June 28, 2016

Model Suksesi Masa Majapahit yang Dilematis

Gus Bowii

Kerajaan Majapahit dikenal dan dikenang karena kekuasaan dan pengaruhnya yang besar di wilayah Nusantara.  Di wilayah Jawa Bagian Timur sampai Jawa Tengah,  kerajaan bawahan yang dipimpin oleh saudara dan kerabat raja. Di luar Pulau Jawa, Kerajaan Majapahit di bawah duet Patih Gajahmada dan Raja Hayamwuruk, berhasil  menyatukan kerajaan-kerajaan di wilayah nusantara untuk menjaga kedaulatan bersama dan menjamin keamanan jalur perdagangan laut dari perairan Maluku, Laut Jawa, Selat Malaka sampai Laut Cina Selatan.
Terlepas dari kejayaan kerajaan yang berpusat di tepian daerah aliran sungai Brantas di Kabupaten Mojokerto ini sering menghadapi kerumitan dalam proses suksesi kekuasaan. Sukses kekuasaan berjalan mulus bisa dikatakan terjadi pada tahun 1350, yaitu pelimpahan kekuasaan dari Ratu Tribuana Tunggadewi kepada putranya Hayamwuruk. Suksesi pertama setelah Raden Wijaya wafat sempat menjadi masalah karena Raden Wijaya hanya mempunyai anak perempuan dari permaisuri Rajapadni. Akhirnya dipilih Jayanegara yang merupakan putra Raden Wijaya dari istri seorang Putri Kerajaan Melayu sebagai Raja Majaphit.
Jayanegara menghadapi dua kali pemberontakan dari dalam istana. Pertama, pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti yang membuatnya sampai harus dibawa mengungsi oleh Gajahmada ke Desa Badander dan kedua, penghianatan Ra Tanca yang berujung pada pembunuhan terhadap Jayanegara. Ra Tanca melakukan pembunuhan karena marah mendengar Jayanegara punya maksud ingin menikahi adik tirinya –Tribuana Tunggadewi dan Rajadewi Maharajasa. Karena sepak terjangnya yang membuat ketidaktenteraman di Istana Majapahit, Jayanegara juga dijuluki sebagai Kalagemet.
Karena Jayanegara tidak mempunyai penerus, tahta Majapahit kemudian diserahkan kepada Ibu Suri,Rajapadni, yang kemudian memerintah Majapahit bersama putrinya Tribuana Tunggadewi. Rajapadni pada tahun 1328 memutuskan menjadi biksuni dan Tribuana Tunggadewi menjadi Ratu Majapahit seutuhnya. Tribuana Tunggawewi kemudian menyerahkan tahta kepada Hayamwuruk setelah berusia 16 tahun. Hayamwuruk berkuasa selama 39 tahun sampai tahun 1389, kemudian Majapahit kembali masuk dalam kerumitan suksesi.
Dari permaisurinya, Hayamwuruk mempunyai seorang putri (Kusumawardhani dan punya seorang putra dari istri selir, yaitu Bre WIrabhumi. Sebagai pengganti Hayamwuruk, Dewan Raja Majapahit memutuskan Putri Kusumawardhani  sebagai penerus Hayamwuruk, tapi kemudian justru suaminya Pangeran Wikramawardhana yang naik tahta menjadi Raja Majapahit. Bre Wirabbhumi yang merasa punya hak atas tahta Kerajaan Majapahit marah marah dan melakukan pemberontakan dari Blambangan, dimana Bre Wirabhumi menjadi raja. Pemberontakan ini menjadi perang besar yang dikenal sebagai Perang Paregreg. Perang ini berlangsung selama satu tahun dan berakhir dengan kemenangan Wikramawardhana pada tahun 1406.
Wikramawardhana memerintah Majapahit selama 20 tahun setelah Perang Paregreg dan menghadapi kerumitan suksesi. Karena tidak mempunyai seorang Putra Mahkota, akhirnya Dewi Suhita yang merupakan putri dari selir menjadi Ratu Majapahit. Ratu Suhita selama 21 tahun memerintah pada tahun 1426 sampai 1447. Ratu Suhita digantikan oleh adiknya, Kertawijaya, yang berkuasa selama 4 tahun, kemudian Majapahit dipimpin oleh Rajasawardhana yang memerintah selama 2 tahun dari Istana Kahuripan di Sidoarjo, sampai wafat pada tahun 1453.
