan rumah mungil yang tidak banyak ditemukan di wilayah Mojokerto lainnya. Rumah-rumah ini relatif kecil dengan lebar 5 meter, pada umumnya berwarna coklat kemerahan dari bahan batu bata dan kayu. Bagian atabnya berbentuk limas dari genting yang berukuran kecil –lebih kecil dari umumnya genting rumah lainnya. Model rumah segi empat berwarna merah kecokalatan ini ternyata banyak digunakan untuk bangunan posyandu, dan bangunan lainnya. Bahkan mulai banyak penduduk yang mengubah penampilan sisi depan rumahnya dengan bangunan “rumah Majapahit ini”.

June 03, 2018

Tongkat Dua Naga Simbol Pembagian Kerajaan Kahuripan


Agus Wibowo

Tongkat Dua Naga
Tongkat berwarna emas dengan pegangan dua kepala naga ini merupakan koleksi Museum Singasari, yang terletak di Desa Klampok, Kecamatan Singosari di Kabupaten Malang. Museum ini terletak berdekatan dengan beberapa situs bekas Kerajaan Singasari, diantaranya Candi Singasari, pemandaian Ken Dedes dan dua arca Dwarapala Raksasa.
Menurut petugas penjaga museum, tongkat berkepala dua naga ini melambangkan pembagian dua Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu atau Kediri. Bisa dilihat di tongkat, bahwa naga kedua seperti keluar dari tengkuk atau leher bagian atas naga utama.
Berdasarkan Kitab Negarakertagama, Serat Calon Arang dan Prasasti Wurareh di Arca Joko Dolog, pembagian kerajaan Kahuripan dilakukan karena Raja Erlangga mempunyai dua putra yang sama-sama ingin berkuasa. Sebelum membelah kerajaan, Erlangga menempuh cara lain. Dengan bantuan Resi Barada, dia berusaha melakukan pendekatan ke Kerajaan Bedahulu di Bali untuk menjajaki kemungkinan satu putranya menjadi raja di Bali, karena bagaimana pun Erlangga adalah putra sulung raja Udayana. Tapi, kerajaan di Bali sudah dipimpin oleh anak cucu Udayana lainnya.

May 31, 2018

Rahasia Mpu Sindok Eksodus ke Timur Jawa


Agus Wibowo 
Candi Prambanan
Sejak tahun 929 Kerajaan Medang Mataram tidak lagi ada wilayah Jawa Tengah, melainkan sudah eksodus cukup jauh dan mempunyai istana di daerah Tamwlang di Kabupaten Jombang Di Jawa Timur. Ada dua pendapat tentang eksodus atau perpindahan masal di tahun 928 ini. Ada yang berpendapat eksodus dilakukan kerena letusan Gunung Merapi yang super dahsyat dan ada juga pendapat bahwa eksodus dilakukan karena adanya konflik dan menghindari serang dari Kerajaan Sriwijaya.
Letusan Gunung Merapi 
Pendapat pertama salah satunya diutarakan oleh van Bammelen. Dia berpendapat bahwa perpindahan istana Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Teori ini percaya bahwa letusan dahsyat ini menhancurkan puncak Gunung Merapi sampai membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh. Teori ini mempunyai bukti yang kuat, karena Gunung Merapi mempunyai sejarah panjang sebagai gurung berapi paling aktif di Pulau Jawa. Di masa kini, gunung berapi di Kabupaten Magelang ini sering meletus, yang banyak menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Candi Borobudur yang begitu besar bahkan tampak seperti bukit ketika ditemukan, diduga kuat tertimbun material letus Gunung Merapi.
Berita tentang terjadinya letusan gunung berapi ini bisa ditemukan di dalam prasasti yang dikeluargan oleh salah satu raja Medang Mataram, salah satunya Prasasti Rukam dibuat oleh Dyah Balitung di tahun 829 saka/907 masehi. Prasasti yang ditemukan di desa Petarongan, Parakan, kabupaten Temanggung ini memberitakan peresmian status Desa Rukam sebagai desa perdikan, karena desa tersebut telah dilanda bencana letusan gunung api. Di desa ini dibuat bangunan suci yang ada di Limwung dan penduduk Desa Rukam ditugaskan untuk memelihara bangunan suci ini.

May 30, 2018

Prasasti Kayumwungan dan Candi Borobudur


Agus Wibowo

Prasasti Kayumwungan b
Prasasti Kayumwungan adalah sebuah naskah yang ditatah dalam lempeng batu yang terbelah menjadi 5 bagian. Prasasti ini ditemukan di Dusun Karang Tengah Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan lokasi penemuan, prasasti ini juga disebut sebagai Prasasti Karang Tengah. Lima frakmen prasasti sempat didata dan ditandai dengan potongan atau frakgmen a, b, c, d dan e. Saat ini bagian prasasti yang masih ada adalah fragmen b dan e, sedangkan fragmen a, c dan d tidak diketahui ada di mana. Meskipun begitu fragmen c sempat dipelajari oleh J.G. de Casparis. 
Naskah yang ditatah dalam batu yang dipotong pipih ini menggunakan aksara Jawa Kuno dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuno. Bahasa Sanskerta digunakan pada baris 1 sampai dengan baris ke 24 sedangkan setengah baris sisanya menggunakan Bahasa Jawa Kuno. Pesan dalam 2 bahasa ini masing-masing memiliki angka tahun yang sama, yaitu 746 saka atau 824 masehi.