October 16, 2017

Bujangga Manik, Pangeran Sunda Perintis Travel Jurnalism Indonesia

Agus Wibowo

Naskah Bujangga Manik (sunda.andyonline.net)
Orang pertama yang menempuh perjalanan keliling Pulau Jawa dengan berjalan kaki, tidak terbantahkan adalah Bujangga Manik. Dia adalah seorang pangeran dari Kerajaan Sunda bernama Prabu Jaya Pakuan, yang  tinggal di komplek istana di Pakuan Pajajaran -Bogor saat ini. Meskipun seorang ksatria, Bujangga Manik lebih memilih kehidupan sebagai seorang resi Hindu. Lebih tidak bisa dibantah lagi bahwa dia yang melakukan “perjalanan keliling Pulau Jawa” dan membuat catatan atas perjalanannya tersebut. Catatan perjalanan Bujangga Manik ditulis  pada 29 lembar daun nipah, yang masing-masing terdiri dari 56 baris –totalnya 1.624 baris. Hanya saja catatan perjalanan Bujangga Manik ini tersimpam di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford.

Perjalanan keliling Pulau Jawa ini dilakukan dua kali, bisa dikatakan perjalanan pertama gagal karena Bujangga Manik kembali pulang karena tiba-tiba ingat dan merindukan ibunya begitu sampai di Pemalang  (Jawa Tengah). Dari Pemalang dia pulang naik kapal laut berbendera Malaka, mendarat di Sunda Kelapa (Jakarta sekarang) lalu melanjutkan perjalanan ke Bogor. Di perjalanan kedua, Bujangga Manik sampai di Ibukota Kerajaan Majapahit, lalu melanjutkan perjalanan ke arah timur ke Gunung Penanggungan yang memiliki banyak tempat suci, sampai ke ujung timur Pulau Jawa di Banyuwangi kemudian menyeberang ke Pulau Bali.

Dari catatannya yang berupa syair naratif, bisa diketahui bahwa perjalanan Bujangga Manik yang legendaris ini berawal dari rasa penasarannya terhadap terjadinya Perang Bubat, Penasaan terhadap Kerajaan Majapahit dan juga terhadap munculnya Demak di Pantai Utara Pulau Jawa. Dari kutipannya terhadap cerita ibunya sepulang dari perjalanan pertama, bisa diketahui bahwa Bujangga Manik pamit ke Ibunya untuk pergi belajar mencari ilmu ke Candi Penataran di Blitar yang di masa itu merupakan salah satu pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan pusat pendidikan bagi kaum kesatria di Majapahit.

Bujangga manik tidak menulis waktu perjalanan dilakukan dan kapan perjalanannya dituliskan. Dari beberapa nama kerajaan yang disebut, yaitu Majapahit, Demak dan Malaka serta peristiwa Perang Bubat, bisa diketahui bahwa perjalanan ini dilakukan pada saat Kerajaan Majapahit masih ada Kerajaan Demak sudah berdiri, yaitu di akhir abad 15 atau awal abad 16. Dalam hal ini Raden Patah diangkat oleh Raja Majapahit Bre Kertabhumi menjadi Bupati Glagah Wangi yang kemudian diganti namanya menjadi Demak. Kesultanan Demak dideklarasikan pada tahun 1478 setelah Bre Kertabhumi , ayah Raden Patah, tewas dalam perang saudara melawan Majapahit lain yang beristana di Daha Kediri. Jarak waktunya satu abad lebih dari Perang Bubat yang terjadi pada tahun 1351.

Peta Perjalanan Bujangga Manik (Denys Lombard)
Dalam catatan perjalanannya, Bujangga Manik menyebut nama tempat banyak sekali, seperti nama sungai, nama gunung, nama daerah, tempat penyeberangan sungai dan lain-lain yang jumlahnya mencapai 450 nama tempat. Banyak nama tempat yang masih dipakai sampai saat ini, ada nama tempat yang berubah tapi bisa dikonfirmasi dari kitab lain, ada ada juga tempat yang disebut oleh Bujangga Manik yang belum dikenali. Beberapa nama tempat yang namanya masih dikenal sampai saat ini diantaranya adalah Kali Cipamali di Brebes, Pamalang, Kali Cipakancilan di Bogos, (Sunda) Kelapa, Demak dan lain-lain. Nama-nama tempat yang ditulis dengan sebutan berbeda dengan yang dikenal saat ini, diantaranya adalah: Rabut Palah untuk Candi Penataran kini, Gunung Damalung yang kini dikenal sebagai Gunung Merbabu, Sungai Cihaliwung yang kini dikenal sebagai Sungai Ciliwung, Bukit Ageung untuk menyebut Gunung Gede dan lain-lain.    

Dari naskah Bujangga Manik, diketahui sedikit penjelasan tentang jalan hidup yang dipilihnya. Sewaktu pulang dari perjalanan pertamanya, dikisahkan ada seorang putri yang jatuh hati padanya, yaitu  putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana. Dia kisahkan bahwa Sang Putri merasakan jatuh cinta setelah mendapatkan laporan dari pesuruhnya, bahwa dia melihat  “pria yang sangat tampan, ... lebih tampan daripada Banyak Catra atau Silih Wangi, ... Lebih dari itu, pria itu pintar membuat sajak dalam daun lontar serta bisa berbahasa Jawa. putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana, menunjukkan ‘rasa’ dengan memberikan “hadiah ... yang terdiri dari berbagai perlengkapan mengunyah sirih, ... juga menambahkan koleksi wangi-wangian yang sangat mahal berasal dari luar negeri, juga baju dan sebuah keris yang indah".

Meskipun ibunya ikut meyakinkan, Bujangga Manik meminnta ibunya mengembalikan hadiah tersebut dan dia lebih suka untuk hidup sendiri,  menjaga ajaran yang dia terima selama perjalanannya ke Tanah Jawa, serta kembali melakuka perjalanan lebih lama ke ujung timur Pulau Jawa. Disampaikannya kepada ibunya agar disampaikan ke sang Putri bahwa “dia akan pergi lagi ke timur, ke ujung timur pulau Jawa untuk mencari “tempat nanti dia dikuburkan”, "laut untuk hanyut”, suatu tempat untuk “merebahkan tubuhnya".

Setelah sempat tinggal beberapa lama di Pulau Bali, Bujangga Manik kembali ke Istana di Pakuan, kemudian melanjutkan peran sebagai resi di Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. Di bagian akhir catatannya, Bujangga Manik yang mempunyai nama pena Ameng Layaran membuat catatan sampai akhir hayatnya, bahkan sampai proses perjalanan setelah mati. Tentu saja catatan akhir ini bukanlah sesuatu yang sudah dialaminya, melainkan proses perjalanan kihidupan sesudah mati yang ideal untuk mencapai Nirwana.

Meskipun begitu, catatan Bujangga Manik memberikan informasi yang cukup lengkap dandetil tentang nama tempat, cara berpakaian, bagaimana situasi dalam pelayaran di atas kapal dan lain-lain. Catatannya bisa dikatakan merupakan karya jurnalistik, atau tepatnya travel journalism yang memberikan gambaran nama tempat atau situs, lokasi, dan cara mencapainya. Tidak berlebihan apabila Bujangga Manik dinobatkan sebagai Tokoh Travel Jurnalism Indonesia –selain berbagai gelar lain yang sangat pantas disematkan kepadanya.***