October 21, 2017

Cincin Keris yang Unik dan Berpamor

Agus Wibowo


Pertama kali tahu ada teman menggunakan cincin yang disebutnya cincin keris saya pun penasaran. Cincin ini berbentuk seperti cincin biasa, tanpa batu, warna hitam dan ada garis-garis lembut warna putih seperti serat. Ini model yang langka, dan di jaman sedang ngetop-ngetopnya cincin batu akik, saya makin tertarik pada cincin keris ini.

Usut punya usut ternyata yang memproduksi adalah seorang teman yang tinggal di Ponorogo, yang hidup di kalangan para Warok. Saya pun berminat untuk memesan satu cincin keris dan, gayung bersambut, sebenarnya saya juga termasuk orang yang akan dikasih karena status saya sebagai teman kakak tertuanya. Cocok sudah, “Pucuk dicinta ulam tiba” kata pepatah Melayu atau “Mobok Manggih Gorowong” kata peribahasa Sunda.
Sebelum saya sempat meminta, adik kawan saya ini memberikan penjelasan tentang Cincin Keris. Katanya cincin keris dibuat dari bahan keris atau logamnya dibuat dengan cara membuat logam untuk keris. Bahannya tidak main-main, terdiri dari beberapa logam dengan bahan utama besi kualitas terbaik sehingga tidak mudah berkarat. Logam lain bisa berupa nikel maupun dari logam yang terbawa oleh meteor yang jatuh ke bumi. Besi bersama nikel atau meteorit ditempa berkali-kali, dilipat, dibakar dan ditempa lagi sehingga membentuk corak tertentu. Nah, corak tertentu yang dihasilkan dari proses pelipatan dan penempaan ini disebut sebagai “pamor”. 


Ada beberapa jenis pamor, diantaranya beras wutah, ngulit semangka, pulo tirta, udan mas, ron genduru, blarak sinered, dan untu walang. Masing-masing pamor mempunyai tingkat kesulitan teknis tersendiri, dan ada konsekuensi biaya pembuatan yang harus ditanggung oleh pemesan. Untuk mengantisipasi calon pemakai yang kulitnya over-sensitif terhadap besi, di bagian dalam cincin dilapisi perak yang anti karat, karena berstatus logam mulia seperti emas.
Kepada saya juga dijelaskan bahwa dia dan sejawatnya membuat cincin keris ini salah satu tujuannyanya adalah untuk melestarikan warisan leluhur tentang teknologi pengolahan logam yang ada di nusantara. Tujuan lain banyak, salah satunya untuk menghadirkan keris dalam bentuk lain, baik rupa pamornya, makna esensinya maupun tuahnya. Berkaitan dengan ini, cincin keris hanya dibuat untuk pemesannya, bukan dibuat untuk secara umum untuk dijajakan di pasar, dan untuk dipakai oleh siapa saja. Pakem produksinya tetap sama seperti pembuatan keris, yaitu sesuai dengan tujuan pemesannya. Proses pembuatan cincin disertai dengan doa-doa yang dibacakan sampai proses finishing yang bertujuan untuk menghadirkan keberuntungan bagi pemiliknya, serta ketajaman pikir dan lain-lain. 
Doa-doanya sangat menarik, tapi bagi saya tampilan cincin besi dengan pamor keris ini sudah sangat mempesona. Keris yang bagi saya sebelumnya merupakan senjata serta berkesan mistik dan harus diperlakukan dengan penuh hikmat, dalam bentuk cincin, bisa digunakan seperti cincin biasa. Setidaknya bisa menjadi alternatif selain memakai cincin bertahta berlian, batu permata, cincin akik atau cincin baja bermotif tengkorak.
Bagi saya, inisiatif pembuatan cincin keris ini layak diapresiasi, baik untuk pelestariannya, revitalisasinya maupun upaya menghadirkannya. Salam 1000monarki.***