June 28, 2016

Ekspansi Mongol dan Hari Jadi Kota Surabaya

Agus Wibowo


Di abad 13, Bangsa Mongolia berubah cepat menjadi kekuatan militer yang kuat, ekspansif dan mendunia. Negeri China yang dilindungi tembok besar sepanjang  21.196,18 km bisa ditaklukkan. Di tahun 1214, Dinasti Jin yang berkuasa di Beijing menyerah dan bersedia menjadi koloni Mongol di bawah kepemimpinan Jenghis Khan.  Kaisar Jin menyerahkan seorang puteri untuk diperistri Jenghis Khan, 500 bocah laki-laki dan perempuan, 3000 kuda, dan 10.000 gulungan sutra. Setelah menaklukkan China di arah Timur, Jenghis Khan melanjutkan ekspansi ke negara-negara di sisi Barat. Tahun 1219 M, Jenghis Khan membawa 200.000 pasukannya bergerak ke Khawarezm di sebelah Barat melalui Transoxiana.  Ia berhasil menduduki kota-kota yang makmur seperti Bukhara dan Samar Khand dan membunuh semua penduduknya sebagai pembalasan dendam. Kemudian mereka berangkat ke kota-kota lainnya hingga korban tewas mencapai jutaan jiwa. Pembantaian ini dilakukan karena penguasa Kerajaan Khawarism Syah Muhammad menolak takluk, bahkan membunuh utusan Jenghis Khan yang dianggap sebagai mata-mata.  

Setelah Jenghis Khan meninggal dunia di tahun 1227, kekuasaan Monggolia dikendalikan oleh anak cucunya. Di pusat Monggolia ada Kaisar Munk Khan, di Timur mulai dari China ada Kubilai Khan yang paling terkenal dan mendirikan Dinasti Yuan di Daratan Cina. Di Barat ada Hulagu Khan yang melebarkan kekuasaan sampai Eropa dan Timur Tengah. Dari Khawarism, Pasukan Hulagu Khan terus memperluas ekspansi sampai ke Eropa, kemudian bergerak ke Timur Tengah. Pada 12 Muharam 656 H Hulagu Khan mulai mengepung pusat kekuasaan Khalifah Mu’tashim di Bagdad.

Di masa pengepungan, Hulagu Khan memberikan tawaran yang terdiri dari beberapa poin, antara lain: (1) Menghentikan peperangan dan diganti dengan hubungan bilateral yang saling menguntungkan, (2) Mu’tashim Billah tetap menjadi khalifah dan Penduduk Baghdad tanpa terkecuali dijamin keamanannya, (3) Hendaknya Baghdad menghancurkan benteng Irak, menimbun kembali parit-parit, dan menyerahkan persenjataan, (4) Baghdad menjadi koloni kerajaan Mongol. Singkat cerita, di tahun 1258 Dinasti Abbasyah pun runtuh setelah 500 tahun lebih berkuasa, dan Mu’tashim menjadi Khalifah terakhirnya. Kota Bagdad dihancurkan, perpustakaan dimusnahkan dan ratusan ribu penduduk dibunuh.

Di sisi Timur, Kubilai Khan terus melakukan penaklukan sampai menguasai seluruh Daratan Cina dan mendirikan Dinasti Yuan. Ekspansi besar-besaran juga dilakukan ke Asia Tenggara bahkan sampai ke Kerajaan Singasari di Tanah Jawa. Ambisi Kubilai Khan ini harus berhadapan dengan ambisi Raja Kertanegara yang ingin membangun kekuatan armada laut untuk mendominasi jalur perdagangan laut dalam wi wilayah nusantara. Kertanegara sedang membangun diplomasi dengan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur dan Kerajaan Melayu di Jambi. Utusan Tentara Mongol yang datang ke Singasari pada tahun 1289, diperlakukan dengan kasar oleh Kertanegara. Apa yang dilakukan oleh Kertanegara ini serupa dengan yang dilakukan Penguasa Khawarism Syah Muhammad –yang kemudian Pasukan Mongol membantai seluruh penduduknya sebagai balasan.

Di tengah kesibukannya membangun kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di Sumatera dalam Ekspedisi Pamalayu, Kerajaan Singasari mendapatkan serangan tidak terduga dari Jayakatwang yang menjadi Bupati Gelang-Gelang. Jayakatwang yang merupakan keturunan, Raja Kediri yang dikalahkan oleh Ken Arok, Kertajaya, mengambil kesempatan ketika Singasari mejadi lemah karena ditinggalkan pasukan terbaik yang melakukan ekspedisi ke Sumatera. Dalam serangan tak terduga oleh saudara iparnya ini, Kertanegara gugur, dan Jayakatwang menegakkan kembali Kerajaan Kediri.

Belum lama Jayakatwang berkuasa di Kediri, Pasukan Khubilai Khan mendarat di Pulau Jawa untuk menuntut balas pada Kertanegara. Tentara Tar Tar di bawah pimpinan ... ini gagal menemukan Istana Kerajaan Singasari yang telah dihancurkan oleh Jayakatwang. Raden Wijaya dan pengikutnya yang membuka permukiman di hutan Tarik melihat pergerakan Pasukan Mongol di perairan Kali Brantas datang menawarkan bantuan untuk menemukan dan memerangi Raja Jawa. Pasukan Mongol dan Pasukan Raden Wijaya berhasil menemukan Istana Jayakatwang di Gelang-Gelang, menggempurnya sampai hancur dan Jayakatwang pun gugur.

Ketika sedang berpesta merayakan kemenangan di permukiman yang dibangun di Hutan Tarik, pasukan pengikut Raden Wijaya melakukan penyerangan terhadap pimpinan Pasukan Mongol yang mabuk kemenangan. Penyerangan terhadap Pasukan Mongol terus dilakukan melalui pembakaran kapal yang bersandar di Kali Brantas dan melalui taktik gerilya dari huta-hutan yang ada di sekeliling Kali Brantas. Setelah kehilangan banyak kapal dan banyak yang terbunuh, Pasukan Mongol akhirnya pergi meninggalkan Pulau Jawa pada 31 Mei 1293. Tidak seperti ekspansi Mongol ke Timur Tengah yang berhasil gemilang, ekspansi ke Asia Tenggara di Kepulauan Nusantara gagal total.  

Terusirnya Pasukan Mongol yang pergi melalui muara Sungai Mas di Surabaya ini diperingati sebagai hari kelahiran Kota Surabaya. Kedatangan Pasukan Mongol yang masuk Kali Brantas melalui Kali Mas ini disimbulkan dengan pertarungan Ikan Hiu dengan Buaya. Ikan Hiu atau “Sura”merupakan simbol yang merepresentasikan Pasukan Monggol yang datang dari laut sedangkan buaya atau “Baya” merupakan simbol pasukan pribumi pengikut Raden Wijaya. Hari jadi Kota Surabaya bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Majapahit yang dideklarasikan oleh Raden Wijaya sebagai kelanjutan dari Kerajaan Singasari.***