December 27, 2016

7 Jenis Lebah Penghasil Madu

Agus Wibowo

Dari banyak jenis lebah yang ada di dunia, hanya ada 7 jenis lebah yang menghasilkan madu. Lebah-lebah ini hidup secara berkoloni, mengambil nectar dari bunga dan menyimpan madu di dalam sarangnya, yang kemudian dimanfaatkan oleh manusia. Dari 7 jenis lebah madu ada 6 jenis madu yang hidup di Indonesia, bahkan 5 jenis diantaranya merupakan lebah endemis Indonesia. Apa sajakah lebah-lebah tersebut? Simak penjelasanya berikut ini. Jenis pertama tidak ada di Indonesia dan jenis ketujuh, bukan asli lebah madu Indonesia, tapi kini banyak dibudidayakan di Indonesia.

October 03, 2016

Ekspedisi Pamalayu Membendung Ekspansi Pasukan Mongol

Gus Bowii

Kapal lewat Perairan Bangka Selatan
Abad 13 ditandai dengan ekspansi kekaisaran Mongol ke seluruh daratan Asia dan Eropa. Dari wilayah Gurun  Gobi di Utara wilayah China, Pasukan Mongol yang dipimpin Jenghis Khan bergerak ke Barat sampai Eropa, ke Barat Daya sampai Semenanjung Arab menghancurkan Kekhalifan Abassyah. Ke arah selatan mereka menembus kokohnya tembok China dan membangun Dinasti Yuan. Dinasti di bawah pimpinan Kubilai Khan terus merangsek ke tenggara menguasai wilayah Indochina.
Kertanegara yang berkuasa di Kerajaan Singasari memperhatikan pergerakan Pasukan Mongol atau Tentara Tar Tar dan melakukan langkah antisipasi. Pada tahun 1275, Sri Kertanegara mengirim ekspedisi Pamalayu, untuk menggalang kerajaan-kerajaan di wilayah Melayu untuk membangun koalisi menahan ekspansi Pasukan Mongol yang berkuasa di utara, di daratan China. Ekspedisi untuk membangun koalisi ini sempat menghadapi perlawanan dari Kerajaan Darmasraya, tapi kemudian misi membangun kerjasama antar-kerajaan di wilayah Nusantara ini meraih hasil. Hal ini membuat Kertanegara berani dengan tegas menolak dan mengusir utusan Pasukan Mongol yang datang menyampaikan pesan Kubilai Khan agar Singasari tunduk di bawah kekuasaan Dinasti Yuan di China.

September 09, 2016

Misteri Sumur Bandung dan Hari Jadi Kota Bandung


Prasasti Sumur Bandung
Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 wilayah Pulau Jawa memasuki babak baru yang damai, tidak ada peperangan perebutan kekuasaan antar para pewaris tahta Kerajaan Mataram yang selalu melibatkan VOC dalam peperangan. Situasi aman dan damai di Pulau Jawa dan wilayah lain di Nusantara ini berlangsung sampai memasuki awal abad 19, dan kerajaan-kerajaan yang ada maupun VOC tidak mengeluarkan banyak anggaran untuk membiayai peperangan. Tapi yang terjadi pada VOC sebagai perusahaan justru mengherankan –bukannya mengalami kemajuan malah menghadapi kebangkrutan. Hal ini terjadi karena dua hal: pertama, penyalahgunaan kekuasaan para pejabat VOC dan kedua, kekalangan Negara Belanda dalam perang melawan Perancis. Napoleon Bonaparte mengambil alih Negeri Belanda, dan membuat keputusan penting: “Membubarkan VOC pada 1 Januari 1800 dan Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih kekuasaan terhadap wilayah Indonesia (Hindia Belanda)".

September 07, 2016

Misteri Prapanca Penulis Negarakertagama


Salah satu bukti otentik dan sekaligus petunjuk tentang keberadaan Kerajaan Majapahit pada abad XIV adalah manuscrip di daun lontar yang kemudian dikenal sebagai Kitab Negarakertagama. Di kitab ini tertulis bahwa penulisnya adalah mpu Prapanca. Kitab yang ditulis di massa Raja Hayamwuruk ini memaparkan dan menjelaskan banyak hal tentang Kerajaan Majapahit, diantaranya tentang pendiri dan leluhur raja Majapahit, wilayah kekuasaan, struktur kekuasaan kerajaan dan lain-lain.

August 08, 2016

Mengapa 1000 Monarki?

Dari abad 5 sampai Indonesia Merdeka banyak kerajaan yang berkuasa di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Kepulauan Maluku bahka Papua. Di masa perjuagan kemerdekaan, beberapa kerajaan bahkan menjadi penopang awal Republik Indonesia, baik berupa dukungan finansial, aset kerajaan, jiwa-raga maupun dukungan politik. Kini ada beberapa kerajaan yang masih eksis, masih punya raja dan istana, dan kepemimpinannya diakui oleh masyarakat. Eksistensi paling kongkret adalah Kesultanan Yogyakarta, yang masih memiliki keistimewaan monarki sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satunya, raja Yogyakarta secara otomatis menjadi Gubernur Provinsi DI Yogyakarta.

July 10, 2016

Prasasti Sangguran yang terdampar di Britania Raya

Agus Wibowo

Prasasti Sangguran di Skotlandia
tempointeraktif.com 
Prasasti Sangguran mengabarkan bahwa Kerajaan Medang Wangsa Sanjaya sudah melakukan ekspansi ke Jawa Timur sebelum melakukan eksodus 10 tahun kemudian yang dipimpn oleh mPu Sindok. Prasasti ini mempunyai informasi yang saling melengkapi dengan Prasasti Pucangan yangdibuat oleh Erlangga pada tahun 1042. Sayangnya prasasti tersebut kini terdampar di perbatasan Skotlandia – Inggris. Setelah menerima hadiah dari Raffles, Lord Minto yang menjadi Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris di awal abad 19, membawa prasasti Sangguran ke kampung halamannya di Skotlandia. 