Sepeninggal Rajasawardhana yang hanya berkuasa selama 2 tahun, para elit Kerajaan Majapahit menghadapi situasi rumit untuk menentukan raja berikutnya. Dalam tiga tahun Kerajaan Majapahit tidak mempunyai raja. Hal ini terjadi karena putra Rajasawardhana, Pangeran Kertabhumi masih anak-anak dan  Rajasawardhana mempunyai dua adik laki-laki, yaitu Girisawardhana yang menjadi Bre Wengker yang berkuasa di Madiun dan Singhawikramawardhana yang menjadi penguasa Tumapel di Singasari. Dewan Raja Majapahit akhirnya menunjuk adik Rajasawardhana, yaitu Girisawardhana, yang menjadi Bre Wengker di Madiun, yang berkuasa selama 10 tahun dan wafat pada tahun 1466.
Dewan Raja Majapahit kembali dihadapkan pada dilema karena ada dua orang yang mempunyai hak atas tahta Majapahit, yaitu Singhawikramawardhana (adik Girisawardhana) dan Bre Kertabhumi yang merupakan Putra Rajasawardhana. Dewan Raja Majapahit akhirnya memilih Singhawikramawardhana menjadi Raja Majapahit. Hal ini membuat Bre Kertabhumi marah, dan segera melakukan pemberontakan. Karena mendapatkan dukungan yang kuat sebagai Putra Mahkota Majapahit, Bre Kertabhumi berhasil merebut kekuasaan dan mengangkat dirinya menjadi Raja Majapahit pada tahun 1468.
Singhawikramawardhana berhasil menyelamatkan diri dan membangun kembali kekuasaannya di Daha Kediri, dan tetap mengangkat dirinya sebagai Raja Majapahit. Dalam 10 tahun, Kerajaan Majapahit mempunyai dua pusat kekuasaan, yaitu Istana Trowulan dan Istana Daha Kediri. Pada tahun 1474 Singhawikramawardhana meninggal dunia dan digantikan oleh putranya, Girindrawardhana, yang mewarisi juga peperangan dengan Bre Kertabhumi. Di tahun Sirna Ilang Kertaning Bhumi (1400 saka) atau 1478 masehi, Girindrawardhana memenangkan perang dan Bre Kertabhumi tewas.
Girindrawardhana berhasil menyatukan kembali Majapahit, tapi peperangan tidak berakhir melainkan hanya bergeser ke utara. Putra Bre Kertabhumi, Raden Patah, yang menjadi Bupati di Demak mendeklarasikan Kesultanan Demak dan dia diangkat menjadi penguasa dengan gelar Sultan Fatah. Kerajaan Islam di Pulau Jawa ini langsung menyatakan perang kepada Majapahit. Perang Kerajaan Majapahit dengan Kesultanan Demak ini berlangsung sampai 20 tahun dan berakhir dengan tewasnya Girindrawardhana pada tahun 1498. Putra Girindrawardhana, Patih Udara, diampuni oleh Sultan Fatah dan diangkat menjadi Bupati Daha. Hal ini dimaksudkan untuk mengakhiri konflik antar-pewaris tahta Majapahit, karena putra Girindrawardhana bagaimanapun memiliki ikatan saudara.
Patih Udara sempat melakukan pemberontakan setelah Sultan Fatah wafat, tapi berhasil ditumpas oleh Dipati Unus pada tahun 1518 masehi. Eksistensi Kerajaan Majapahit pun berakhir, dan legitimasinya berpindah ke Kesultanan Demak yang didirikan oleh Putra Bre Kertabhumi, yang bergelar Brawijaya V.
Konflik perebutan tahta melemahkan kekuatan politik dan militer Majapahit. Di sisi lain, komunitas muslim berkembang pesat di pesisir utara Pulau Jawa di Semarang, Demak, Tuban dan Ampel. Berkembangnya komunitas muslim ini terjadi berkat dukungan ekspedisi laut Dinasti Ming yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho dari tahun 1405 sampai 1433. Kekuatan muslim ini kemudian terintegrasi dalam Kesultanan Demak.***