June 03, 2018

Tongkat Dua Naga Simbol Pembagian Kerajaan Kahuripan


Agus Wibowo

Tongkat Dua Naga
Tongkat berwarna emas dengan pegangan dua kepala naga ini merupakan koleksi Museum Singasari, yang terletak di Desa Klampok, Kecamatan Singosari di Kabupaten Malang. Museum ini terletak berdekatan dengan beberapa situs bekas Kerajaan Singasari, diantaranya Candi Singasari, pemandaian Ken Dedes dan dua arca Dwarapala Raksasa.
Menurut petugas penjaga museum, tongkat berkepala dua naga ini melambangkan pembagian dua Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu atau Kediri. Bisa dilihat di tongkat, bahwa naga kedua seperti keluar dari tengkuk atau leher bagian atas naga utama.
Berdasarkan Kitab Negarakertagama, Serat Calon Arang dan Prasasti Wurareh di Arca Joko Dolog, pembagian kerajaan Kahuripan dilakukan karena Raja Erlangga mempunyai dua putra yang sama-sama ingin berkuasa. Sebelum membelah kerajaan, Erlangga menempuh cara lain. Dengan bantuan Resi Barada, dia berusaha melakukan pendekatan ke Kerajaan Bedahulu di Bali untuk menjajaki kemungkinan satu putranya menjadi raja di Bali, karena bagaimana pun Erlangga adalah putra sulung raja Udayana. Tapi, kerajaan di Bali sudah dipimpin oleh anak cucu Udayana lainnya.

May 31, 2018

Rahasia Mpu Sindok Eksodus ke Timur Jawa


Agus Wibowo 
Candi Prambanan
Sejak tahun 929 Kerajaan Medang Mataram tidak lagi ada wilayah Jawa Tengah, melainkan sudah eksodus cukup jauh dan mempunyai istana di daerah Tamwlang di Kabupaten Jombang Di Jawa Timur. Ada dua pendapat tentang eksodus atau perpindahan masal di tahun 928 ini. Ada yang berpendapat eksodus dilakukan kerena letusan Gunung Merapi yang super dahsyat dan ada juga pendapat bahwa eksodus dilakukan karena adanya konflik dan menghindari serang dari Kerajaan Sriwijaya.
Letusan Gunung Merapi 
Pendapat pertama salah satunya diutarakan oleh van Bammelen. Dia berpendapat bahwa perpindahan istana Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Teori ini percaya bahwa letusan dahsyat ini menhancurkan puncak Gunung Merapi sampai membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh. Teori ini mempunyai bukti yang kuat, karena Gunung Merapi mempunyai sejarah panjang sebagai gurung berapi paling aktif di Pulau Jawa. Di masa kini, gunung berapi di Kabupaten Magelang ini sering meletus, yang banyak menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Candi Borobudur yang begitu besar bahkan tampak seperti bukit ketika ditemukan, diduga kuat tertimbun material letus Gunung Merapi.
Berita tentang terjadinya letusan gunung berapi ini bisa ditemukan di dalam prasasti yang dikeluargan oleh salah satu raja Medang Mataram, salah satunya Prasasti Rukam dibuat oleh Dyah Balitung di tahun 829 saka/907 masehi. Prasasti yang ditemukan di desa Petarongan, Parakan, kabupaten Temanggung ini memberitakan peresmian status Desa Rukam sebagai desa perdikan, karena desa tersebut telah dilanda bencana letusan gunung api. Di desa ini dibuat bangunan suci yang ada di Limwung dan penduduk Desa Rukam ditugaskan untuk memelihara bangunan suci ini.