July 05, 2016

Pemberontakan Demak 1478 - 1498

Gus Bowii

Gerbang Majapahit dibawa sampai Pati
Setelah Perang Dua Majapahit dimenangkan oleh Girindrawardhana, putra Bre Kertabhumi yang menjadi Bupati Demak mendeklarasikan Demak sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kerajaan Majapahit. Kerajaan baru di pesisir utara Jawa ini berbentuk Kesultanan Demak, yang didukung oleh kekuatan muslim yang tumbuh pesat di pesisir utara Pulau Jawa, seperti Semarang, Lasem, Tuban dan Surabaya. Kesultanan Demak yang dipimpin Sultan Fatah menyatakan perang terhadap Majapahit yang ibukotanya sudah pindah ke Daha, dan telah menjadi lemah oleh perang saudara selama 10 tahun.

Pemberontakan Daha (Perang dua Majapahit) - 1468

Agus Wibowo

Prasasti Pamintihan
Meskipun dikalahkan oleh pemberontakan Bre Kertabhumi dan terusir dari istana di Trowulan, Singhawikramawardhana berhasil lolos dan sampai ke Istana Daha. Paman Bre Kertabhumi ini tetap mendeklarasikan diri sebagai raja Majapahit yang bertahta di Daha. Dalam periode 1468 sampai 1478 kerajaan Majapahit mempunyai dua Raja, yaitu Bre Kertabhumi yang berkedudukan di Istana Trowulan dan Singhawikramawardhana yang berkedudukan di Daha Kediri. Setelah selamat dari kejaran Pasukan Bre Kertabhumi dan membangun pemerintahan di Daha Kediri, Singhawikranawardhana sempat memberikan anugerah sima perdikan kepada sebuah desa di Kabupaten Bojonegoro, yaitu Desa Sendang Sedati. Anugerah ini diberikan untuk menghargai kesetiaan kepala desa yang diberikan dalam bentuk Prasasti Pamintihan berupa beberapa lempeng tembaga.
Singhawikramawardhana gagal merebut istana Majapahit di Trowulan dan gugur dalam perang pada tahun 1474. Tahta Majapahit di Daha diteruskan oleh putranya,  Girindrawardhana.

Pemberontakan Bre Wirabhumi (Perang Paregrek) - 1404

Gus Bowii

Selama 73 tahun sejak Pemberontakan Sadeng, Majapahit berada dalam masa damai di bawah pimpinan Ratu Tribuana Tungga Dewi dan Raja Hayamwuruk. Bersama Gajahmada sebagai Mahapatih, Majapahit bahkan meluaskan kekuasaan ke kerajaan-kerajaan lain di wilayah nusantara, termasuk ke Sumatera, semenanjung Malaka, Kalimantan, Sulawesi sampai pulau-pulau di timur Nusantara sampai Papua. Pemberontakan terjadi lagi di Majapahit setelah Hayamwuruk wafat.  

Hayamwuruk mempunyai seorang Putri dari permaisuri yaitu Kusumawardhani dan seorang putra dari selir yaitu Bre Wirabhumi yang berkuasa di Blambangan. Dewan Kerajaan Majapahit memutuskan Kusumawardhani sebagai penerus Hayamwuruk dan mengangkat suaminya Wikramawardhana sebagai raja Majapahit –Wikramawardhana juga merupakan keponakan Hayamwuruk.  

Karena tidak puas dengan keputusan istana, Bre Wirabhumi memberontak. Dia merasa punya hak atas tahta Majapahit karena statusnya sebagai anak Hayamwuruk meskipun dari selir. Dia merasa lebih berhak daripada Wikramawardhana yang berstatus sebagai suami putri sulung Hayamwuruk. Pemberontakan ini menjadi perang besar yang dikenal sebagai Perang Paregreg, yang dikenal sebagai perang antara istana barat di  Trowulan dengan istana timur di Bambangan. Perang Paregreg berakhir pada tahun 1406 setelah Bre Wirabhumi tewas di Blambangan.

Peristiwa Perang Paregreg ini dikisahkan menjadi Legenda Damarwulan. Dalam legenda ini, disebutkan bahwa Ratu Kencana Ungu yang berkuasa di Majapahit menghadapi pemberontakan Minakjinggo yang menjadi penguasa Blambangan. Ratu Kencana Ungu kemudian dibantu oleh seorang pemuda bernama Damarwulan yang akhirnya berhasil mengalahkan Minakjinggo setelah berhasil mencuri senjata andalannya Gada Besi Kuning. Damarwulan kemudian menikahi Ratu Kencana Ungu dan menjadi Raja Majapahit. Selain memperistri ratu Kencana Wungu, Damarwulan diceritakan juga menikahi istri-istri Minakjinggo yang berjasa dengan menghianati raja jahat dari timur yang menganggu ratu baik di Majapahit.

