June 28, 2016

Tiga Pewaris Tahta yang Mendirikan Kerajaan Sendiri

Gus Bowii

Dalam sejarah kerajaan di Indonesia, ada tiga pearis tahta yang memilih untuk tidak megambil hak warisnya. Tiga tokoh dalam sejarah monarkhi nusantara tersebut adalah Airlangga, Sangrama Wijaya dan Raden Patah. Airlangga adalah pewaris tahka Kerajaan Bali, tapi memilih mendirikan Kerajaan Kahuripan yang kemudian dipecah menjadi Kerajaan Kediri dan Jenggala. Sangrama Wijaya adalah pewaris tahta Kerajaan Sunda yang memilih tingga di Singasari kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit. Raden Patah adalah putra Bre Kertabumi yang menjadi Raja Majapahit Timur –Raja Majapait Pertama yang bergelar Brawijaya. Perebutan Kekuasaan yang terjadi di Majapahit membuat Raden Patah dan Pendukungnya mendirikan Kerajaan Demak untuk konsolidasi entitas muslim di pesisir utara Pulau Jawa.

Airlangga Pendiri Kerajaan Kahuripan
Airlangga kini terkenal sebagai nama perguruan tinggi negeri di Kota Surabaya Jawa Timur, yaitu Universitas Airlangga. Siapakah sebenarnya Airlangga? Airlangga adalah putra Udayana Raja Bedahulu di Pulau Bali dan ibunya sorang putri Mpu Sindok pendiri Kerajaan Medang yang berpusat di daerah Magetan-Nganjuk-Kertosono-Jombang di Jawa Timur saat ini. Airlangga dilahirkan pada tahun 990. Pada usia 16 tahun Airlangga dijodohkan dengan putri Darmawangsa pada tahun 1006. Di hari pesta pernikahannya, Istana Kerajaan Medang diserang oleh bala tentara Kerajaan Wurawari yang menjadi sekutu Kerajaan Sriwijaya. Penyerangan besar-besaran ini terjadi satu tahun setelah tentara Dharmawangsa menyerang Kerajaan Sriwijaya di Palembang dan mengalami kegagalan.  

Dalam serangan ini Raja Dharmawangsa tewas, sedangkan Airlangga berhasil menyelamatkan diri dan menjadi pelarian ke hutan dan gunung ditemani pengawalnya mpu Narotama. Setelah tiga tahun dalam pelarian, Airlangga didatangi utusan sisa-sisa pasukan dan pejabat Kerajaan Medang yang selamat. Dari keturunan Mpu Sindok yang selamat dari serangan Kerajaan Wurawari dan Kerajaan Sriwijaya, Airlangga dianggap yang pantas menjadi penerus Kerajaan Medang. Airlangga menerima permintaan pendukunganya kemudian mendirikan pusat kerajaan baru di lereng Gunung Penanggungan –yang bisa menjangkau wilayah Mojokerto, Sidoarjo dan Pasuruan saat ini. Airlangga menemukan momentum karena Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran setelah diserang secara besar-besaran oleh Kerajaan Cola Mandala dari India pada tahun 1023.

Melemahnya pengaruh Kerajaan Sriwijaya ini memberikan keleluasaan kepada Airlangga untuk merebut kembali wilayah-wilayah di Pulau Jawa yang melepaskan diri dari pengaruh Medang. Mulai tahun 1025 Airlangga memperluas kekuasaan di Pulau Jawa, dia memulai konsolidasi sisa-sisa kekuatan Kerajaan Medang dan melipatgandakan kekuatan militer. Pada saat pusat kekuatannya di Watan Mas diserbu oleh musuh, Airlangga sudah mempunyai kekuatan yang dipusatkan di Kahuripan –daerah Sidoarjo sekarang. Dari Kahuripan, Airlangga mulai menaklukkan kerajaan-kerajaan yag ada di Jawa Timur, diantaranya: Wisnuprabhawa raja Wuratan dan Panuda raja Lewa. Pada tahun 1032 pasukan Airlangga dan mpu Narotama menaklukkan Kerajaan Wurawari yang tidak cukup kuat tanpa dukungan Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 1035, Pasukan Kerajaan Kahuripan menaklukkan kerajaan terakhir yaitu, Kerajaan Wengker yang dipimpin Wijayarama. Penaklukan Kerajaan Wurawari yang membalaskan dendam atas penghancuran Kerajaan Medang kemudian ditulis oleh Mpu Kanwa dalam Kitab Arjuna Wiwaha –yang diadaptasi dari Mahabarata.

