July 03, 2016

Rahasia Prasasti Wringin Pitu


Prasasti Wringin Pitu menuliskan negara bawahan Majapahit yang lebih banyak daripada yang dijelaskan di dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh mPu Prapanca. Prasasti ini juga belum menyebut adanya Bre Kertabhumi yang melakukan pemberontakan pada tahun 1466 dan menjadi raja dengan gelar Brawijaya V.
Prasasti Wringin Pitu dibangun pada tahun 1369 Saka atau 1447 Masehi, di masa Majapahit dipimpin oleh raja ke-8, Dyah Kertawijaya. Dialah raja pertama yang di Pararaton disebut menggunakan gelar Brawijaya. Pembangunan prasasti ini dimaksudkan untuk pengukuhan perdikan Dharma Rajasakusumaputra di Wringin Pitu yang sudah ditetapkan oleh neneknya, Sri Rajasaduhiteswari. Prasasti ini dinamakan Wringin Pitu karena dianugerahkan untuk desa yang terletak di Kabupaten Tulungagung, tapi prasasti ini dikenal juga bernama Prasasti Surondakan karena ditemukan di desa Surondakan Kabupaten Trenggalek.
Daerah Wringin Pitu dijadikan dharma perdikan karena di daerah ini ada tempat pendarmaan bagi ayah Raja Majapahit ke-4 Sri Rajasanegara, yaitu Parameswara Kertawardhana, yang meninggal dunia pada tahun 1386.
Apa konsekuensi menjadi daerah perdikan?
Berdasarkan prasasti yang ditulis di 14 lempeng tembaga tersebut, daerah Wringin Pitu diberikan beberapa hak khusus. Pertama, pihak perdikan dharma Rajasakusumapura mempunyai wewenang mengadakan peradilan mandiri dengan menggunakan hukum adat terhadap tindak kejahatan yang mengganggu daerah Waringin Pitu. Kedua, daerah ini dibebaskan dari intervensi oleh beberapa pejabat birokrasi Majapahit atau pegawai katrini. Ketiga, bebas dari pungutan pajak, dimana para pegawai pajak bea cukai baik tinggi maupun rendah dilarang bertugas melakukan segala pungutan di daerah ini.
Selain berisi pengukuhan daerah Wringin Pitu sebagai dharma perdikan, prasasi ini juga berisi informasi tentang struktur kekuasaan, nama-nama pejabat di Kerajaan Majapahit, dan beberapa kerajaan bawahan Majapahit yang dipimpin oleh keluarga dan sanak saudara raja Majapahit. Untuk pejabat negara disebutkan antara lain: tiga orang penasihat agung yang disucikan, lima orang menteri (salah satunya adalah jabatan Patih Majapahit bernama Gajah Geger), empat orang hakim negara, empat orang pakar ilmu agama Hindu, ilmu agama Budha, ilmu Waisesika, serta ilmu mantik dan bahasa.
Tentang wilayah negara, disebutkan adanya 14 negara atau keraton bawahan Majapahit, yang seluruhnya di bawah kekuasaan anggota keluarga raja Majapahit. Keluarga raja ini memimpin negara bawahan dengan gelar Bre, yaitu: 1. Bhre Daha (Dyah Jayeswari), 2. Bhre Kahuripan (Dyah Wijaya Kumara), 3. Bhre Pajang (Dyah Sureswari), 4. Bhre Wengker (Dyah Surya Wikrama), 5. Bhre Wirabhumi (Dyah Pureswari), 6. Bhre Matahun,  7. Bhre Tumapel (Dyah Sura Prabawa), 8. Bhre Jagaraga (Dyah Wijaya Duhita), 9. Bhre Tanjungpura (Dyah Suragarini), 10. Bhre Kembang Jenar (Dyah Sudarmini), 11. Bhre Kabalan (Dyah Sawitri), 12. Bhre Singhapura (Dyah Seripura), 13. Bhre Keling (Dyah Wijaya Karana), dan 14. Bhre Kelinggapura (Dyah Sudayita).
Nama-nama wilayah negara bagian ini berbeda dengan wilayah di masa pemerintahan Raja Hayamwuruk, menurut kitab Negarakertagama yang sebanyak 12 wilayah, yaitu: Daha, Kahuripan, Pajang, Wengker, Wirabhumi, Matahun, Tumapel, Paguhan, Kabalan, Pawanuan, Lasem, dan Mataram. Ada enam nama wilayah baru di prasasti Wringin Pitu, yaitu: Jagaraga, Kembang Jenar, Kabalan, Singhapura, Keling dan Kalinggapura. Tetapi ada 4 wilayah lama yang tidak disebutkan lagi, yaitu: Paguhan, Pawanuhan, Lasem, dan Mataram.
Dalam prasasti yang dibangun pada tahun 1447 ini, ada nama yang disebut dalam Kitab Pararaton belum disebutkan, yaitu Bre Kertabhumi. Nama Bre Kertabhumi tertulis di prasasti Jiwu yang dibangun atas perintah oleh Girindrawardhana pada tahun 1486. Prasasti ini dibuat  sebagai tanda pengukuhan anugerah tanah di Trailokyapuri kepada seorang Brahmana yang telah berjasa membantu Girindrawardhana mengalahkan Bre Kertabhumi dalam perang saudara selama 10 tahun. Bre Kertabhumi adalah putra raja Rajasawardhana, raja ke-8 Majapahit. Rajasawardhana bertahta selama 2 tahun dan wafat saat Bre Kertabhumi masih kecil, sehingga yang naik tahta adalah adiknya yaitu Girishawardhana. Pada tahun 1466, Bre Kertabhumi memberontak karena setelah Girishawardana wafat, bukan dia yang naik tahta  melainkan pamannya, Singhawikramawardhana.
Setelah dua tahun memberontak Bre Kertabhumi berhasil merebut Istana Wilwatikta di Trowulan pada tahun 1468. Singhawikramawardhana berhasil melarikan diri dan mendeklarasikan tetap sebagai raja Majapahit yang bertahta di Daha. Dalam periode 1468 sampai 1478 ada dua orang yang mengklaim sebagai Raja Majapahit, yaitu Bre Kertabhumi di Trowulan dan Singhawikramawardhana –yang setelah tewas tahun 1474 digantikan oleh putranya Girindrawardhana. Kelanjutan perang antara dua raja ini berakhir dengan kemenangan Girindrawardhana pada tahun 1478. Di tahun ini Majapahit kembali bersatu, tapi mengendalikan kekuasaan dari Istana Daha di Kediri. ***