July 05, 2016

Pemberontakan Daha (Perang dua Majapahit) - 1468

Agus Wibowo

Prasasti Pamintihan
Meskipun dikalahkan oleh pemberontakan Bre Kertabhumi dan terusir dari istana di Trowulan, Singhawikramawardhana berhasil lolos dan sampai ke Istana Daha. Paman Bre Kertabhumi ini tetap mendeklarasikan diri sebagai raja Majapahit yang bertahta di Daha. Dalam periode 1468 sampai 1478 kerajaan Majapahit mempunyai dua Raja, yaitu Bre Kertabhumi yang berkedudukan di Istana Trowulan dan Singhawikramawardhana yang berkedudukan di Daha Kediri. Setelah selamat dari kejaran Pasukan Bre Kertabhumi dan membangun pemerintahan di Daha Kediri, Singhawikranawardhana sempat memberikan anugerah sima perdikan kepada sebuah desa di Kabupaten Bojonegoro, yaitu Desa Sendang Sedati. Anugerah ini diberikan untuk menghargai kesetiaan kepala desa yang diberikan dalam bentuk Prasasti Pamintihan berupa beberapa lempeng tembaga.
Singhawikramawardhana gagal merebut istana Majapahit di Trowulan dan gugur dalam perang pada tahun 1474. Tahta Majapahit di Daha diteruskan oleh putranya,  Girindrawardhana.

Perang antara dua Majapahit ini akhirnya dimenangkan oleh Girindrawardhana setelah Bre Kertabhumi gugur dalam penyerbuan di  istana Trowulan pada tahun 1478. Kerajaan Majapahit berhasil disatukan kembali setelah 10 tahun berperang, tapi Girindrawardhana tetap memerintah Kerajaan Majapahit dari istana Daha di Kediri. Setelah menyatukan Majapahit, Girindrawardhana menambahkan gelar baginya menjadi Brawijaya VI. Setelah menyatukan kembali Kerajaan Majapahit, Girindrawardhana membuat Prasasti Jiwu. Tewasnya Bre Kertabhumi ini ditulis di Pararaton dengan candra sengkala Sunya Nora Yuganing Wong (1400 saka) yang di Babat Tanah Jawa disebut dengan candra sengkala Sirna Ilang Keraning Bhumi (1400 saka) atau 1478 tahun masehi.