October 13, 2017

Misteri Dua Perang Saudara di Majapahit

Agus Wibowo

Perang - Museum Plembang
Majapahit dikenal sebagai kerajaan besar di Nusantara dari awal abad 14 sampai abad 16. Setelah mencapai puncaknya pada tahun 1389, Majapahit mengalami kemunduran akibat terjadinya perebutan kekuasaan, yang ditandai oleh dua perang besar yaitu Perang Paregreg pada tahun 1404 dan Perang Dua Majapahit pada tahun 1466 sampai tahun 1478. Perang Paregreg berlangsung dalam waktu satu tahun tapi mengurangi kekuatan militer Majapahit secara signifikan, karena kedua pihak mendapatkan dukungan yang sama besar.  Perang dua Majapahit berlangsung lebih dari 10 tahun yang melibatkan anak dan cucu Kertawijaya. Perang ini berakhir pada tahun 1478, tapi kemudian berlanjut dengan perang lain yang berkaitan dengan putra raja yang punya hak atas tahta Majapahit, yaitu Kerajaan Demak.

Mengapa terjadi dua perang yang mematikan tersebut? Apa bedanya perang yang terjadi pada tahun 1404 dengan perang yang mulai terjadi pada tahun 1464?
Inti penyebab perang adalah sama, yaitu perebutan kekuasaan setelah seorang raja meninggal dunia. Perbedaan yang paling menonjol yang bisa diidentifikasi adalah: Raja Hayamwuruk mempunyai putri dari permaisuri dan punya putra dari seorang selir sedangkan Raja Kertawijaya punya tiga orang putra dari permaisuri.  

Untuk Perang Paregrek, masalah bisa dilihat dengan cepat potensi konfliknya karena dalam budaya patriakhi yang cenderung berlaku di monarki di Pulau Jawa, putra raja lebih berhak menjadi pewaris tahta daripada putri raja, bahkan jika sang putri adalah anak dari permaisuri. Putra Hayamwuruk dari selir, Bre Wirabhumi, merasa berhak atas tahta Majapahit daripada putri dari permaisuri, Kusumawardhani. Hal ini terjadi ketika raja pertama Majapahit meninggal dunia pada tahun 1309. Dewan Kerajaan memutuskan mengangkat Jayanegara menjadi Raja Majapahit, karena anak permaisuri adalah seorang putri. Putri permaisuri, Tribuana Tunggadewi akhirnya menjadi penguasa Majapahit setelah Jayanegara tewas dibunuh oleh tabib istana pada tahun 1328.

Tapi keputusan setelah Hayamwuruk meninggal dunia pada 1389 berbeda dengan keputusan setelah Raden Wijaya meninggal  pada 1309. Dewan Kerajaan Majapahit tidak memilih Bre Kertabhumi karena putra selir, sehingga yang berhak adalah putri permaisuri yaitu Kusumawardhani. Masalah suksesi sepeninggal Hayamwuruk menjadi serius karena kemudian yang naik tahta bukan Kusumawardhani sebagai putri Hayamwuruk, melainkan Wikramawardhana –suami Kusumawardhani, yang juga merupakan keponakan Hayamwuruk. Keputusan Wikramawardhana naik tahta ini memunculkan ketidakpuasan Bre Wirabhumi, karena seorang menantu atau keponakan tidak lebih berhak sebagai pewaris tahta daripada seorang putra raja –meskipun dari seorang selir. Bre Wirabhumi yang berkuasa di Blambangan kemudian melakukan pemberontakan terhadap Majapahit, dan perang antara penguasa Blambangan dengan Wikramawardhana penguasa Majapahit ini dikenal sebagai Perang Paregrek –yang berakhir pada tahun 1406 setelah Bre Kertabhumi gugur dalam perang.

Raja Kertawijaya mempunyai tiga orang putra dari permaisuri, mestinya menjadi jelas. Mengapa malah jadi konflik dan bagaimana bisa terjadi?

