October 09, 2017

Prasasti Kudadu dan Prasasti Sukamerta

Agus Wibowo

Salah satu lempeng Prasasti Sukamerta
Setelah dilantik menjadi Raja Majapahit di tahun 1293, Raden Wijaya yang bergelar Rajasawardhana, segera menyampaikan rasa terima kasih kepada orang-orang telah berjasa kepadanya. Aria Wiraraja menjadi Pesangguhan di Istana Majapahit dan wilayah timur Majapahit berpusat di Lumajang, Ranggalawe menjadi Adipati Tuban, Lembu Sora menjadi Patih di Daha, dan Lembu Nambi menjadi Mahapatih di Kerajaan Majapahit. Selain itu, Raden Wijaya juga mengangkat tujuh (7) orang Darmaputra yang menjadi orang kepercayaannya di istana, terdiri dari Ra Kuti, Ra Semi, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, Ra Tanca dan Ra Pangsa. Jabatan Darmaputra ini hanya ada di masa Kekuasaan Raden Wijaya, dan hanya tercatat di Pararaton. Para Darmaputra ini diangkat dari para jawara atau penguasa wilayah (selevel kuwu) yang berjasa kepada Raden Wijaya sampai berhasil mendirikan Kerajaan Majapahit. Mereka diberikan gelar Radyan yang disingat Ra.

Selain memberikan posisi atau jabatan di istana, Raden Wijaya juga memberikan penghargaan berupa pembebasan pajak bagi beberapa desa, dua diantaranya adalah Desa Kudadu dan Desa Sukamerta. Pemberikan penghargaan kepada dua desa ini dikukuhkan dalam bentuk prasasti, yaitu prasasti Kudadu dan Prasasti Sukamerta. Dalam Prasasti Kudadu yang dibuat pada tahun 1294 menyebutkan bahwa “pejabat desa Kudadu mendapat anugerah raja adalah karena mereka telah berjasa memberikan perlindungan dan bantuan bagi raja sewaktu belum menjadi raja dengan nama Nararyya Sanggramawijaya”. Perlindungan pemerintah desa Kudadu ini dilakukan ketika Raden Wijaya dikejar oleh Pasukan Jayakatwang sewaktu melakukan penyerangan ke Istana Singasari pada tahun yang menewaskan Kertanegara pada tahun 1289. Berkat disembunyikan oleh pemimpin Desa Kudadu, Raden Wijaya berhasil menuju ke pantai untuk melanjutkan pelarian dengan berlayar ke Sumenep di Ujung timur Madura.

Desa Sukamerta mendapatkan penghargaan dari Raden Wijaya juga berkaitan dengan pelariannya dari kejaran pasukan Jayakatwang. Bedanya, apabila pemerinah desa Kudadu memberikan perlindungan selama persembunyian, Kepala Desa Sukamerta ikut dalam pelarian Raden Wijaya, bahkan ikut sampai mengarungi laut menuju ujung timur Pulau Madura dan bertemu Aria Wiraraja di Sumenep. Berkat bantuan Aria Wiraraja, Raden Wijaya mendapatkan kepercayaan dari Jayakatwang untuk membuka hutan Tarik yang kemudian menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Penghargaan kepada Desa Sukamerta dikukuhkan melalui Prasasti Sukamerta yang dibuat oleh Raden Wijaya pada tahun 1296.***