July 05, 2016

Pemberontakan Demak 1478 - 1498

Gus Bowii

Gerbang Majapahit dibawa sampai Pati
Setelah Perang Dua Majapahit dimenangkan oleh Girindrawardhana, putra Bre Kertabhumi yang menjadi Bupati Demak mendeklarasikan Demak sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kerajaan Majapahit. Kerajaan baru di pesisir utara Jawa ini berbentuk Kesultanan Demak, yang didukung oleh kekuatan muslim yang tumbuh pesat di pesisir utara Pulau Jawa, seperti Semarang, Lasem, Tuban dan Surabaya. Kesultanan Demak yang dipimpin Sultan Fatah menyatakan perang terhadap Majapahit yang ibukotanya sudah pindah ke Daha, dan telah menjadi lemah oleh perang saudara selama 10 tahun.

Perang Demak melawan Majapahit ini berlangsung selama 20 tahun, sampai akhirnya akhirnya dimenangkan oleh Kesultanan Demak dan Girindrawardhana tewas pada tahun 1498. Sultan Fatah mengampuni putra Girindrawardhana dan mengangkatnya menjadi bupati di Daha sebagai bagian Kesultana  Demak. Hal ini dilakukan karena Sultan Fatah mempertimbangkan hubungan kekerabatan dengan Patih Udara. Patih Udara sempat melakukan pemberontakan setelah Sultan Fatah wafat pada tahun 1518, tapi pemberontakan ini berhasil dipadamkan oleh Dipati Unus dan Patih Udara sebagai pewaris tahta kerajaan Majapahit gugur dalam perang.

Pemberontakan Demak merupakan pemberontakan terakhir di masa Majapahit dan sekaligus mengakhiri eksistensi Kerajaan Majapahit, yang sisa-sisanya ada di Daha Kediri. Kesultanan Demak mendapatkan legitimasi sebagai kelanjutan Kerajaan Majapahit kerena didirikan oleh Raden Patah yang merupakan putra Bre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V.