Pada saat Kertawijaya meninggal dunia pada tahun 1451, suksesi berlangsung dengan damai, tinggal dipilih dari putra pertama untuk menjadi pewaris tahta, yaitu Rajasawardhana. Masalah muncul ketika Rajasawardhana hanya berkuasa selama dua tahun dan meninggal dunia pada tahun 1453. Kondisi ini membuat Dewan Kerajaan Majapahit menghadapi situasi rumit, karena ada dua pilihan yang sama kuat sebagai pewaris tahta, yaitu: putra mendiang raja (Bre Kertabhumi) dan adik mendiang raja (Girisawardhana). Situasi ini membuat Dewan Kerajaan Majapahit tidak bisa menentukan pengganti Rajasawardhana selama tiga tahun. Tidak bisa diketahui dengan pasti bagaimana perdebatan yang terjadi dan bagaimana argumentasi yang berkembang, tapi Majapahit tidak mempunyai raja selama 3 tahun dari 1453 sampai dengan 1456. Pada tahun 1456, akhirnya Dewan Kerajaan memutuskan Girisawardhana sebagai raja Majapahit.

Girisawardhana yang dikenal juga sebagai Brawijaya III berkuasa cukup lama yaitu 10 tahun, dan meninggal dunia pada tahun 2466. Majapahit kembali menghadapi situasi rumit karena kembali mempunyai dua opsi pewaris tahta, yaitu: Bre Kertabhumi (Putra Rajasawardhana) dan Singhawikramawardhana (adik Girisawardhana, putra ketiga Kertawijaya). Dewan kerajaan memilih Singhawikramawardhana menjadi raja –dengan demikian tiga putra Kertawijaya berturut-turut menjadi raja Majapahit.  Bre Kertabhumi tidak terima dua kali dilewati oleh dua pamannya,  meninggalkan istana dan melakukan pemberontakan.

Setelah dua tahun melakukan pemberontakan Bre Kertabhumi berhasil merebut istana Majapahit di Trowulan dan diangkat menjadi raja Majaphit yang berkedudukan di Trowulan. Hanya saja kemengangan Bre Kertabhumi membawa Majapahit memasuki konflik makin serius. Pamannya, Singhawikramawardhana, berhasil lolos dari penyerangan dan melarikan diri untuk membangun kembali kekuatannya di Daha Kediri. Singhawikramawardhana tetap menyatakan diri sebagai raja dan meneruskan perang melawan Bre Kertabhumi dari istananya di Daha Kediri. Bre Kertabhumi mengalami kemenangan setelah pamannya tewas alam perang di tahun 1474, tapi istana Daha berhasil memilih raja baru, yaitu Girindrawardhana –putra Singhawikramawardhana.

Girindrawardhana mewarisi dan melanjutkan perang melawan Bre Kertabhumi, saudara sepupunya. Girindrawardhana mendapatkan kemenangan mutlak pada tahun 1478, berhasil menghancurkan istana Majapahit di Trowulan dan menewaskan Bre Kertabhumi di istana. Kerajaan Majapahit yang dalam 10 tahun mempunyai dua raja berhasil disatukan kembali dibawah kekuasaan Girindrawardhana, yang memerintah dari istana Daha –tidak lagi dari istana Trowulan yang telah dihancurkannya. Peristiwa ini ditulis dalam Prasasti Jiwu yang dibuat Girindrawardhana pada tahun 1486.  

Meskipun begitu, Majapahit tidak lantas menjadi damai setelah berhasil mengakiri perang dua Majapahit selama 10 tahun. Setelah menjadi raja Majapahit, Bre Kertabhumi memanggil putranya Raden Patah dan menunjuknya untuk menjadi bupati di wilayah baru Glagah Wangi, yang oleh Raden Patah kemudian namanya diubah menjadi Demak. Begitu ayahnya yang berkuasa di Istana Trowulan dikalahkan oleh Girindrawardhana, Raden Patah dan komunitas muslim yang mendukungnya mendeklarasikan terbentuknya Kesultanan Demak yang terpisah dari Majapahit. Majapahit pun memasuki perang baru melawan Demak tidak lama setelah mengakhiri perang dua Majapahit.


Setelah banyak kehilangan kekayaan, senjata dan kekuatan militer, Kesultanan Demak ibarat tinggal menjadi finisher dari Majapahit yang sudah lemah akibat perang saudara berkepanjangan.***