Pemberontakan Darmaputra Ra Kuti dan Ra Tanca – 1319

Gus Bowii

Pemberontakan yang dilakukan oleh dua orang Darmaputra kepercayaan Raden Wijaya ini terjadi setelah pendiri Majapahit tersebut wafat dan digantikan oleh putranya Jayanegara. Salah satu penyebabnya adalah karena para Darmaputra ini merasa diperlakukan tidak sebaik pada saat Raden Wijaya berkuasa. Salah satu Darmaputra Ra Kuti mewujudkan ketidaksukaannya terhadap Jayanegara melalui pemberontakan dan menyebarluaskan desas-desus bahwa Raja Jayanegara telah berlaku tidak sopan dan berbuat tidak senonoh kepada istrinya dan perempuan lain di istana. Ra Kuti mendapatkan dukungan cukup besar, bahkan berhasil menguasai Istana Majapahit.
Jayanegara berhasil diselamatkan oleh kepala pasukan pengawal raja, Gajahmada, dengan dibawa melarikan diri sampai wilayah Matahun (Bojonegoro) dan sembunyi di Desa Badander. Setelah melakukan penggalangan pejabat dan keluarga raja, Gajahmada bisa mengakhiri Pemberontakan Kuti dan Jayanegara kembali menjadi Raja Majapahit. Atas jasanya menyelamatkan Raja Jayanegara dan menumpas Ra Kuti, Gajahmada diangkat menjadi Patih Daha yang berkedudukan di Kediri.
Padamnya pemberontakan Ra Kuti tidak memadamkan pembangkangan oleh para Darmaputra. Ra Tanca, Darmaputra yang ahli pengobatan justru membunuh Jayanegara pada saat berusaha mengobati sang raja di peraduannya. Ra Tanca langsung dibunuh oleh Gajahmada yang mengetahui tindakannya membunuh raja. Skandal ini terjadi sembilan tahun setelah pemberontakan Kuti.
Mengapa Ra Tanja membunuh raja? Pararaton mengisahkan bahwa Ra Tanca marah karena mendengar cerita dari istrinya bahwa Jayanegara melarang adiknya yang menjadi raja Daha untuk tidak menikah, karena ingin memperistri adiknya tersebut. Gajahmada yang menjadi Patih Daha merasa kesal juga mendengar cerita tersebut. Begitu mendapat kabar Jayanegara sakit, keluarga raja datang ke Istana Trowulan, Gajahmada mengiring Ratu Daha. Gajahmada kemudian usul agar raja diobati oleh Ra Tanca. Menurut Pararaton, Gajahmada mengetahui apabila mendapatkan kesempatan Ra Tanca akan membunuh raja.


July 03, 2016

Pemberontakan Lembu Nambi – 1316

Gus Bowii

Pemberontakan Nambi bermula dari perjalanannya mengunjungi orang tuanya Sang Pranaraja, yang berkuasa di wilayah timur Majapahit berpusat di Lumajang. Pemberian wilayah otonom ini merupakan bagian dari perjanjian antara Raden Wijaya dengan Aria Wiraraja sebagai imbalan apabila penguasa Sumenep tersebut bisa membantu Raden Wijaya mengalahkan Jayakatwang. Aria Wiraraja berhasil meyakinkan Jayakatwang untuk mengijinkan Raden Wijaya membuka Hutan Tarik sebagai kawasan berburu. Para putra Aria Wiraraja menjadi pasukan Raden Wijaya dan berhasil mengalahkan Jayakatwang, mengusir Tentara Mongol, sampai mendirikan Kerajaan Majapahit di wilayah hutan Tarik di Trowulan.

Sesampai di Lumajang, Aria Wiraraja yang sakit keras sudah meninggal. Nambi memutuskan tinggal lebih lama dan mengirim utusan ke Majapahit untuk menyampaikan kabar. Sri Jayanegara, pengganti Raden Wijaya yang juga baru meninggal, mengirim utusan untuk menyampaikan bela sungkawa. Nambi ternyata tinggal di Lumajang lebih lama lagi, sehingga memunculkan kecurigaan di Majapahit, sampai beredar kabar bahwa Nambi membangun kekuatan untuk memberontak kepada Majapahit.

Raja Jayanegara akhirnya mengirim pasukan yang dipimpin Mahapati untuk menumpas Pemberontakan Nambi. Meskipun melakukan perlawanan pasukan dan basis kekuatan Nambi di istana lumajang dihancurkan.

Peristiwa yang terjadi di tahun 1316 ini, menurut Pararaton merupakan hasil rekayasa pejabat kepercayaan Jayanegara, yaitu Mahapati. Kunjungan Patih Nambi ke Lumajang adalah usulan Mahapati yang memberi tahu bahwa Jayanegara kurang suka dengan dengan Nambi –tidak seperti Raden Wijaya yang baru digantikannya. Keputusan Nambi menambah cuti juga atas usulan Mahapati waktu menjadi utusan Majapahit untuk menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Aria Wiraraja. Ulah Mahapati juga yang menyampaikan laporan kepada Jayanegara bahwa Nambi akan melakukan pemberontakan, sampai Jayanegara memutuskan untuk menumpas pemberontakan Nambi dan menunju Mahapati sebagai pemimpin pemberontakan.

Setelah penumpasan pemberontakan Nambi, Mahapati diangkat menjadi Mahapatih Majapahit menggantikan Nambi. Dalam prasasti Tuhanyaru (1323) diketahui setelah tewasnya Nambil, yang menggantikannya adalah Mahapati dengan gelar Dyah Halayudha. ***


Pemberontakan Lembu Sora – 1301

Gus Bowii

Enam tahun setelah Pemberontakan Ranggalawe, kondisi Majapahit tenteram tanpa gejolak. Hal ini karena Pembunuhan Mahisa Anabrang oleh Lembu Sora menjadi rahasia dan tidak ada yang berani mengungkit. Mahisa Taruna, anak Mahisa Anabrang, yang masih kecil dijadikan anak angkat oleh permaisuri Rajapadni dan tinggal di Istana Majapahit. Baru di tahun 1301, skandal yang terjadi di Kali Tambak Beras tersebut mulai menjadi desas-desus di istana. Anak Mahisa Anabrang yang mulai besar mulai bertanya-tanya tentang ayahnya, dan ada yang menyampaikan peristiwa pembunuhan ayahnya oleh Lembu Sora.  

Mahisa Taruna atau Adityawarman yang makin sering bertanya-tanya membuat desas desus tentang pelanggaran etika oleh Lembu Sora semakin besar. Pelaku pembunuhan Mahisa Anabrang dari belakang oleh anggota pasukan sendiri, menurut kitab Kutaramanawa, bisa dikenakan hukuman mati. Mengetahui kondisi yang makin panas, Raden Wijaya memanggil Lembu Sora yang makin terpojok. Lembu Sora yang menjadi Patih di Daha akhirnya datang ke Istana Wilwatikta bersama pasukan.

Hanya saja, kedatangan Lembu Sora bersama rombongan pasukanya besar ini dicurigai sebagai pemberontakan. Sesampai di gerbang istana, Lembu Sora disambut pasukan pengawal istana yang menyatakan bahwa Raja tidak mau menerima Lembu Sora. Terjadi perselisihan yang cepat berkembang menjadi pertempuran di depan istana. Lembu Sora dan pasukannya tewas ditumpas oleh pasukan istana.

