October 13, 2017

Prasasti Jiwu 1486, Bukti Terjadinya Perang dua Majapahit

Agus Wibowo
Prasasti Jiwu - Traylokapuri
Prasasti Jiwu dikenal juga sebagai Prasasti Trailokyapuri, dibangun oleh Girindrawardhana, atau Brawijaya VI pada tahun 1486. Prasasti ini dibangun sebagai tanda pengukuhan pemberian anugerah tanah di Trailokyapuri kepada seorang Brahmana yang telah berjasa dalam membantu Girindrawardhana mengalahkan Bre Kertabhumi yang berkuasa di Istana Wilwatikta Trowulan. Prasasti ini bahkan menjelaskan bahwa Bre Kertabhumi gugur di Istana Kedaton (Trowulan). Prasasti Jiwu terdiri dari 4 prasasti yang tersimpan di Museum Mojokerto, ada yang dibuat oleh Singhawikramawardhana yang menyatakan menjadikan desa Sawek, Pung, Talasan dan Batu menjadi tanah sima/perdikan dan diberikan pada pendeta Brahmaraja Ganggadhara. Girindrawardhana melengkapi prasasti Jiwu, karena Prasasti yang dibuat sebelum Singhawikramawardhana tewas ini belum ditentukan batas-batasnya.
Melalui prasasti ini Grindrawardhana sekaligus memperingati 10 tahun meninggalnya Singhawikramawardhana yang tewas dalam perang antara dua Majapahit melawan pasukan Bre Kertabhumi pada tahun 1474. Karena itu, Prasasti Jiwu juga merupakan bukti adanya perang saudara di Kerajaan Majapahit yang terjadi antara tahun 1468 sampai tahun 1478. Perang ini berawal dari sengketa kekuasaan setelah meninggalnya Ranawijaya yang menjadi raja Majapahit hanya dalam 2 tahun, sedangkan putranya Bre Kertabhumi masih bayi. Setelah tiga tahun Majapahit tidak mempunyai raja, Dewan Kerajaan akhirnya memilih adik Ranawijaya, Girishawardhana, naik tahta. Raja ke-9 Majapahit ini memerintah selama 10 tahun dari 1456 sampai 1466 tanpa gejolak berarti. Suksesi setelah wafatnya Girisawardhana menjadi masalah karena, yang menggantikan adalah adiknya (Singhawikramawardhana), padahal Bre Kertabhumi sebagai pewaris tahta Ranawijaya sudah dewasa dan berhak menjadi raja Majapahit. 
Bre Kertabhumi melakukan pemberontakan di tahun Singhawikramawardhana naik tahta, dan berhasil merebut merebut Istana pada tahun 1468. Singhawikramawardhana yang berhasil menyelamatkan diri ke Daha, mendeklarasikan tetap sebagai raja Majapahit. Dalam periode 1468 sampai 1478 Majapahit punya dua raja, yaitu Bre Kertabhumi (Brawijaya V) yang bertahta di Istana Trowulan dan Singhawikramawardhana (Brawijaya IV) kemudian digantikan Girindrawardhana (Brawijaya VI) yang beristana di Daha. Dalam perang dua Majapahit ini, Singhawikramawardhana tewas pada tahun 1474 langsung digantikan oleh putranya Girindrawardhana. Kelanjutan perang antara dua raja ini berakhir dengan kemenangan Girindrawardhana pada tahun 1478, dimana Bre Kertabhumi dinyatakan gugur di kedaton.
Di tahun ini Majapahit kembali bersatu tapi sang raja tetap bertahta di Daha Kediri. Kitab Pararaton menyebut candra sengkala Saka Sunyanora Yganing Wong (1400 saka) yang kemudian disebut oleh Babat Tanah Jawa dengan candra sengkala Sirna Ilang Keraning Bhumi (1400 saka). Betul bahwa Majapahit di Trowulan telah hilang karena ibukota menjadi hanya di Daha Saja. Tapi Majapahit masih ada, dengan raja Girindrawardhana yang beristana di Daha. Kerajaan Majapahit ini kemudian bersaing dan berperang dengan Kerajaan Demak dan mengalami kekalangan di tahun 1501.