Pada tahun 1042, Airlangga memutuskan untuk “lengser keprabon” dan menjadi pertapa di Gunung Penanggungan. Sebelum melaksanakan niatnya menjadi biksu, Airlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua kerajaan untuk mencegah perebutan kekuasaan antara dua anaknya: Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Sri Samarawijaya berkuasa di Kerajaan Kediri yang berpusat di Daha yang baru dibangun sedangkan Mapanji Garasakan berkuasa di kota lama Kahuripan.

Wijaya Pendiri Kerajaan Majapahit
Raden Wijaya adalah pendiri Kerajaan Majapahit dari sisa-sisa Kerajaan Singasari yang dihancurkan oleh Penguasa Gelang-Gelang. Dalam serangan ini Raden Wijaya selamat karena menghadapi serangan kecil di luar kota pada saat serangan besar terjadi langsung di istana Singasari yang menewaskan Raja Kertanegara. Dalam pelariannya Wijaya menghubungi penguasa Sumenep, Aria Wiraraja, yang sebelumnya merupakan pejabat kepercayaan Raja Wisnuwardana. Aria Wiraraja melobi Jayakatwang agar menijinkan Raden Wijaya untuk membuka wilayah perburuan di Hutan Tarik (Trowulan saat ini), yang kemudian tumbuh menjadi pusat konsolidasi kekuatan sisa-sisa Singasari.

Raden Wijaya mendapatkan momentum dengan datangnya pasukang Mongol yang akan menuntut balas atas perlakukan Raja Singasari. Setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang berkat kerjasama pasukan Mongol, pasukan Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Mongol dengan perang gerilya dan sabotase. Pada tahun 1293, Raden Wijaya ditahbiskan menjadi raja Kerajaan Majapahit dengan gelar Prabu Kertarajasa Jayawardana. Dalam Prasasti Kudadu yang dibuatnya pada tahun 1294 disebutkan bahwa nama asli Raden Wijaya adalah Nararya Sangramawijaya dan menyebut Raden Wijaya sebagai keturunan Wangsa Rajasa yang didirikan oleh Ken Arok –pendiri Kerajaan Singasari.

Siapa sebenarnya Raden Wijaya ada kontroversi seperti nama panggilannya Raden Wijaya. Gelar “raden” belum ada di masa Majapahit, tapi muncul di dalam Kitab Pararaton –kitab yang menceritakan kisah Wangsa Rajasa. Nama sesungguhnya tertulis di Prasasti Kudadu yang dibuat oleh Raden Wijaya sendiri yaitu “Nararya Sangramawijaya”. Pararaton menyebut bahwa Raden Wijaya adalah putra Mahisa Cempaka seorang pangeran Singasari sedangkan Kitab Negarakertagama menyebut bahwa Raden Wijaya adalah Putra Dyah Lembu Tal seorang perwira yuda Kerajaan Singasari. Pararaton maupun Negarakertagama tidak menyebutkan ibu Raden Wijaya. Dalam prasasti Balawi tahun 1305 Raden Wijaya menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa –tidak menjelaskan asal usul orang tuanya.

Babad Tanah Jawi menceritakan bahwa pendiri Kerajaan Majapahit adalah Jaka Susuruh putra dari Kerajaan Pajajaran. Lebih lengkap dijelaskan bahwa ibu Raden Wijaya adalah Dyah Lembu Tal putri Mahisa Cempaka dan ayahnya adalah Rakean Jayadarma, putra Mahkota Kerajaan Sunda yang berkedudukan di Galuh. Waktu kecil Raden Wijaya tinggal di Istana Galuh, begitu Rakean Jayadarma tewas, Dyah Lembu Tall membawa Raden Wijaya pulang ke Singasari. Raden Wijaya yang sebenarnya memiliki hak atas tahta Kerajaan Sunda, tapi besar di istana Kerajaan Singasari, menjadi pangeran, dan kemudian menjadi pangeran paling legitimate untuk melanjutkan Wangsa Rajasa karena berhasil mengalahkan Jayakatwang dan Kertanegara hanya mempunyai anak-anak perempuan.

Raden Wijaya menikah dua anak Kertanegara dan kemudian menikahi Putri Raja Melayu yang datang bersama rombongan ekspedisi Pamalayu yang baru pulang. Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309 dan digantikan oleh Jayanegara, putranya dari istri Putri Melayu, Dara Putih. Putrinya dari permaisuri Gayatri Rajapadni, Tribuana Tunggadewi, akhirnya naik tahta setelah Jayanegara terbunuh pada tahun 1328. Putri sulung Raden Wijaya inilah yang kemudian mengangkat Gajah Mada menjadi Mahapatih di Majapahit.