Kitab Pararaton mulai menyebut peran Mahapatih yang berperan penting dalam peristiwa Lembu Sora. Dikisahkan bahwa dialah yang mulai membuka rahasia dan menyebarluaskan pembunuhan Mahisa Anabrang oleh Lembu Sora secara curang. Mahapati pula yang memberitahu Mahisa Taruna atau Adityawarman sehingga terus bertanya kepada ibunya yang merupakan adik istri Raden Wijaya dan juga kepada ibu angkatnya yang merupakan permaisuri raja. Disebutkan bahwa Mahapati pula yang menyampaikan kepada Raden Wijaya bahwa Lembu Sora berniat memberontak, sehingga diputuskan untuk menumpas di depan istana.***


Pemberontakan Ranggalawe – 1295

Gus Bowii

Di tahun ketiga sejak didirikan, Majapahit menghadapi pemberontakan pertama, yaitu pemberontakan Ranggalawe, Adipati Tuban. Pemberotakan ini dipicu oleh rasa kecewa Ranggalawe kepada Raden Wijaya, karena mengangkat Lembu Nambi sebagai Mahapatih Majapahit. Pembagian posisi atau jabatan di Majapahit setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang di Daha dan mengusir tentara Mongol, menunjukkan pembagian jabatan kepada Aria Wiraraja dan anak-anaknya, yaitu: mPu Nambi sebagai Mahapatih Majapahit, Lembu Sora sebagai Patih Daha, Ranggalawe menjadi Adipati Tuban dan Pesangguhan di istana Majapahit –bersama Aria Wiraraja yang menjadi penguasa wilayah timur Majapahit yang berpusat di Tuban.
Menurut Ranggalawe, orang yang lebih layak menjadi Mahapatih di Majapahit adalah Lembu Sora. Banyak pengikut Ranggalawe malah berpendapat bahwa yang pantas menjadi Mahapatih di Majapahit adalah Ranggalawe, mengingat jasa-jasanya mengalahkan panglima perang utama Jayakatwang. Versi kelompok ini bahkan dituangkan dalam Kidung Panji Wijayakrama bahwa Ranggalawe yang menjadi Mahapatih di Majapahit. Ranggalawe menyampaikan ketidakpuasannya kepada Rajasa Jayawardhana dengan keras di istana Majapahit, tapi bisa diatasi oleh kakaknya Lembu Sora yang meminta Ranggalawe untuk pulang ke Tuban untuk berunding dengan ayahnya –Aria Wiraraja.
Kepulangan Ranggalawe ke Tuban sambil membawa kemarahan berkembang menjadi desas-desus bahwa Ranggalawe akan melakukan pemberontakan. Dalam sidang militer akhirnya diputuskan bahwa Ranggalawe melakukan makar dan harus dihadapi dengan operasi militer. Pada tahun 1295, Kerajaan Majapahit mengirimkan pasukan yang dipimpin Mahisa Anabrang untuk menghadapi pemberontakan Ranggalawe. Pasukan Ranggalawe menyambut pasukan Majapahit dan terjadi pertempuran di Kali Tambak Beras, di wilayah Gresik saat ini. Pertempuran ini melibatkan dua orang panglima yang sama-sama terkenal di Majapahit, yaitu: (1) Ranggalawe yang menjadi panglima dalam perang melawan pasukan Jayakatwang dan  pengusiran pasukan Mongol melawan (2) Mahisa Anabrang yang menjadi panglima dalam pasukan ekspedisi Pamalayu yang berhasil memenangkan kerjasama dari Raja Dharmasraya Mauliwarmadewa.

Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan Pasukan Majapahit begitu Mahisa Anabrang mengalahkan Ranggalawe dalam pertempuran di sungai. Tapi kemenangan pasukan Majapahit ini berakhir tragis karena Mahisa Anabrang tewas dibunuh Lembu Sora dari belakang.*** 

Rahasia Prasasti Wringin Pitu


Prasasti Wringin Pitu menuliskan negara bawahan Majapahit yang lebih banyak daripada yang dijelaskan di dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh mPu Prapanca. Prasasti ini juga belum menyebut adanya Bre Kertabhumi yang melakukan pemberontakan pada tahun 1466 dan menjadi raja dengan gelar Brawijaya V.
Prasasti Wringin Pitu dibangun pada tahun 1369 Saka atau 1447 Masehi, di masa Majapahit dipimpin oleh raja ke-8, Dyah Kertawijaya. Dialah raja pertama yang di Pararaton disebut menggunakan gelar Brawijaya. Pembangunan prasasti ini dimaksudkan untuk pengukuhan perdikan Dharma Rajasakusumaputra di Wringin Pitu yang sudah ditetapkan oleh neneknya, Sri Rajasaduhiteswari. Prasasti ini dinamakan Wringin Pitu karena dianugerahkan untuk desa yang terletak di Kabupaten Tulungagung, tapi prasasti ini dikenal juga bernama Prasasti Surondakan karena ditemukan di desa Surondakan Kabupaten Trenggalek.

July 01, 2016

Prasasti Bukit Gombak tentang Raja Swarnabhumi Kelahiran Majapahit




Gus Bowii


Di Sumatera Barat ditemukan beberapa prasasti yang dibuat oleh Adidtyawarman, yang tinggal di negeri Swarnabhumi, salah satunya adalah Prasasti Pagaruyung I. Prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Bukit Gombak, sesuai nama tempat ditemukannya, yaitu Bukit Gombak yang berada di wilayah Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Prasasti ini dibuat dari batu putih kuarsa yang ditulis dengan huruf Jawa Kuno pada  tahun 1278 saka (wasur mmuni bhuja sthalam) atau tahun 1357 masehi. Prasasti Bukit Gombak ini juga dilengkapi dengan prasasti Adityawarman lainnya, yaitu Prasasti Pagaruyung II sampai Prasasti Pagaruyung VIII. Bedanya  dengan yang lain, Prasasti Bukit Gombak ini menyebutkan nama pembuat prasasti, yaitu Mpungku Dharmma Dwaja bergelar Karuna Bajra.

