July 10, 2016

Prasasti Sangguran yang terdampar di Britania Raya

Agus Wibowo

Prasasti Sangguran di Skotlandia
tempointeraktif.com 
Prasasti Sangguran mengabarkan bahwa Kerajaan Medang Wangsa Sanjaya sudah melakukan ekspansi ke Jawa Timur sebelum melakukan eksodus 10 tahun kemudian yang dipimpn oleh mPu Sindok. Prasasti ini mempunyai informasi yang saling melengkapi dengan Prasasti Pucangan yangdibuat oleh Erlangga pada tahun 1042. Sayangnya prasasti tersebut kini terdampar di perbatasan Skotlandia – Inggris. Setelah menerima hadiah dari Raffles, Lord Minto yang menjadi Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris di awal abad 19, membawa prasasti Sangguran ke kampung halamannya di Skotlandia. 

Salah satu pimpinan kolonial Eropa di Indonesia yag tertarik dengan sejarah monarki nusantara adalah Thomas Stamford Raffles yang menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda dari 1811 sampai 1816. Begitu mendengar cerita tentang adanya batur bertulis yang indah di Malang, Raffles langsung meluncur di Jawa Timur. Kepadanya ditunjukkan prasasti Sangguran yang ditemukan di Batu Malang dan juga prasasti Pucangan yang ditemukan di lereng Gunung Penanggungan. Raffles pun lebih bergairah untuk melakukan pencarian lebih jauh, bahkan sampai ke Blitar. Dia menemukan komplek candi candi, yang di depannya ada Prasasti Palar, yang kemudian dikenal sebagai candi Penataran.

Dari temuan-temuanya di Jawa Timur dia tertarik dengan dua prasasti, salah satunya Prasasti Sangguran, lantas membawanya ke Batavia bersama Prasasti Pucangan. Kedua prasasti ini kemudian dibawanya ke Kalkuta untuk dipersembahkan kepada atasannya Gubernur Jenderal Inggis di India, Lord Minto. Dia akhir tugasnya di Inda, bangsawan Inggris asal Skotlandia ini membawa Prasasti Sangguran ke kampung halamannya di Skotlandia.

Mengapa Lord Minta tertarik dengan Prasasti Sangguran? Padahal secara fisik prasasti ini sangat berat, terbuat dari batu setinggi 1,6 meter, lebar 1,22 meter dan tebal 32,5 sentimeter. Tidak ada yang tahu pasti mengapa Lord Minto tertarik, selain keindahan dan mungkin isinya yang cukup jelas.

Atau mungkin Lord Minto tertantang kutukannya?  

Pesan yang tertulis di prasasti Sangguran memang cukup panjang untuk tulisan di batu. Ada 38 baris kalimat di bagian depan, 45 baris kalimat di sisi belakang, dan 15 baris kalimat di samping kiri. Prasasti Sangguran justru penting bagi sejarah Indonesia, karena ada misteri besar atas terjadinya eksodus besar kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok pada abad 1000. Diantara isi penting prasasti sebagai berikut:
Adalah dua Samgat, yaitu Samgat Madander Pu Padma dan Samgat Aggehan Pu Kundala, mendapat kehormatan menerima perintah Rakryan Mapatih I Hino Pu Sindok, dari Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga, untuk melaksanakan pungutan di Desa Sangguran”.

Hal ini menunjukkan pemberian hak memungut pajak oleh pemuka agama di Desa Sangguran. Penggunaannya khusus memenuhi keperluan pemeliharaan dan berbagai keperluan bangunan suci di Mananjung.

Satu hal yang cukup memunculkan pertanyaan adalah pernyataan bahwa mPu Sindok adalah seorang Rakryan Mapatih I Hinodi masa Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga. Patut menjadi pertanyaan karena Mpu Sindok kemudian dinilai menjadi pendiri Wangsa Isyana di Jawa Timur, yang menghadirkan sosok terkenal Airlangga yang mendirikan Kerajaan Kahuripan, yang kemudian mendirkan Kerajaan Kediri dengan yang dikenal dengan salah satu rajanya “Jayabaya”. Apakah mPu Sindok merebut dan membawa lari kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, ataukah dia mendapat tugas untuk membentuk pemerintahan darurat karena letusan Gunung Merapi yang menghancurkan pusat kerajaan Mataram.

Saking pentingnya prasasti ini, sampai dilindungi dengan kalimat kutukan agar tidak ada yang memindahkannya. Berikut kalimat kutukannya:
“Berbahagialah hendaknya Engkau semua hyang Waprakeswara, maharesi Agasti, yang menguasai timur, selatan, barat, utara, tengah, zenith, dan nadir, matahari, bulan, bumi, air, angin, api pemakan korban, angkasa pencipta korban, hukum, siang, malam, senja. Engkau yang berinkarnasi memasuki segala badan. Engkau yang dapat melihat jauh dan dekat pada waktu siang dan malam, dengarkanlah ucapan kutukan dan sumpah serapah kami. Jika ada orang jahat yang tidak mematuhi dan tidak menjaga kutukan yang telah diucapkan oleh Sang Wahuta Hyang Kudur. Apakah ia bangsawan atau abdi, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, wiku atau rumah tangga, patih, wahuta, rama, siapapun merusak kedudukan Desa Sangguran yang telah diberikan sima kepada Punta di Mananjung, maka ia akan terkena karmanya”.

Faktanya prasasti tersebut dipindahkan, bahkan kini ada di tanah milik keluarga pewaris Lord Minto di Skotlandia. Kesempatan untuk mengungkap rahasia yang mungkin disembunyikan di Prasasti Sangguran menjadi sulit dan mahal, dan bangsa Indonesia hanya bisa membaca dari yang diterjemahkan oleh sejarawan yang mengambdi kepada Raffles.

Apakah Lord Minto terkena kutukan Prasasti Sangguran? Tidak ada yang tahu pasti. Seorang sejarawan asal Inggris, Peter Brian Ramsey Carey, menyampaikan informasi bahwa keluarga Lord Minto sering tertimpa sial beruntun, sudah tidak punya kediaman lagi, karena sudah dijual pada Jepang dan banyak hutang.

Bagi Indonesia, prasati yang kini dikenal sebagai Minto Stone tersebut sangat penting untuk dikembalikan ke Indonesia. Bisa jadi sejarawan Indonesia bisa mengungkap rahasia tersembunyi apabila membaca sendiri, menterjemahkan sendiri, dan memungkinkan mengungkap rahasia di balik batu dengan teknologi yang ada saat ini. Seperti di balik lapisan tampak d Borobudur ternyata ada relief yang tersembunyi. ***