July 03, 2016

Pemberontakan Ranggalawe – 1295

Gus Bowii

Di tahun ketiga sejak didirikan, Majapahit menghadapi pemberontakan pertama, yaitu pemberontakan Ranggalawe, Adipati Tuban. Pemberotakan ini dipicu oleh rasa kecewa Ranggalawe kepada Raden Wijaya, karena mengangkat Lembu Nambi sebagai Mahapatih Majapahit. Pembagian posisi atau jabatan di Majapahit setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang di Daha dan mengusir tentara Mongol, menunjukkan pembagian jabatan kepada Aria Wiraraja dan anak-anaknya, yaitu: mPu Nambi sebagai Mahapatih Majapahit, Lembu Sora sebagai Patih Daha, Ranggalawe menjadi Adipati Tuban dan Pesangguhan di istana Majapahit –bersama Aria Wiraraja yang menjadi penguasa wilayah timur Majapahit yang berpusat di Tuban.
Menurut Ranggalawe, orang yang lebih layak menjadi Mahapatih di Majapahit adalah Lembu Sora. Banyak pengikut Ranggalawe malah berpendapat bahwa yang pantas menjadi Mahapatih di Majapahit adalah Ranggalawe, mengingat jasa-jasanya mengalahkan panglima perang utama Jayakatwang. Versi kelompok ini bahkan dituangkan dalam Kidung Panji Wijayakrama bahwa Ranggalawe yang menjadi Mahapatih di Majapahit. Ranggalawe menyampaikan ketidakpuasannya kepada Rajasa Jayawardhana dengan keras di istana Majapahit, tapi bisa diatasi oleh kakaknya Lembu Sora yang meminta Ranggalawe untuk pulang ke Tuban untuk berunding dengan ayahnya –Aria Wiraraja.
Kepulangan Ranggalawe ke Tuban sambil membawa kemarahan berkembang menjadi desas-desus bahwa Ranggalawe akan melakukan pemberontakan. Dalam sidang militer akhirnya diputuskan bahwa Ranggalawe melakukan makar dan harus dihadapi dengan operasi militer. Pada tahun 1295, Kerajaan Majapahit mengirimkan pasukan yang dipimpin Mahisa Anabrang untuk menghadapi pemberontakan Ranggalawe. Pasukan Ranggalawe menyambut pasukan Majapahit dan terjadi pertempuran di Kali Tambak Beras, di wilayah Gresik saat ini. Pertempuran ini melibatkan dua orang panglima yang sama-sama terkenal di Majapahit, yaitu: (1) Ranggalawe yang menjadi panglima dalam perang melawan pasukan Jayakatwang dan  pengusiran pasukan Mongol melawan (2) Mahisa Anabrang yang menjadi panglima dalam pasukan ekspedisi Pamalayu yang berhasil memenangkan kerjasama dari Raja Dharmasraya Mauliwarmadewa.

Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan Pasukan Majapahit begitu Mahisa Anabrang mengalahkan Ranggalawe dalam pertempuran di sungai. Tapi kemenangan pasukan Majapahit ini berakhir tragis karena Mahisa Anabrang tewas dibunuh Lembu Sora dari belakang.***