June 28, 2016

Misteri Keris Tunggu Kasur

Awal Muharram, saya numpang mobil seorang teman senior dalam perjalan dari Jalan Raden Patah di belakang Mabes Polri menuju ke Jalan Saharjo dekat Tugu Pancoran. Teman saya, sebut saja inisialnya RM HS ini adalah seorang PNS yang bekerja di Kementerian Perumahan Rakyat dan Departemen Pekerjaan Umum. Di luar profesinya sebagai PNS, pria kelahiran Madiun Jawa Timur ini adalah guru silat dari perguruan silat terkenal, yang banyak pengikutnya di beberapa daerah di sekitar Gunung Lawu.
Sebagai orang Jawa yang memegang teguh nilai dan budaya Jawa, teman senior saya ini mempunyai keahlian khusus orang Jawa, yaitu merawat dan membersihkan keris. Dia menyimpan banyak keris, dan di rumahnya banyak keris dipajang di ruang tamu dan ruang-ruang lain, bahkan ada lemari khusus untuk menyimpan keris. Menurutnya, keris-keris tersebut bukan miliknya semua, malah lebih banyak yang merupakan titipan dari pemilik atau pewarisnya. Setidaknya ada dua alasan orang menitipkan keris, pertama titip untuk dijual apabila ada yang cocok dan berminat dan kedua, pewaris yang menitipkan keris karena tidak tahu harus diapakan. Kelompok kedua ini menitipkan keris ada yang karena merasa sudah tidak jamannya, malas merawat, perasa tidak nyaman, atau menganggap keris sebagai benda klenik yang harus dijauhi. Semua keris yang dititipkan ke dia diberikan tanda tulisan tentang pemilik dan pewarisnya, agar mudah jika sewaktu-waktu mau diambil kembali.
Di tahun baru menurut Kalender Jawa atau tahun baru Hijriyah, yaitu di bulan Muharam atau bulan Suro, keris yang ada di rumahnya makin banyak, karena ada orang minta tolong dicucikan keris. Mereka ini merupakan kalangan masyarakat yang mau menyimpan keris tapi tidak sempat atau tidak tahu cara merawat keris sebagaimana layaknya keris diperlakukan agar tidak rusak, tampilannya tetap bagus. “..dan auranya baik,” katanya.
Di tengah kemacetan jalan Gatot Subroto, saya pun bertanya untuk menjaga situasi tetap santai, “Pak, sebenarnya keris itu apa sih? Katanya ada keris sakti..”
Sejenak diam berpikir, dia memberi jawaban sambil terus mengemudi.
“Pertama, kalo kita lihat benda yang tampak berbentuk keris, sebenarnya belum tentu keris, Mas. Bisa jadi itu keris-kerisan bisa juga memang keris keneran,” dia menjawab dengan yakin, tapi saya tidak ngerti apa maksudnya keris-kerisan.
“Maksudnya Pak?” tanyaku.
“Keris-kerisan itu,” lanjutnya “...hanya logam biasa yang dibentuk seperti keris, runcing, meliuk-liuk, tapi tidak ada pamornya, logamnya tidak ditempa berlapis-lapis dan berlipat-lipat. Malah ada yang berupa lempengan seng yang digunting berbentuk keris”.
Selanjutnya dia menjelaskan dengan panjang-lebar:
“Sederhananya, keris bisa dilihat dari logam bahannya. Ada paduan logam utama dan logam pamornya. Pamornya bisa berupa nikel, logam yang berasal dari meteor, maupun titanium. Logam disusun berlapis, ditempa, dilipat, ditempa lagi sampai ratusan kali sampai membetuk garis corak hasil perpaduan warna logam.”
Dia menjelaskan dengan mantap sambil nyetir, terkesan bercanda tapi tidak Nampak tersenyum.
“Nah, keris yang benar-benar keris ini juga ada dua jenis,” lanjutnya tiba-tiba dan tentu saja membuat saya penasaran.
Pertama, keris untuk gaya, yang fungsinya sebagai simbul reputasi, menunjukkan kelas sosial pemiliknya. Ya.. kalo sekarang ibarat sedan mercy-lah, simbolkan kelas sosial atas, yang bonafit, kredibel. Keris model begini logamnya bagus, pamornya berkelas, kadang dilapisi emas, ditatahkan batu permata jamrud, safir bahkan berlian. Pada masa Kerajaan dulu keris diberikan corak khusus yang menandakan lisensi kerajaan. Pemiliknya bisa dianggap kaya, punya kuasa, atau dipercaya orang yang sedang berkuasa. Jadi pemiliknya mempunyai reputasi atau ‘awu’ yang kuat.” 
Dia berhentik sejenak, lalu saya bertanya lagi “Kalau keris yang konon punya kesaktian bagaimana pak?”
“Soal keris yang dianggap sakti, beda lagi ceritanya,” katanya. “Dalam proses pembuatannya, si pembuat memasukkan energi ke dalam keris pada saat penempaan dan pelipatan logam.”
Aku sedikit penasaran tapi tidak tanya, “Energi apa yang dimasukkan dan bagaimana memasukkanya”.
“Energi yang dimasukkan tergantung kepada yang memesan keris, apa posisinya dan berapa biayanya.” Dia melanjutkan seolah tahu pertanyaan saya. Kali ini dia sambil senyum.
“Kalo seorang kopral dengan anggaran terbatas, energi yang dimasukkan adalah aura berani tempur, lincah, kuat dan mungkin juga kebal, karena memang itu yang dibutuhkan oleh orang di dalam pertempuran.  Jika yang memesan adalah Kapolres, beda lagi energinya. Apalagi keris yang dipesan oleh seorang jenderal yang posisinya tinggi dan punya anggaran ‘cukup’. Energi yang diinstal adalah auranya berpikir strategis, ngobrolnya cerdas, terpercaya, berwibawa, kawan terkesima dan anak buah patuh dengan instruksinya.”
Tapi di sini ada bahayanya mas,” katanya membuat saya kembali menyimak. “...yang bahaya adalah Jenderal yang punya keris seorang prajurit tempur. Pangkatnya jenderal, posisi panglima, tapi auranya pingin tempur terus, mikirnya tidak strategis, dan kalo anak buah menghadapi kesulitan dia malah ingin maju tempur sendiri. Mungkin energi yang dimasukkan adalah energy buaya, jadi auranya buaya.. he he.”
Saya ikut tertawa, jadi ingat “Truno 3” kawannya Anggodo, jangan-jangan salah nyimpan keris milik seorang brigadir yang beraura buaya.
Lucu juga penjelasan kawan RM HS ini. Saya jadi ingat seorang teman, teman asal Solo, yang ngaku punya keris “tunggu kasur”. Teman saya yang dikenal teman-teman sebagai bangsawan dam tinggal di dalam benteng ini pernah memberi tahu bahwa keris ini berfungsi menemani pemiliknya dalam melakukan aktivitas di atas kasur.
Kali ini saya iseng bertanya “Ada teman saya orang Solo yang punya keris tunggu kasur. Apakah bapak tahu tentang keris tunggu kasur?”
Dia menoleh sejenak sambil tersenyum tengil, “Wah, yang itu saya tidak tahu mas. Tanya saja langsung pada pemiliknya”.

