September 09, 2016

Misteri Sumur Bandung dan Hari Jadi Kota Bandung


Prasasti Sumur Bandung
Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 wilayah Pulau Jawa memasuki babak baru yang damai, tidak ada peperangan perebutan kekuasaan antar para pewaris tahta Kerajaan Mataram yang selalu melibatkan VOC dalam peperangan. Situasi aman dan damai di Pulau Jawa dan wilayah lain di Nusantara ini berlangsung sampai memasuki awal abad 19, dan kerajaan-kerajaan yang ada maupun VOC tidak mengeluarkan banyak anggaran untuk membiayai peperangan. Tapi yang terjadi pada VOC sebagai perusahaan justru mengherankan –bukannya mengalami kemajuan malah menghadapi kebangkrutan. Hal ini terjadi karena dua hal: pertama, penyalahgunaan kekuasaan para pejabat VOC dan kedua, kekalangan Negara Belanda dalam perang melawan Perancis. Napoleon Bonaparte mengambil alih Negeri Belanda, dan membuat keputusan penting: “Membubarkan VOC pada 1 Januari 1800 dan Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih kekuasaan terhadap wilayah Indonesia (Hindia Belanda)".

Salah satu Gubernur Jenderal Belanda di Hindia Belanda yang terkenal adalah Herman Willem Daendels, yang berkuasa dari tahun 1808 sampai dengan 1811. Hal yang membuatnya terkenal adalah pembangunan “Jalan Raya Pos” yang menghubungkan Pulau Jawa dari Anyer di ujung barat sampai ke Panarukan di ujung timur. Di Jawa Barat, jalur yang dilewati salah satunya adalah wilayah cekungan Bandung. Setelah menerima pesan dari Deandels, Bupati Bandung Wiranatakusumah II mencari tempat yang cocok sebagai pusat kota baru yang berada di jalur Jalan Raya Pos yang dimaksudkan oleh Deandels. Dalam penelusurannya, RA Wiranatakusumah II menemukan sumur di tepi Kali Cikapundung, yang dinamakan sebagai Sumur Bandung. Di dekat Sumur Bandung ini kemudian dibangun jembatan yang menghubungkan sisi barat dan sisi timur Kali Cikapundung.
Selesai pembangunan jembatan di atas Kali Cikapundung pada tahun 1810, Gubernur Deandels bersama  Bupati Wiranatakusuma II berjalan kaki melewati jembatan ke  sisi timur Kali Cikapundung. Mereka terus berjalan ke arah timur sejauh 100 meter, kemudian Deandels menyampaikan pesan kepada RA Wiranatakusumah II (sambil menancapkan tongkatnya ke tanah) agar “Bila saya datang kembali ke sini suatu saat nanti, saya harap di sini sudah dibangun sebuah kota”. Sebagai kelanjutan pesannya tersebut pada 25 September 1810, Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini sebagai pusat pemerintahan Bandung Priangan, dengan titik yang ditunjuknya dengan tongkat komando sebagai sebagai titik “0”. 
Sejak saat itu, pembangunan pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung dilaksanakan. Di kemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi Kota Bandung. Pemerintahan Kabupaten Bandung yang sebelumnya berpusat di daerah sekitar Kali Citarum di daerah Dayeuh Kolot, dipindah ke pusat pemerintahan baru di sisi kiri-kanan Kali Cikapundung. Tanggal surat keputusan yang dikeluarkan oleh Herman William Deandels ini kemudian dijadikan sebagai hari berdirinya Kota Bandung dan titik yang ditunjuknya sebagai titil 0 (nol) kilometer Kota Bandung. Pada tahun 2004, Gubernur Jawa Barat mempertegas “Titik Nol” tersebut dengan membangun Prasasti “0 Km” Kota Bandung dan menempatkan kereta api kuno menghiasi titik lokasi tersebut. 
Kini kebanyakan orang hanya mengenang Herman William Deandels berkaitan dengan pendirian Kota Bandung, yang berkaitan dengan tiga hal, yaitu: (1) Jalan Pos yang melintasi Kota Bandung, (2) titik nol kilometer Kota Bandung yang ditunjuk tongkat Deandels, dan (3) surat keputusan Deandels tentang pembangunan pusat pemerintahan pada tanggal 25 September 1810.
Sesungguhnya ada hal lain yang penting dikenang berkaitan pendirian Kota Bandung, yaitu Sumur Bandung. Dari sumur yang ditemukan oleh RA. Wiranatakusumah II inilah ditentukan titik pembangunan Jembatan Kali Cikapundung yang membuka pembangunan jalan ke arah timur wilayah Bandung. Sumur Bandung yang ditemukan di awal abad 19 tersebut hingga kini masih ada dan terawat. Hanya saja posisinya seperti tersebunyi karena terletak di dalam Kantor PLN Kota Bandung, sehingga tidak banyak masyarakat yang tahu. Sumur Bandung dalam bentuk “sumur” yang terletak di teras dalam Gedung Kantor PLN ini ditutup dengan penutup berbentuk mahkota dan masih menghasilkan air jernih. Di hari-hari tertentu, Sumur Bandung didatangi pengunjung untuk mengambil air yang dipercaya mengandung berkah dan kekuatan.
Di sumur ini ada prasasti  Sumur Bandung yang tertulis tanggal 25 Mei 1811 atas nama RA Wiranatakusumah II. Di prasasti tersebut tertulis “Sumur Bandung Mere Karahayuan ka Rahayat Bandung, Sumur Bandung Mere karahayuan ka Dayeuh Bandung, Sumur Bandung Kahayuning Dayeuh Bandung”. Sumur Bandung ini menjadi nama Kelurahan dan Kecamatan tertua di Kota Bandung, yaitu Kecamatan Sumur Bandung.
Di hari jadi Kota Bandung, selain mengingat Deandels dengan “0 Km”-nya, patut juga dikenang “Sumur Bandung” yang ditemukan oleh RA Wiranatakusumah sebagai titik awal pusat pemerintahan Kabupaten Bandung di awal abad 19.
25 September 2016 Kota Bandung genap berusia 20enja6 tahun, Semoga makin mampu memberi kesejahteraan bagi rakyat Bandung, semoga makin mantap dalam menjalankan mandat “Mere Karahayuan ka Rahayat Bandung”. "Dirgahayu Bandung Juara"