October 26, 2017

Parodi Harta Karun Keris Kembar

Alkisah, di lereng Gunung Ungaran, ada sebuah desa yang tenteram dan damai. Masyarakatnya makmur hidup dari pertanian yang subur di lereng gunung dan mudah menjual produk pertanian ke kota yang mudah dijangkau. Udara masih segar, air sungai mengalir jernih dan sumur pun mengeluarkan air jernih-segar di kedalaman 3- 5 meter.
Keris di Museum Nasional
Suatu hari datang orang yang tidak dikenal berpakaian serba putih, memakai ikat kepala putih merapikan rambutnya yang putih. Kedatangan pria tua serba putih ini segera menarik perhatian karena penampilannya yang tidak biasa dan belum ada yang mengenalnya. Tukang tambal ban yang ada di pertigaan jalan masuk desa menyapa dan bertanya. “Selamat siang bapak? Bapak mencari siapa dan bapak ini dari mana?” tanya tukang tambal ban.
“Saya mencari den mas Duku,” jawab bapak serba putih, sambil menjelaskan asalnya dari daerah di sekitar lereng Gunung Lawu di ujung barat Jawa Timur. “Sudah dari 9 bulan lalu saya menerima petunjuk tentang den mas Duku ini melalui mimpi dan saya sampai di sini. Rasanya semakin dekat,” lanjutnya.
Tukang tambal ban terkesima dan menilai apa yang disampaikan bapak serba putih tersebut sangat penting. “Bapak betul, memang betul sudah dekat dengan den mas Duku. Rumah den mas Duku dekat dari sini. Saya bisa mengantar ke rumah beliau jika bapak berkenan,” tukang tambal ban menawarkan.
Bapak serba putih seger berlalu setelah mengucapkan terima kasih dan salam, menuju arah di mana rumah den mas Duku berada. Sesampai di rumah den mas Duku, bapak serba putih berdiri di depan pintu pagar sambil mengucapkan salam. Kebetulan den mas Duku sendiri yang keluar, dia langsung datang menyambut dan membukakan pintu. “Wa alaikum salam,” jawab den mas Duku. “Bapak ini siapa dan ada perlu apa?”
Si bapak serba putih tidak segera menjawab, kemudian den mas Duku mengajaknya masuk halaman menuju tempat duduk di teras rumahnya berbentuk pendopo joglo 4x5 meter. Bapak berambut putih segera mengeluarkan bungkusan kain putih dari tas kainnya, segera membukannya di atas meja marmer bundar, ternyata sebilah keris kecil. Den mas Duku terkejut karena keris tersebut karena sangat mirip dengan keris kecilnya, keris yang diwariskan oleh bapakya. Dia langsung beranjak masuk ruamh dan segera kembali. “Keris bapak sangat mirip dengan keris saya,” kata den mas Duku. “bagaimana bisa?”.
Bapak serba putih diam tercenung “Rupanya ini yang membuat saya bermimpi untuk mencari den mas Duku,” demikian respons bapak serba putih. “Sudah dari 9 bulan lalu saya mendapatkan petunjuk ini, tapi baru akhir-akhir ini saya ada kesempatan untuk mengikuti feeling tersebut dan sampai di sini.”
Den mas Duku pun terlibat pembicaraan lebih hangat, disuguhkan kopi, tembakau dan juga madu untuk diminum dengan air hangat dan jeruk nipis. Mereka berbagi ketakjuban pada keris kembar tersebut  dan masing-masing berbagi feeling yang belum terjawab.
Pembicaraan selanjutnya adalah tentang kemampuan keris kembar jika dipersatukan, yang bisa digunakan untuk melipatgandakan uang secara ajaib. Bapak serba putih mendemonstrasikan dengan uang 500 ribu yang dibungkus dengan kain putih bersama dua keris kembar. Dengan bukti tersebut den mas Duku percaya dan setuju untuk menggandakan uang dalam jumlah banyak. Dia siapkan uang sebanyak yang dia punya, sambil berpikir bahwa ini merupakan petunjuk yang dia rasakan selama ini. Ritual direncanakan pada malam Senin, sesuai perhitungan bapak serba putih.
Apa yang terjadi selanjutnya?
Di malam yang ditentukan den mas Duku dan istrinya sudah siap untuk ritual dengan segala keperluannya, termasuk bunga merah putih, juga serbuk getah gaharu. Mereka bergantian menjaga bungkusan putih sambil membaca wirid khusus. Ketika pukul 1 dini hari keduanya kelihatan mengantuk bapak serba putih mengingatkan ritual bisa gagal dan berantakan. Istri den mas Duku pun bikin kopi untuk bertiga.
Pukul 7 pagi, den mas Duku dan Istrinya terbangun di ruang ritual dan terkejut. Bapak serba putih, uang 200 juta dan keris kembar yang terbungkus kain putih sudah tidak ada. Den mas Duku tercenung dan sadar bahwa telah tertipu. Hasil pemeriksaan polisi terhadap kopi yang tersisa digelas, menunjukkan ternyata kopi mengandung obat tidur. ***