Tentu saja saya tidak puas dengan jawaban teman saya ini. Saya juga tidak tahu apakah dia benar-benar tidak tahu ataukah sebenarnya tahu tapi tidak mau menjawab. Bagaimana pun, seperti umumnya keris, keris tunggu kasur tetaplah menjadi misteri.*** 

Berburu Senja di Kaimana




Banyak orang sering mendengar ungkapan “Senja di Kaimana” yang konon begitu indah, tapi yang saya alami sebaliknya –senja tertutup mendung dan justru Kehujanan di Kaimana yang saya dapatkan. Kisah ini terjadi awal Juni 2009. Singkat kisah, berhubung tokoh utama yang diharapkan berhalangan datang, saya pun jadinya on duty untuk hadir dalam acara di Kabupaten Kaimana Papua Barat. Waktunya sangat mepet dan sebenarnya punggung masih pegal-pegal sisa perjalanan darat selama 21 Jam di Aceh karena gagal naik Susi Air –dari Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Barat, Meulaboh, menyeberangi hutan ke Pidie, Lhok Seumawe sampai ke Aceh Timur.

Membongkar Rantai Kemiskinan

Gus Bowii

Dalam 10 tahun terakhir, komitmen negara untuk mengentaskan kemiskinan membesar secara signifikan. Dari aspek anggaran komitmen pemerintah RI untuk upaya ini sangat tinggi, dari tahun 2004 sampai 2011, alokasi untuk pengentasan kemiskinan meningkat drastis sebesar 400%. Hanya saja besarnya anggaran tersebut tidak diimbangi penurunan angka kemiskinan, dalam periode yang sama angka kemiskinan di Indonesia hanya turun sebesar 3,37%. Kuat diduga target Milenium Development Goal untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia menjadi sebesar 7,5% di tahun 2015 tidak akan tercapai.

Gagal Empati pada Korupsi?

Gus Bowii

Makin kuatnya upaya pemberantasa korupsi di Indonesia sepertinya tidak lantas mengurangi  atau menurunkan tingkat korupsi di Indonesia. Pengungkapan kasus-kasus korupsi dan penangkapan koruptor yang makin banyak dan level pelaku yang makin tinggi posisinya, ternyata diikuti juga dengan tetap banyaknya kasus korupsi baru. Baik di level daerah maupun di level nasional, di kalangan eksekutif maupun legislatif, bahkan di kalangan penegak hukum: jaksa, hakim yang menangani kasus korupsi, dan kepolisian dengan kasusnya terkini “Pengadaan Simulator SIM”.

Gus Dur & Sosok Supra Human

Gus Bowii

Serat Pararaton menceritakan masa kecil Ken Arok sebagai anak Dewa Brahma, bukan sekedar titisan. Al kisah, suatu hari sewaktu sang Brahma melayang-layang melihat seorang perempuan muda mencuci di kali. Ada sesuatu yang memancar, menarik perhatian dan Brahma pun mendarat. Singkat cerita, terjadilah proses pembuahan itu dan lahirlah Ken Arok sebagai hasilnya. Dilahirkan sebagai anak dewa, logika kehebatan Ken Arok sudah ditentukan sejak dalam kandungan. Bahwa masa kecilnya pernah dibesarkan seorang maling yang mengasah ketajamannya, menjadi pemimpin perampok di masa muda dan menjadi murid Begawan Lohgawe lantas menjadi sekedar pelengkap kisah pengembangan kapasitas. 

Mitos Seputar Bulan Suro

Gus Bowii

Pertengahan Oktober 2015 terjadi 2 kali tahun baru, yaitu tahun baru Kalender Hijriah pada 14 Oktober 2015 dan tahun baru Kalender Jawa pada 15 Oktober 2015. Bagi masyarakat Islam datangnya tahun baru disambut dengan suka cita, terutama karena tahun baru Hijriah identik dengan Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah yang menjadi awal keberhasilan dan kejayaan syiar Islam. Kegembiraan lain juga datang dari adanya hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Berdasarkan tradisi Arab, bahkan sebelum Islam, hari Asyura atau hari ke-10 bulan Muharram diperingati sebagai hari suka cita. 

Parodi Jaman Batu dan Kejayaan Akik

Gus Bowii

Dalam babak sejarah manusia dikenal masa yang disebut sebagai Jaman Batu, yaitu suatu masa di mana manusia mempunyai teknologi tercanggih untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan teknologi yang terbuat dari batu. Peralatan yang terbuat dari batu digunakan untuk mata tombang untuk berburu, pisau untuk memotong daging, kampak unuk menebang pohon, pipisan untuk menggiling atau menumbuk biji-bijian, dan lain-lain. Selain teknologi batu, manusia juga membuat peralatan dari kayu, tulang dan tanduk binatang dan lainnya.