Raden Patah Pendiri Kesultanan Demak
Raden Patah adalah putra Raja Brawijaya V Kerajaan Majapahit, yang bernama asli Bre Kertabumi, yang berkuasa dari tahun 1468 sampai 1478. Ibu Raden Patah adalah selir Bre Kertabumi yang merupakan putri Cina dari Kerajaan Campa. Karena dikhawatirkan sebagai ancaman bagi permaisuri, sewaktu hamil, selir Putri Cina ini diusir dan tinggal di Palembang yang dipimpin Arya Damar. Raden Patah dilahirkan di Palembang pada 1455 saat Bre Kertabumi masih menjadi Raja Negara Bagian di Kahuripan. Tidak lama setelah Raden Patah lahir selir Kertabumi diperistri oleh Arya Damar, yang kemudian mempunyai putra Raden Kosim. Setelah dewasa Raden Patah dan Raden Kosim pergi ke Pulau Jawa untuk mendalami Agama Islam, dan akhirnya dipanggil menghadap Bre Kertabumi. Brawijaya pun mengangkat Raden Patah sebagai bupati Glagah Wangi. Raden Patah kemudian mengubah nama Glagah Wangi menjadi Demak dan menetapkan ibukotanya di Bintara.

Kedatangan Raden Patah ke Kerajaan Majapahit pada saat terjadi perebutan kekuasaan antara para bre (pangeran) Majapahit yang sudah berkuasa di 14 daerah bawahan. Bre Kertabumi menjadi Raja Majapahit setelah melakukan pemberontakan terhadap Singhawikramawardhana pada tahun 1468. Singhawikramawardhana yang berhasil selamat mendirikan pusat Pemerintah Majapahit di Negara Bawahan Daha. Peperangan antara dua Raja Majapahit ini terus berlangsung. Singhawikramawardhana wafat pada tahun 1474 dan digantikan oleh putranya Ranawijaya. Pada 1478 Ranawijaya mengalahkan Kertabhumi dan mempersatukan kembali Majapahit menjadi satu kerajaan. Ranawijaya memerintah pada kurun waktu 1474 hingga 1519 dengan gelar Girindrawardhana, yang dikenal juga sebagai Brawijaya VI. Meskipun kembali bersatu, Majapahit sudah sangat lemah karena konflik yang panjang sehingga banyak negara bagian yang melepaskan diri dan pengaruh kekuatan komunitas Islam yang makin besar.

Setelah kekalahan Bre Kertabumi yang berkuasa di Majapahit oleh Girindrawardhana yang berpusat di Daha, Raden Patah dengan dukungan masyarakat muslim mendeklarasikan Kabupaten Demak sebagai Kerajaan Demak dan menyatakan perang terhadap Brawijaya VI yang berpusat di Daha Kediri. Raden Patah diangkat menjadi Sultan Fatah yang berkuasa di Kesultanan Demak, yang merupakan penerus Brawijaya V (Bre Kertabhumi). Perang antara Kesultanan Demak dengan Majapahit yang berpusat di Daha Kediri berlangsung sangat lama. Girindrawardhana wafat pada tahun 1498 dan digantikan oleh putranya Patih Udara yang berkuasa sampai tahun 1518. Demak dibawah pemerintahan Sultan Fatah, diakui sebagai penerus kerajaan Majapahit. Menurut Babad Tanah Jawi dan tradisi Demak, legitimasi Raden Patah karena ia adalah putra raja Majapahit Brawijaya V dengan seorang putri China.


Raden Patah wafat pada tahun 1518 dan digantikan oleh menatunya Adipati Unus. Adipati Unus melakukan penyerangan terhadap Portugis yang mulai menduduki Malaka pada tahun 1521. Pati Unus tewas dalam penyerangan ini dan digantikan oleh Sultan Trenggono, putra Raden Patah. Sultan Treggono berhasil memperkuat kekuasaannya kembali di Pulau Jawa dengan menaklukkan beberapa daerah yang memberontak, termasuk Tuban, Madiun, Surabaya, Pasuruan bahkan sampai Blambangan di ujung timur. Sultan Trenggono bersama Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten juga berhasil merebut Sunda Kelapa dari Kerajaan Sunda. Pada tahun 1546 Sultan Trenggono Tewas dalam upaya pemadaman pemberontakan di Pasuruan. Kesultanan Demak mendapatkan legitimasi sebagai penerus Kerajaan Majapahit karena didirikan oleh Raden Patah -putra Bre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V. ***