May 30, 2018

Prasasti Kayumwungan dan Candi Borobudur


Agus Wibowo

Prasasti Kayumwungan b
Prasasti Kayumwungan adalah sebuah naskah yang ditatah dalam lempeng batu yang terbelah menjadi 5 bagian. Prasasti ini ditemukan di Dusun Karang Tengah Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan lokasi penemuan, prasasti ini juga disebut sebagai Prasasti Karang Tengah. Lima frakmen prasasti sempat didata dan ditandai dengan potongan atau frakgmen a, b, c, d dan e. Saat ini bagian prasasti yang masih ada adalah fragmen b dan e, sedangkan fragmen a, c dan d tidak diketahui ada di mana. Meskipun begitu fragmen c sempat dipelajari oleh J.G. de Casparis. 
Naskah yang ditatah dalam batu yang dipotong pipih ini menggunakan aksara Jawa Kuno dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuno. Bahasa Sanskerta digunakan pada baris 1 sampai dengan baris ke 24 sedangkan setengah baris sisanya menggunakan Bahasa Jawa Kuno. Pesan dalam 2 bahasa ini masing-masing memiliki angka tahun yang sama, yaitu 746 saka atau 824 masehi.

Prasasti Gulung-Gulung Mantapkan Mpu Sindok di Daerah Malang


Agus Wibowo

Prasasti Gulung-Gulung merupakan salah satu prasasti yang dikeluarkan oleh Mpu Sindok, Raja Medang di Jawa Timur, pendiri Wangsa Isyana. Prasasti dalam bentuk batu bertulis ini dimaksudkan sebagai peneguhan pemberian anugrah sima perdikan untuk sebidang sawah seluas 7 tapak di Desa Gulung Gulung di Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang. Berdasarkan lokasi penemuan, prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Singasari V. Naskah di prasasti ini ditatah dalam betu yang dibentuk menjadi lempengan, dibentuk gunungan di bagian atas dan diberikan ukiran relief pada bagian atas prasasti.
Pesan dalam prasasti menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Berdasarkan angka tahun, prasasti ini dikeluarkan pada hari Selasa, tanggal 9 sulapaksa, bulan Waisaka tahun 852 Saka, yang tepada pada tanggal 20 April tahun 929 Masehi.
Pemberian anugrah sima perdikan untuk sawah di Desa Gulung-Gulung ini berawal dari permohonan Rakai Hujung Pu Madura kepada Raja Medang, agar sawah yang sudah diberikan kepadanya dijadikan sebagai tanah perdikan. Selain memohon status sima perdikan bagi tanahnya, Rakai Hujung Pu Madhura juga mengajukan permohonan tambahan agar diberikan sebagian wilayah hutan yang terletak di bantaran sungai agar juga bisa dijadikan tanah sima/perdikan. Penambahan lahan dan permohonan status sebagai tanah sima/perdikan ini dimaksudkan agar tanah bisa digunakan untuk tempat bangunan suci, yaitu sang hyang mahaprasada di Desa Hemad. Pajak desa yang sebelumnya disetorkan ke kerajaan akan digunakan untuk memelihara bangunan suci, biaya pelaksanaan upacara dan biaya pengadaan persembahan berupa kambing dan aneka bahan makanan.

May 26, 2018

Gunung Penanggungan, Tempat Ditemukan Puluhan Bangunan Suci


Agus Wibowo

Gunung Penanggungan menjadi salah satu gunung paling disucikan di masa Kerajaan Kahuripan di abad 11 sampai masa kerajaan Majapahit yang berakhir di awal abad 16. Di gunung ini ditemukan tidak kurang dari 80 bangunan suci yang tersebar di berbagai titik lereng.  

Gunung Penanggungan
Gunung Penanggungan terletak di wilayah Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur. Gunung ini merupakan gunung berapi dengan ketinggian 1653 mdpl dan mempunyai bentuk yang unik karena puncaknya dikelilingi oleh 8 anak gunung, yang letaknya berselang seling. Delapan anak gunung yang mengelilingi Puncak Gunung Gunung Penanggungan adalah: Gunung Kemucup (1238 mdpl), Gunung Srahklapa (1235 mdpl), Gunung Bekel (1260 mdpl), Gunung Gajah Mungkur (1089 mdpl), Gunung Wangi (987 mdpl), Gunung Bende (1015 mdpl) Gunung Jambe 745 mdpl) dan Gunung Gambir (588).