Ekspansi Mongol dan Hari Jadi Kota Surabaya

Agus Wibowo


Di abad 13, Bangsa Mongolia berubah cepat menjadi kekuatan militer yang kuat, ekspansif dan mendunia. Negeri China yang dilindungi tembok besar sepanjang  21.196,18 km bisa ditaklukkan. Di tahun 1214, Dinasti Jin yang berkuasa di Beijing menyerah dan bersedia menjadi koloni Mongol di bawah kepemimpinan Jenghis Khan.  Kaisar Jin menyerahkan seorang puteri untuk diperistri Jenghis Khan, 500 bocah laki-laki dan perempuan, 3000 kuda, dan 10.000 gulungan sutra. Setelah menaklukkan China di arah Timur, Jenghis Khan melanjutkan ekspansi ke negara-negara di sisi Barat. Tahun 1219 M, Jenghis Khan membawa 200.000 pasukannya bergerak ke Khawarezm di sebelah Barat melalui Transoxiana.  Ia berhasil menduduki kota-kota yang makmur seperti Bukhara dan Samar Khand dan membunuh semua penduduknya sebagai pembalasan dendam. Kemudian mereka berangkat ke kota-kota lainnya hingga korban tewas mencapai jutaan jiwa. Pembantaian ini dilakukan karena penguasa Kerajaan Khawarism Syah Muhammad menolak takluk, bahkan membunuh utusan Jenghis Khan yang dianggap sebagai mata-mata.  

Prasasti Sunda Kelapa dan Hari Jadi Jakarta

Agus Wibowo

Di awal abad 16, pesisir utara Pulau Jawa banyak dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Islam yang berkembang cepat setelah pudarnya kerajaan Majapahit. Di sebelah timur dan tengah pelabuhan-pelabuhan dibawah kendali KeKesultanan Demak, di sisi bagian tengah sampai barat dikuasai Kesultanan Cirebon, dan di Ujung Barat Pulau Jawa pelabuhan-pelabuhan dikuasai Kesultanan Banten. Dari sedikit pelabuhan yang belum dikuasasi oleh kerajaan Islam adalah Sunda Kelapa di muara Kali Ciliwung. Sunda Kelapa masih dibawah kontrol kekuasaan Kerajaan Sunda yang berpusat di pedalaman, di hulu Kali Ciliwung, di Bogor sekarang.

Untuk tetap mempertahankan akses ekonomi ke Laut Jawa, Kerajaan Sunda berupaya memperkuat Sunda Kelapa, agar tidak jatuh ke poros Demak-Cireon-Banten. Mendapat informasi bahwa ada kekuatan besar yang berkuasa di Malaka, Raja Sri Baduga mengutus Pangeran Surawisesa untuk melakukan kontak dan lobi untuk membangun kekuatan militer di Sunda Kelapa. Kekuatan Militer Portugis yang berkuasa di Semenanjung Malaka terterik untuk bekerjasama dengan Kerajaan Sunda. Jika Kerajaan Sunda punya kepentingan untuk mempertakankan akses ekonomi ke Laut Jawa, Portugis berkepentingan untuk menjamin mendapat akses perdagangan lada dari timur nusantara menuju Selat Malaka melalui Laut Jawa.

Pendirian Kerajaan Majapahit dalam Prasasti Kudadu

Gus Bowii

Di tahun 1290 Kerajaan Singasari berada di puncak kejayaannya. Dipimpin Raja Kertanegara, kerajaan yang berpusat di Kediri Jawa Timur ini menyatukan dua Kerajaan di Jawa Timur dan memimpin kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dalam satu koalisi untuk menaklukkan Kerajaan di Bali dan menguatkan kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Setelah mengusir utusan dari Kerajaan Mongol yang meminta Singasari menjadi negara bawahan, Singasari melakukan misi militer dan diplomatik besar-besaran ke wilayah Melayu. Sri Kertanegara percaya diri bahwa upayanya ke sisi barat nusantara ini bisa menghadang kekuatan dari utara, dari Kerajaan Mongol yang mungkin menuntut balas.

Sayangnya mobilisasi kekuatan militer besar-besaran ini menciptakan kelemahan militer di pusat kerajaan. Jayakatwang dari Gelang Gelang yang belum lama mendapatkan pengampunan dari Raja Kertanegara melakukan serangan cepat langsung ke istana kerajaan berhasil melumpuhkan kekuatan militer yang tersisa, berhasil membunuh Raja Kertanegara dan para pembesar kerajaan yang tinggal di pusat kerajaan. Salah satu keponakan Raja Kertangera, Sangrama Wijaya, berhasil melarikan diri dan selamat sampai Pulau Madura dan mendapatkan perlindungan dari penguasa Sumenep, Aria Wiraraja. Keberhasilan ini berkat pertolongan pimpinan dan warga Desa Kudadu. Setelah beberapa hari diburu pasukan Jayakatwang, rombongan ia lolos dari buruan karena disembunyikan, diberi pasokan makanan, dan dikawal sampai mendapatkan jalan aman sampai ke Sumenep.

Penguasa Sumenep, Aria Wiraraja, memberikan perlindungan kepada Sangrama Wijaya, memintakan ampun kepada Jayakatwang, hingga mendapatkan ijin membuka hutan Tarik di Trowulan, dimana ia bisa mengkonsolidasi kekuatan sisa-sisa Singasari. Dengan “memanfaatkan” Pasukan Mongol yang hendak menuntuk balas kepada Sri Kertanegara, ia berhasil mengalahkan Jayakatwang, dan setelah mengusir pasukan Mongol dengan tipu muslihan dan gerilya, ia mendirikan Kerajaan Majapahit di Trowulan. Ia ditahbiskan menjadi Raja Majapahit dengan gelar “Kertarajasa Jayawardhana Anantawikramottunggadewa“. Sejarah mengenalnya sebagai Raden Wijaya.

