July 01, 2016

Prasasti Bukit Gombak tentang Raja Swarnabhumi Kelahiran Majapahit




Gus Bowii


Di Sumatera Barat ditemukan beberapa prasasti yang dibuat oleh Adidtyawarman, yang tinggal di negeri Swarnabhumi, salah satunya adalah Prasasti Pagaruyung I. Prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Bukit Gombak, sesuai nama tempat ditemukannya, yaitu Bukit Gombak yang berada di wilayah Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Prasasti ini dibuat dari batu putih kuarsa yang ditulis dengan huruf Jawa Kuno pada  tahun 1278 saka (wasur mmuni bhuja sthalam) atau tahun 1357 masehi. Prasasti Bukit Gombak ini juga dilengkapi dengan prasasti Adityawarman lainnya, yaitu Prasasti Pagaruyung II sampai Prasasti Pagaruyung VIII. Bedanya  dengan yang lain, Prasasti Bukit Gombak ini menyebutkan nama pembuat prasasti, yaitu Mpungku Dharmma Dwaja bergelar Karuna Bajra.


Prasasti ini terdiri dari 21 baris tulisan yang berisi puji-pujian terhadap keagungan dan kebijaksanaan Adityawarman sebagai raja yang banyak menguasai pengetahuan, khususnya di bidang keagamaan, bahkan disebut sebagai sutatha bajra daiya -Budha yang baik dan kuat bagaikan kilat. Di bagian lain, prasasti ini meuliskan status dan kedudukan Adityawarman, asal usulnya sebagai putra dari Adwayadwaja, dan juga disebut sebagai cikal bakal keluarga Dharmarja.

Siapa sebenarnya Adityawarman? 

Kisah Adityawarman sangat berkaitan dengan masa akhir Kerajaan Singasari dan awal Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1275, Raja Singasari Kertanegara mengirimkan ekspedisi Pamalayu untuk menjalin koalisi dengan Kerajaan Melayu Dharmasraya. Ekspedisi ini dipimpin oleh Mahisa Anabrang, dimana rombongan ekspedisi membawa Arca Amoghapasa untuk diberikan kepada rakyat dan Raja Dharmasraya, apabila setuju untuk membangun koalisi dengan Singasari. Ekspedisi Pamalayu ini dilaksanakan berkaitan dengan ancaman dari Dinasti Yuan di China. Pada saat  data ke Singasari utusan Kubilai Khan diusir oleh Kertanegara. Pararaton menceritakan bahwa Kertanegara memotong telingan utusan Dinasti Yuan yang meminta Kertanegara untuk tunduk.

Ekspedisi Pamalayu ini berhasil mendapatkan kerjasama dari Raja Dharmasraya, Aji Warmadewa. Untuk menguatkan hubungan diplomatik, Raja Warmadewa menyerahkan dua orang Putrinya untuk diperistri Raja Singasari, yang dikenal sebagai Dara Putih dan Dara Jingga. Rombongan Ekspedisi Pamalayu terkejut begitu sampai Pulau Jawa, kondisi politik di daerah aliran Sungai Brantas sudah berubah total. Kerajaan Singasari sudah tidak ada dan Raja Kertanegara tewas, karena diserang oleh Jayakatwang untuk menghidupkan kembali Kerajaan Kediri. Bahkan Jayakatwang juga sudah tewas karena serangan pasukan Mongol yang bekerjasama dengan sisa-sisa laskar Singasari yang dipimpin oleh Sangramawijaya. Pangeran dari dinasti Singasari yang dikenal sebagai Raden Wijaya ini bahkan sudah mendirikan Kerajaan Majapahit, kerajaan baru yang dinyatakan sebagai kelanjutan dari wangsa Rajasa.

Rombongan pasukan ekspedisi Pamalayu langsung menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Dari dua putri Raja Warmadhewa yang ikut rombongan pulang, Dara Putih dijadikan istri oleh Raden Wijaya, sedangkan adiknya, Dara Jingga diperistri oleh panglima Ekspedisi Pamalayu, Mahisa Anabrang. Mahisa Anabrang adalah Pangeran Kerajaan Singasari bernama Adwayadwaja, dengan nama lengkap Rakryān Mahāmantri Dyah Adwayabrahma. Dara Putih mempunyai putra bernama Jayanegara sedangkan Dara Jingga mempunyai seorang putra Adityawarman, yang dikenal juga sebagai Mahisa Taruna (Mahisa Yunior).

