October 08, 2017

Pemberontakan Sadeng dan Keta - 1331

Agus Wibowo

Jamas Keris/Puspito
Setelah Jayanegara dibunuh oleh Ra Tanca, kekuasaan Majapahit dipegang oleh ibusuri Sri Rajapadni, permaisuri Raden Wijaya ketika menjadi raja. Sri Rajapadni mengundurkan diri untuk menjadi biksuni dan melimpahkan tahta Majapahit kepada putri sulungnya, Tribuana Tunggadewi. Menimbang jasa dan prestasinya, Gajahmada ditawari untuk menjadi Mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah yang sudah tua dan sering sakit. Dalam Pararaton dikisahkan bahwa Gajahmada tidak bersedia menjadi Mahapatih, karena masih ada pemberontakan di wilayah timur yang masih belum di atasi. Pemberontakan ini dilakukan oleh Bupati yang sebelumnya di wilayah kekuasaan wilayah otonom Majapahit Timur yang berpusat di Lumajang,  yaitu wilayah Sadeng di Jember dan Keta di Panarukan.

Gajahmada menyatakan bersedia menjadi Mahapatih di Majapahit apabila berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Gajahmada diberikan mandat dari Ratu Tribuana Tunggadewi untuk memimpin pasukan untuk mengatasi pemberontakan Sadeng dan Keta, bersama Adityawarman. Semula pemberontakan ini diatasi melalui diplomasi dengan mengirim Adityawarman untuk ketemu Bupati Sadeng dan Keta, tapi upaya ini gagal karena ada pasukan Majapahit yang dipimpin Ra Banyak dan Ra Yuyu melakukan provokasi dengan mendekati wilayah Sadeng di Jem. Gajahmada akhirnya menempuh jalan perang dan berhasil menumpas Pemberontakan Sadeng dan Keta. Wilayah Timur Majapahit yang sebelumnya berada di bawah kontrol keluarga Aria Wiraraja, disatukan kembali secara penuh setelah padamnya Pemberontakan Sadeng.

Setelah berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng dan Keta, Gajahmada bersedia ditunjuk menjadi Mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah. Dalam upacara pelantikannya menjadi Mahapatih, Gajahmada menyampaikan ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Amukti Palapa. Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa Gajah mada megucapkan sumpanya yang terkenal itu; Sumpah Palapa, dengan dukungan penuh Tribhuwanatunggadewi. Pelantikan Gajahmada sebagai rakryan Patih Amangkubhumi Majapahit terjadi pada tahun 1334 Masehi.