Penelitian arkeologi di Gunung Penanggungan dimulai dengan penemuan kepurbakalaan di Selokelir oleh Broekvelt di tahun 1900. Pada tahun 1915, M. Lydie Melvile mengunjungi gunung ini dan menemukan beberapa bangunan kuno, sebuah arca, prasasti, dan beberapa batu umpak. Pada tahun 1921 De Vink mengunjungi daerah Gunung Bekel, dimana ia menemukan bekas pertapaan dan sebuah batu bertulis dengan angka tahun 1336 saka (14141). Pada tahun 1935 dan 1936, M.A. Gall dan Stuterheim mengadakan penelitian di daerah tertinggi Gunung Penanggungan.

Petirtaan Jolotundo dan Kisah Air Suci Amerta

Agus Wibowo

Petirtaan Jolotundo terletak di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Situs ini terletak di lereng barat Gunung Penanggungan pada ketinggian 525 mdpl, yang secara geografis berada dititik koordinat  7046’39” LS dan 112040’57” BT. Petirtaan ini dipugar pada tahun anggaran 1991/1992 sampai dengan 1993/1994 melalui proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.
Penelitian Candi Jolotundo telah dilakukan oleh beberapa ahli, antara lain Wardenaar pada tahun 1815 dengan melakukan penggalian dan menemukan peripih batu di tengah-tengah kolam yang berisi abu dan potongan emas dengan tulisan yang menyebut Dewa Isana dan Agni. Pada tahun 1838, Domais menemukan arca naga dan garuda di sudut kolam induk. Pada tahun 1840, beberapa ahli seperti Sieburgh, Yunhung, van Hoevel dan Brumund datang dan mendeskripsikan temuan yang ada. Pada tahun 1937, Stutterheim menemukan dan meneliti sebuah pancuran batu yang berbentuk silinder yang dianggap sebagai bagian puncak teras Jolotundo. Selain itu, Bosch meneliti arsitektur, seni hias dan relief Jolotundo. Pada tahun 1987, Soekartiningsih, seorang mahasiswi Arkeologi UGM membahas tentang pendiri dan fungsi petirtaan Jolotundo dalam skripsinya. Berdasarkan hasil penelitiannya, dapat disusun aspek arkeologis dan kesejarahan, serta fungsi Jolotundo.

May 12, 2018

Mpu Barada, Pembelah Kerajaan Kahuripan Menjadi Panjalu dan Jenggala


Agus Wibowo

Ilustrasi Serat Lontar
Mpu Barada adalah seorang resi, seorang brahmana legendaris dimasa Raja Erlangga berkuasa di Pulau Jawa di tahun 1040-an. Alkisah, di masa Kerajaan Kahuripan sudah menaklukkan kerajaan-kerajaan di timur Pulau Jawa dan perekonomian mengalami kemajuan pesat, penduduk Desa Girah di wilayah Kediri menderita karena adanya penyakit yang mematikan. Bisa diibaratkan pagi sakit sore mati, atau bomis –rebo sakit kemis wafat. Menurut penduduk, wabah yang dihadapi penduduk merupakan akibat dari tenung atau kutukan seorang janda ahli sihir yang bernama Calon Arang. Tenung disebar secara massal karena tidak ada laki-laki yang berani melamar anak gadisnya meskipun cantik dan ujungnya masyarakat mulai bergunjing soal putri Calon Arang yang perawan tua. Calaon Arang murka dan kutukanpun ditebar.
Melihat rakyatnya menderita, Raja Erlangga bertindak sigap dengan mengirim pasukan untuk minta sang janda dari Desa Girah menghentikan tenungnya, bila perlu dengan paksaan. Pengerahan pasukan militer tidak bisa menghentikan kemarahan Calon Arang, bahkan pasukan Kahuripan pun banyak yang menjadi korban.