Atas jasa-jasa pemimpin Desa Kudadu, Raden Wijaya memberikan penghargaan (anugrah) kepada pejabat dan masyarakat Desa Kudadu, dengan menetapkan  Desa Kudadu sebagai sīma atau tanah perdikan untuk dinikmati oleh pejabat Desa Kudadu dan keturunan-keturunannya sampai akhir zaman. Dengan menjadi Sima, pejabat desa berhak mengambil manfaat dari tanah yang dikuasainya tanpa dipungut pajak oleh kerajaan, baik untuk pertanian, memanen buah dan kayunya dan lain-lain. Penetapan Desa Kudadu sebagai Sima ini dilakukan pada 11 September 1294 melalui Prasasti Kudadu, yang dipahat dalam beberapa lempeng tembaga dengan tulisan aksara Kawi Majapahit.

Prasasti Kudadu ditemukan di lereng Gunung Butak yang masuk dalam jajaran Pegunungan Putri Tidur yang terletak di wilayah perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. Prasasti yang juga dikenal sebagai Prasasti Butak ini, selain menetapkan Desa Kudadu sebagai Sima, juga menuliskan kisah heroik pimpinan Desa Kudadu yang memberikan persembunyian, makan-minum, sampai ke Ramban, tempat di mana Raden Wijaya dan rombongannya, termasuk Ranggalawe, Nambi, Lembu Sora dan lain-lain melanjutkan pelarian sampai ke Sumenep dengan selamat.

Prasasti Kudadu menjadi bukti tentang proses transisi dari Kerajaan Singasari sampai terbentuknya Kerajaan Majapahit, situasi konflik dan gambaran relasi kehidupan masyarakat desa dengan pembesar kerajaan. Prasast ini juga memberikan konfirmasi tentang kebenaran kisah tentang Kerajaan Majapahit yang ditulis oleh Prapanca dalam Negara Kertagama pada lembar-lembar daun lontar. Pemimpin dan warga Desa Kudadu memberikan perlindungan kepada Raden Wijaya dan mereka memanen anugrah yang layak.***

Prasasti Pucangan, Dokumen Kerajaan Kahuripan yang Terdampar di Kalkuta

Agus Wibowo

Tepat di hari bahagia menyambut pernikahan putri Raja Dharmawangsa dengan Airlangga Putra Raja Udhayana, istana Kerajaan Medang mendapatkan serangan dari utara. Serangan tiba-tiba oleh pasukan Kerajaan Warawuri yang didukung Kerajaan Sriwijaya ini membuat istana Kerajaan Medang hancur. Serang yang terjadi satu tahun setelah serangan Kerajaan Medang ke Kerajaan Sriwijaya ini menewaskan Raja Dharmawangsa. Airlanggaberhasil menyelamatkan diri dan melarikan diri ke hutan bersama pengawalnya.

Sembilan Pemberontakan di Masa Majapahit

Agus Wibowo

Kerajaan Majapahit dikenal sebagai kerajaan maritim besar di Indonesia, dan memiiki rentang kekuasaan sampai seluruh pulau di wilayah nusantara. Dari ujung barat sampai ke Aceh, semenanjung Malaka, bersekutu dengan kerajaan-kerajaan di Thailand, Vietnam dan Kamboja. Di Utara pengaruh kekuasaan Majapahit sampai ke Kepulauan Zulu di Selatan Philipina dan di ujung Timur sampai ke Papua. Di balik kebesaran Majapahit sebenarnya banyak terjadi pemberontakan, baik di masa awal pendirian di tahun 1293 maupun pasca kekuasaan Hayamwuruk hingga runtuhnya pemerintahan terakhir yang berpusat di Daha Kediri oleh pemberontakan Demak pada tahun 1512.

Model Suksesi Masa Majapahit yang Dilematis

Gus Bowii

Kerajaan Majapahit dikenal dan dikenang karena kekuasaan dan pengaruhnya yang besar di wilayah Nusantara.  Di wilayah Jawa Bagian Timur sampai Jawa Tengah,  kerajaan bawahan yang dipimpin oleh saudara dan kerabat raja. Di luar Pulau Jawa, Kerajaan Majapahit di bawah duet Patih Gajahmada dan Raja Hayamwuruk, berhasil  menyatukan kerajaan-kerajaan di wilayah nusantara untuk menjaga kedaulatan bersama dan menjamin keamanan jalur perdagangan laut dari perairan Maluku, Laut Jawa, Selat Malaka sampai Laut Cina Selatan.

Tiga Pewaris Tahta yang Mendirikan Kerajaan Sendiri

Gus Bowii

Dalam sejarah kerajaan di Indonesia, ada tiga pearis tahta yang memilih untuk tidak megambil hak warisnya. Tiga tokoh dalam sejarah monarkhi nusantara tersebut adalah Airlangga, Sangrama Wijaya dan Raden Patah. Airlangga adalah pewaris tahka Kerajaan Bali, tapi memilih mendirikan Kerajaan Kahuripan yang kemudian dipecah menjadi Kerajaan Kediri dan Jenggala. Sangrama Wijaya adalah pewaris tahta Kerajaan Sunda yang memilih tingga di Singasari kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit. Raden Patah adalah putra Bre Kertabumi yang menjadi Raja Majapahit Timur –Raja Majapait Pertama yang bergelar Brawijaya. Perebutan Kekuasaan yang terjadi di Majapahit membuat Raden Patah dan Pendukungnya mendirikan Kerajaan Demak untuk konsolidasi entitas muslim di pesisir utara Pulau Jawa.

Republik 1000 Monarki

Indonesia kini menjadi salah satu negara berbentuk republik dengan level demokrasi yang cukup baik, setidaknya diakui oleh negara lain dan jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, maupun Afrika. Warga negara mempunyai hak dan ruang yang besar untuk terlibat dalam menentukan arah politik negara. Rakyat bisa memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat secara langsung, baik di MPR RI, DPR RI, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota. Mulai tahun 2005, rakyat Indonesia memilih kepala negara secara langsung.