September 07, 2016

Misteri Prapanca Penulis Negarakertagama


Salah satu bukti otentik dan sekaligus petunjuk tentang keberadaan Kerajaan Majapahit pada abad XIV adalah manuscrip di daun lontar yang kemudian dikenal sebagai Kitab Negarakertagama. Di kitab ini tertulis bahwa penulisnya adalah mpu Prapanca. Kitab yang ditulis di massa Raja Hayamwuruk ini memaparkan dan menjelaskan banyak hal tentang Kerajaan Majapahit, diantaranya tentang pendiri dan leluhur raja Majapahit, wilayah kekuasaan, struktur kekuasaan kerajaan dan lain-lain.


Catatan berbentuk Kakawin ini oleh penulisnya diberi judul “Decawarnana” yang berarti uraian tentang desa-desa. Nama ini kemungkinan berkaitan dengan proses penulisan yang dibuat berdasarkan perjalanan Pu Prapanca ke beberapa desa, mengikuti perjalanan Raja Hayamwuruk. Di beberapa tempat yang disucikan, Pu Prapanca bertemu dengan beberapa resi dan mendapatkan kisah tentang asal-usul Majapahit. Pada tahun 1740 kakawin gubahan Prapanca ini disalin dengan huruf Bali oleh Arthapamasah, yang kemudian menambahkannya dengan Negarakertagama. Selanjutnya judul Decawarnana dilupakan dan kakawin gubahan Pu Prapanca tentang Majapahit dikenal sebagai Kitab Negarakertagama.

Kakawin Negarakertagama ini menguraikan keadaan di keraton Majapahit di masa pemerintahan Prabu Hayam Wurukyang bertakhta dari tahun 1350 sampai 1389 Masehi. Negarakertagama secara keseluruhan terdiri dari 98 pupuh yang dibagi menjadi dua bagian: Bagian Pertama terdiri dari pupuh 1 sampai pupuh 49 sedangkan Bagian Kedua terdiri dari pupuh 50 sampai dengan pupuh 98. Substansi yang menarik adalah Bagian Pertama yang menjelaskan tentang Raja Majapahit dan keluarganya yang menjadi raja kerajaan bawahan, kota dan wilayah Majapahit, perjalanan Raja Hayamwuruk keliling wilayah Lumajang, silsilah raja-raja Singasari sebagai leluhur pendiri Kerajaan Majapahit sampai ke Hayamwuruk sebagai raja ke-4 Majapahit. Bagian kedua mulai pupuh 50 sampai pupuh 98 lebih banyak bercerita tentang kisah Hayamwuruk yang sedang berburu, perjalanan pulang ke Majapahit, oleh-oleh dari daerah yang dilalui, ziarah ke beberapa candi makam, tentang kematian Gajahmada, sampai puji-pujian para pujangga kepada Raja Hayamwuruk.
Mengapa Puji-pujian? Bisa dikatakan bahwa Negarakertagama memang bersifat pujasastra, yang bertujuan untuk mengagung-agungkan Hayamwuruk sebagai Raja Majapahit dan menggambarkan kebesaran Kerajaan  Majapahit. Meskipun begitu, puja puji yang diberikan oleh Pu Prapanca bukan asal mengagungkan hal palsu yang tidak ada. Kisah tentang raja-raja Singasari sebagai leluhur raja Majapahit terkonfirmasi dalam beberapa prasasti batu atau lempeng tembaga, diantaranya Prasasti Jiwu dan Prasasti Sidateka yang dibuat pada masa Raja Kertarajasa Jayawardhana yang dikenal sebagai Raden Wijaya. Klaim tentang kota dan wilayah Majapahit juga bisa dikonfirmasi dari prasasti yang dibuat di masa pasca-Raja Hayamwuruk, salah satunya adalah Prasasti Wringin Pitu –yang salah satunya menjelaskan struktur pemerintahan dan nama-nama raja kerajaan bawahan khususnya di Pulau Jawa. Salah satu konsekuensi Kitab Negarakertagama sebagai karya Pujasastra adalah tidak adanya informasi tentang kisah yang justru mengurangi keagungan Majapahit. Misalnya, tidak ada sedikitpun kisah tentang “Perang Bubat” yang berkaitan dengan rencana pernikahan Raja Hayamwuruk dengan Putri Raja Sunda Dyah Citraresmi pada tahun 1357.
Meskipun dimaksudkan sebagai puja-puji sang pujangga, Negarakretagama dianggap sangat berharga karena memberikan catatan dan laporan langsung mengenai kehidupan di Majapahit, dan bisa dikonfirmasi dengan bukti sejarah lain dalam bentuk prasasti. Karena itu Kakawin pada tahun 2008 Nagarakretagama diakui sebagai bagian dalam Daftar Ingatan Dunia (Memory of the World Programme) oleh UNESCO.
Siapa pu Prapanca?
Karena sebagai puja-puji, yang menjadi pertanyaan adalah “Untuk apa Pu Prapanca sampai membuat pujian bagi Raja Hayamwuruk dan mengagungkan Kerajaan Majapahit?” Pertanyaan kedua “Siapakah memangnya Pu Prapanca?”  
Pertanyaan kedua di atas penting untuk dijawab lebih dulu, menjadi sangat penting ditayakan karena nama “Prapanca” tidak ditemukan di prasasti manapun, bahkan di dalam struktur pejabat Kerajaan Majapahit yang diuraikan di Negarakertagama. Pertanyaan “Untuk apa Pu Prapanca sampai membuat pujian bagi Raja Hayamwuruk dan mengagungkan Kerajaan Majapahit?” tidak bisa dijawab apabila tidak diketahui “Siapa sebenarnya Pu Prapanca?”. Dari penelusuran dan analisis bahasa yang dilakukan oleh Profesor Slamet Mulya dalam buku “Negara Kertagama”, bisa diidentifikasi temuan sebagai berikut:
Pertama, Prapanca menyiratkan bahwa penulisnya memiliki nama yang terdiri dari 5 huruf –dalam hal ini huruf Jawa.
Kedua, dari tinjauan nama-nama pejabat di Istana Majapahit yang ada di Negarakertagama, ada satu pejabat keagamaan yang namanya terdiri dari 5 huruf yaitu: "na - da - na - da - ra"
Ketiga, lima huruf tersebut (na da na da ra) dimana “na” yang kedua dipangku dan mati, sehingga lima huruf tersebut secara utuh menjadi “Nadendra”.
Nama Nadendra adalah di dalam struktur pejabat di Kerajaan Majapahit, seorang Pembesar untuk urusan Agama Budha, yang bernama Dang Acarya Nadendra, yang merupakan pejabat istana yang ikut menyertai perjalanan Hayam Wuruk ke Lumajang pada tahun 1359. Nama Dang Acarya Nadendra sebagai Dharmadyaksa Kasogatan ini tertulis di Prasasti Trowulan yang dibuat pada tahun 1358.

Dari nama Nadendra yang ternyata adalah pejabat istana Majapahit, bisa dijawab pertanyaan “Untuk apa Pu Prapanca sampai membuat pujian bagi Raja Hayamwuruk dan mengagungkan Kerajaan Majapahit?”, yaitu: pertama, karena dia ikut dalam perjalanan Hayamwuruk ke Lumajang dan melakukan dialog dengan juru kunci candi makam dari raja-raja terdahulu dan kedua, salah satu tugas sebagai Dharmadyaksa Kasogatan adalah membuat catatan tentang kebijakan Raja, menuliskan dokumen resmi kerajaan,  termasuk menuliskan naskah prasasti atau piagam keputusan raja.