October 24, 2017

Misteri Saat Petruk Menjadi Raja

Agus Wibowo


Petruk Paling Jangkung dalam Keluarga Punakawan
Alkisah gemparlah para bangsawan dan raja di kerajaan Astina, Amarta, dan Dwarawati. Entah darimana tiba-tiba muncul kerajaan baru Sonyawibawa dengan raja baru yang menyandang gelar seperti sebaris mantra “Belguelbeh Tongtongsot”. Dia berhasil membangun koalisi atau persekongkolan dengan Batara Guru, rajanya para dewa, dan membuat keonaran dan ontran-ontran di seantero jagat. Para raja dan bangsawan Astina, Amarta, dan Dwarawati pun menghentikan perang antar-mereka bahkan sepakat membentuk blok untuk melawan raja baru yang pongah dari Sonyawibawa. Bala tentara dikerahkan bersama dari segala penjuru untuk mengepung kerajaan yang muncul dari antah berantah ini. Tapi semuanya bisa dipukul mundur. Semua makin penasaran “Siapakah gerangan raja baru ini?” Belum pernah terjadi ada raja yang tidak mereka kenal sebelumnya.
Usut punya usut, ditilik dari ciri-cirinya, orang menduga raja itu adalah Petruk, anak kedua Semar. Meskipun memakai beskap raja dan menyandang keris yang merupakan simbol ksatria, Petruk dikenal dari hidungnya yang panjang dan mulutnya yang selebar muka. Bambang Priyambada dan Dewi Mustakaweni pun teringat telah menitipkan Pusaka Kalimasada kepada Petruk. Petruk yang diminta menyimpan Kalimasada di tempat aman ternyata tergoda dan ingin dapat untung dari kesaktian Kalimasada. Menyadari kekurangajaran petruk, para dewa pun turun tangan. Kresna mengadu pada Semar dan Gareng yang segera bertindak menasehati Petruk. Singkat cerita Prabu Belguelbeh Tongtongsot pun insyaf. Beskap raja segera diganti baju hitam plus rompi kotak-kotak dan keris pun diganti dengan kapak kecil (pethil) yang lebih pantas disandang wong cilik. Begitu
Ada tiga hal patut dicatat dari lakon ini. Pertama, cerita ini jelas tidak ada di Mahabarata versi India. Jangankan Petruk jadi raja, Petruknya sendiri pun tidak ada, karena wayang versi India tidak ada punakawan. Kedua, ada Kalimasada yang memiliki kesaktian sampai seorang Petruk pun bisa jadi raja. Ketiga, yang bikin heran, “Mengapa sih orang rese pas Petruk jadi raja, sampai-sampai libur perang dan malah kompak bikin front ganyang Petruk?” Apa dianggap tidak pantas karena hidungnya panjang? Atau karena Petruk adalah rakyat kecil? 
Kisah Petruk Menjadi Raja bisa dipandang dalam beberapa perspektif yang berbeda. Perspektif  pertama, dari kacamata monarki, yang memandang kekuasaan hanya sebagai milik sedikit orang yang diturunkan oleh yang mempunyai kekuasaan sebelumnya. Misalnya dari raja kepada putranya atau dibangun oleh kaum bangsawan yang hidup dan dididik oleh pemegang kekuasaan. Dalam perspektif ini, kekuasaan hanya akan bisa bermanfaat apabila dipegang oleh pemilik trah dan dialiri darah biru. Kekuasaan akan menghasilkan kekacauan apabila dipegang oleh rakyat jelata, seperti yang Petruk.
Perspektif kedua, dari kacamata golongan oligarki kekuasaan, yaitu kalangan politisi yang dalam kehidupan sehari-harinya bekerja untuk kekuasaan dan mendayagunakan kekuasaan untuk mendapatkan sebesar-besarnya manfaat bagi negara dan terutama golongannya. Ketiga, memandang kekuasaan sebagai instrumen bagi warga negara untuk mendapatkan hak-haknya dan untuk membangun kesejahteraan bersama. Dalam konteks ini berlaku prinsip demokrasi dimana kekuasaan berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Bagaimanapun suara rakyat adalah suara Tuhan, yang menjadi mandat untuk memanfaatkan uang dari rakyat bagi kesejahteraan rakyat.


Rakyat yang memegang kekuasaan belum tentu lantas bisa dipastikan bahwa akan berpihak kepada rakyat. Seperti “Pusaka Kalimasada”, kekuasaan memberikan banyak peluang kepada pemegangnya untuk mendapatkan keuntungan. Rakyat seperti Petruk mungkin ingin memanfaatkan kekuasaan untuk mengalahkan lawan dan materi, tapi para elit kaya punya ketertarikan lebih besar terhadap materi, bahkan menjadi sarana transaksikan untuk uang lebih besar. Bahkan mereka yang sudah kaya punya kebutuhan uang yang jauh lebih besar, tak terbatas. Jadi, tidak beda kekuasaan jika dipegang petruk atau elit bangsawan atau pewaris tahta ‘lain’. Yang penting adalah bagaimana mendapatkan mandat dari rakyat sebagai pemilik suara Tuhan.***