June 28, 2016

Misteri Keris Tunggu Kasur

Awal Muharram, saya numpang mobil seorang teman senior dalam perjalan dari Jalan Raden Patah di belakang Mabes Polri menuju ke Jalan Saharjo dekat Tugu Pancoran. Teman saya, sebut saja inisialnya RM HS ini adalah seorang PNS yang bekerja di Kementerian Perumahan Rakyat dan Departemen Pekerjaan Umum. Di luar profesinya sebagai PNS, pria kelahiran Madiun Jawa Timur ini adalah guru silat dari perguruan silat terkenal, yang banyak pengikutnya di beberapa daerah di sekitar Gunung Lawu.
Sebagai orang Jawa yang memegang teguh nilai dan budaya Jawa, teman senior saya ini mempunyai keahlian khusus orang Jawa, yaitu merawat dan membersihkan keris. Dia menyimpan banyak keris, dan di rumahnya banyak keris dipajang di ruang tamu dan ruang-ruang lain, bahkan ada lemari khusus untuk menyimpan keris. Menurutnya, keris-keris tersebut bukan miliknya semua, malah lebih banyak yang merupakan titipan dari pemilik atau pewarisnya. Setidaknya ada dua alasan orang menitipkan keris, pertama titip untuk dijual apabila ada yang cocok dan berminat dan kedua, pewaris yang menitipkan keris karena tidak tahu harus diapakan. Kelompok kedua ini menitipkan keris ada yang karena merasa sudah tidak jamannya, malas merawat, perasa tidak nyaman, atau menganggap keris sebagai benda klenik yang harus dijauhi. Semua keris yang dititipkan ke dia diberikan tanda tulisan tentang pemilik dan pewarisnya, agar mudah jika sewaktu-waktu mau diambil kembali.
Di tahun baru menurut Kalender Jawa atau tahun baru Hijriyah, yaitu di bulan Muharam atau bulan Suro, keris yang ada di rumahnya makin banyak, karena ada orang minta tolong dicucikan keris. Mereka ini merupakan kalangan masyarakat yang mau menyimpan keris tapi tidak sempat atau tidak tahu cara merawat keris sebagaimana layaknya keris diperlakukan agar tidak rusak, tampilannya tetap bagus. “..dan auranya baik,” katanya.
Di tengah kemacetan jalan Gatot Subroto, saya pun bertanya untuk menjaga situasi tetap santai, “Pak, sebenarnya keris itu apa sih? Katanya ada keris sakti..”
Sejenak diam berpikir, dia memberi jawaban sambil terus mengemudi.
“Pertama, kalo kita lihat benda yang tampak berbentuk keris, sebenarnya belum tentu keris, Mas. Bisa jadi itu keris-kerisan bisa juga memang keris keneran,” dia menjawab dengan yakin, tapi saya tidak ngerti apa maksudnya keris-kerisan.
“Maksudnya Pak?” tanyaku.
“Keris-kerisan itu,” lanjutnya “...hanya logam biasa yang dibentuk seperti keris, runcing, meliuk-liuk, tapi tidak ada pamornya, logamnya tidak ditempa berlapis-lapis dan berlipat-lipat. Malah ada yang berupa lempengan seng yang digunting berbentuk keris”.
Selanjutnya dia menjelaskan dengan panjang-lebar:
“Sederhananya, keris bisa dilihat dari logam bahannya. Ada paduan logam utama dan logam pamornya. Pamornya bisa berupa nikel, logam yang berasal dari meteor, maupun titanium. Logam disusun berlapis, ditempa, dilipat, ditempa lagi sampai ratusan kali sampai membetuk garis corak hasil perpaduan warna logam.”
Dia menjelaskan dengan mantap sambil nyetir, terkesan bercanda tapi tidak Nampak tersenyum.
“Nah, keris yang benar-benar keris ini juga ada dua jenis,” lanjutnya tiba-tiba dan tentu saja membuat saya penasaran.
Pertama, keris untuk gaya, yang fungsinya sebagai simbul reputasi, menunjukkan kelas sosial pemiliknya. Ya.. kalo sekarang ibarat sedan mercy-lah, simbolkan kelas sosial atas, yang bonafit, kredibel. Keris model begini logamnya bagus, pamornya berkelas, kadang dilapisi emas, ditatahkan batu permata jamrud, safir bahkan berlian. Pada masa Kerajaan dulu keris diberikan corak khusus yang menandakan lisensi kerajaan. Pemiliknya bisa dianggap kaya, punya kuasa, atau dipercaya orang yang sedang berkuasa. Jadi pemiliknya mempunyai reputasi atau ‘awu’ yang kuat.” 
Dia berhentik sejenak, lalu saya bertanya lagi “Kalau keris yang konon punya kesaktian bagaimana pak?”
“Soal keris yang dianggap sakti, beda lagi ceritanya,” katanya. “Dalam proses pembuatannya, si pembuat memasukkan energi ke dalam keris pada saat penempaan dan pelipatan logam.”
Aku sedikit penasaran tapi tidak tanya, “Energi apa yang dimasukkan dan bagaimana memasukkanya”.
“Energi yang dimasukkan tergantung kepada yang memesan keris, apa posisinya dan berapa biayanya.” Dia melanjutkan seolah tahu pertanyaan saya. Kali ini dia sambil senyum.
“Kalo seorang kopral dengan anggaran terbatas, energi yang dimasukkan adalah aura berani tempur, lincah, kuat dan mungkin juga kebal, karena memang itu yang dibutuhkan oleh orang di dalam pertempuran.  Jika yang memesan adalah Kapolres, beda lagi energinya. Apalagi keris yang dipesan oleh seorang jenderal yang posisinya tinggi dan punya anggaran ‘cukup’. Energi yang diinstal adalah auranya berpikir strategis, ngobrolnya cerdas, terpercaya, berwibawa, kawan terkesima dan anak buah patuh dengan instruksinya.”
Tapi di sini ada bahayanya mas,” katanya membuat saya kembali menyimak. “...yang bahaya adalah Jenderal yang punya keris seorang prajurit tempur. Pangkatnya jenderal, posisi panglima, tapi auranya pingin tempur terus, mikirnya tidak strategis, dan kalo anak buah menghadapi kesulitan dia malah ingin maju tempur sendiri. Mungkin energi yang dimasukkan adalah energy buaya, jadi auranya buaya.. he he.”
Saya ikut tertawa, jadi ingat “Truno 3” kawannya Anggodo, jangan-jangan salah nyimpan keris milik seorang brigadir yang beraura buaya.
Lucu juga penjelasan kawan RM HS ini. Saya jadi ingat seorang teman, teman asal Solo, yang ngaku punya keris “tunggu kasur”. Teman saya yang dikenal teman-teman sebagai bangsawan dam tinggal di dalam benteng ini pernah memberi tahu bahwa keris ini berfungsi menemani pemiliknya dalam melakukan aktivitas di atas kasur.
Kali ini saya iseng bertanya “Ada teman saya orang Solo yang punya keris tunggu kasur. Apakah bapak tahu tentang keris tunggu kasur?”
Dia menoleh sejenak sambil tersenyum tengil, “Wah, yang itu saya tidak tahu mas. Tanya saja langsung pada pemiliknya”.

Tentu saja saya tidak puas dengan jawaban teman saya ini. Saya juga tidak tahu apakah dia benar-benar tidak tahu ataukah sebenarnya tahu tapi tidak mau menjawab. Bagaimana pun, seperti umumnya keris, keris tunggu kasur tetaplah menjadi misteri.***