Pada tahun 1295 terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Adipati Tuban, Ranggalawe. Pemberontakan ini bermula karena Ranggalawe tidak terima dengan keputusan Raden Wijaya yang mengangkat Lembu Nambi sebagai Patih Majapahit. Menurutnya Lembu Sora lebih berhak daripada Nambi karena jasanya lebih besar. Mahisa Anabrang mempimpin pasukan Majapahit untuk memadamkan pemberontakan Ranggalawe di Tuban. Dalam pertempuran yang terjadi di Kali Tambak Beras, pasukan Majapahit mengalahkan pasukan Tuban setelah Mahisa Anabrang membunuh Ranggalawe. Tapi Mahisa Anabrang dibunuh dari belakang oleh Lembu Sora, kakak Ranggalawe, yang merupakan bagian dari pasukan Majapahit.

Adityawarman atau Mahisa Teruna tinggal di istana Majapahit bersama sepupunya Jayanegara. Setelah beranjak dewasa ada pejabat istana Majapahit yang memberitahu bahwa ayahnya dibunuh oleh Lembu Sora secara pengecut dan pembunuhan Mahisa Anabrang merupakan pelanggaran etika berat, yang pelakunya bisa dituntut hukuman mati - menurut undang-undang Majapahit kitab Kutaramanawa. Adityawarman pun membuat tuntutan kepada Raden Patah untuk mengadili dan menghukum Lembu Sora. Raden Wijaya akhirnya memanggil Lembu Sora untuk menghadap. Lembu Sora yang menjadi Patih di Daha datang ke istana membawa pasukan. Hal ini menyebabkan timbulnya salah sangka sehingga terjadi pertempuran di depan istana, yang menewaskan  Lembu Sora dan pasukannya. Kejadian ini kemudian dikenal sebagai Pemberontakan Lembu Sora.

Setelah Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 Jayanegara naik tahta menjadi raja Majapahit, karena permaisuri Sri Rajapadni tidak mempunyai seorang putra. Di masa Kekuasaan Jayanegara, Adityawarman diangkan menjadi Menteri Senior (Wreda Mantri) dan diutus untuk melakukan diplomasi ke Dinasti Yuan di China. Setelah Jayanegara tewas pada tahun 1328 Ibu Suri Rajapadni naik tahta sebentar kemudian mengangkat putrinya, Tribuana Tunggadewi menjadi Ratu Majapahit. Selain terlibat dalam operasi militer melakukan penaklukan ke beberapa kerajaan, termasuk ke Bali dan juga Sumatera, Adityawarman kembali menjadi utusan diplomatik ke China pada tahun 1332 dan berhasil meyakinkan ke Dinasti Yuan sehingga mengakhiri dukungannya kepada Kerajaan Sriwijaya dan mengakui kekuasaan Majapahit terhadap Kerajaan Melayu di Sumatera.  

Di akhir kekuasaan Tribuana Tunggadewi, Adityawarman mendapatkan kepercayaan untuk mengontrol wilayah barat nusantara. Sebagai cucu dari Raja Dharmasraya, Warmadewa dari ibunya, Adityawarman mempuyai legitimasi yang kuat untuk menjadi Raja di Swarnabhumi. Setelah Hayamwuruk menjadi Raja pada tahun 1350, ekspedisi militer dilakukan ke pulau-pulau bagian timur nusantara mulai tahun 1357, diantaranya ke Dompu, Maluku, Banggawi, Flores, Buru, Timor, bahkan sampai pesisir barat Papua. Ekspedisi ke timur bisa dilakukan dengan lancar karena wilayah barat nusantara sudah aman di bawah kekuasaan dan kontrol Adityawarman. Selain mendapatkan pengakuan dari Dinasti Yuan, Adityawarman juga menjalin sekutu dengan kerajaan-kerajaan lain di Asia Tenggara -termasuk dengan Campa di Kamboja dan Ayutaya di Thailand. *** 

Penulis: gus Bowii