July 05, 2016

Pemberontakan Bre Wirabhumi (Perang Paregrek) - 1404

Gus Bowii

Selama 73 tahun sejak Pemberontakan Sadeng, Majapahit berada dalam masa damai di bawah pimpinan Ratu Tribuana Tungga Dewi dan Raja Hayamwuruk. Bersama Gajahmada sebagai Mahapatih, Majapahit bahkan meluaskan kekuasaan ke kerajaan-kerajaan lain di wilayah nusantara, termasuk ke Sumatera, semenanjung Malaka, Kalimantan, Sulawesi sampai pulau-pulau di timur Nusantara sampai Papua. Pemberontakan terjadi lagi di Majapahit setelah Hayamwuruk wafat.  

Hayamwuruk mempunyai seorang Putri dari permaisuri yaitu Kusumawardhani dan seorang putra dari selir yaitu Bre Wirabhumi yang berkuasa di Blambangan. Dewan Kerajaan Majapahit memutuskan Kusumawardhani sebagai penerus Hayamwuruk dan mengangkat suaminya Wikramawardhana sebagai raja Majapahit –Wikramawardhana juga merupakan keponakan Hayamwuruk.  

Karena tidak puas dengan keputusan istana, Bre Wirabhumi memberontak. Dia merasa punya hak atas tahta Majapahit karena statusnya sebagai anak Hayamwuruk meskipun dari selir. Dia merasa lebih berhak daripada Wikramawardhana yang berstatus sebagai suami putri sulung Hayamwuruk. Pemberontakan ini menjadi perang besar yang dikenal sebagai Perang Paregreg, yang dikenal sebagai perang antara istana barat di  Trowulan dengan istana timur di Bambangan. Perang Paregreg berakhir pada tahun 1406 setelah Bre Wirabhumi tewas di Blambangan.

Peristiwa Perang Paregreg ini dikisahkan menjadi Legenda Damarwulan. Dalam legenda ini, disebutkan bahwa Ratu Kencana Ungu yang berkuasa di Majapahit menghadapi pemberontakan Minakjinggo yang menjadi penguasa Blambangan. Ratu Kencana Ungu kemudian dibantu oleh seorang pemuda bernama Damarwulan yang akhirnya berhasil mengalahkan Minakjinggo setelah berhasil mencuri senjata andalannya Gada Besi Kuning. Damarwulan kemudian menikahi Ratu Kencana Ungu dan menjadi Raja Majapahit. Selain memperistri ratu Kencana Wungu, Damarwulan diceritakan juga menikahi istri-istri Minakjinggo yang berjasa dengan menghianati raja jahat dari timur yang menganggu ratu baik di Majapahit.