October 03, 2016

Ekspedisi Pamalayu Membendung Ekspansi Pasukan Mongol

Gus Bowii

Kapal lewat Perairan Bangka Selatan
Abad 13 ditandai dengan ekspansi kekaisaran Mongol ke seluruh daratan Asia dan Eropa. Dari wilayah Gurun  Gobi di Utara wilayah China, Pasukan Mongol yang dipimpin Jenghis Khan bergerak ke Barat sampai Eropa, ke Barat Daya sampai Semenanjung Arab menghancurkan Kekhalifan Abassyah. Ke arah selatan mereka menembus kokohnya tembok China dan membangun Dinasti Yuan. Dinasti di bawah pimpinan Kubilai Khan terus merangsek ke tenggara menguasai wilayah Indochina.
Kertanegara yang berkuasa di Kerajaan Singasari memperhatikan pergerakan Pasukan Mongol atau Tentara Tar Tar dan melakukan langkah antisipasi. Pada tahun 1275, Sri Kertanegara mengirim ekspedisi Pamalayu, untuk menggalang kerajaan-kerajaan di wilayah Melayu untuk membangun koalisi menahan ekspansi Pasukan Mongol yang berkuasa di utara, di daratan China. Ekspedisi untuk membangun koalisi ini sempat menghadapi perlawanan dari Kerajaan Darmasraya, tapi kemudian misi membangun kerjasama antar-kerajaan di wilayah Nusantara ini meraih hasil. Hal ini membuat Kertanegara berani dengan tegas menolak dan mengusir utusan Pasukan Mongol yang datang menyampaikan pesan Kubilai Khan agar Singasari tunduk di bawah kekuasaan Dinasti Yuan di China.

Pada tahun 1286, Kertanegara mengirim lagi ekspedisi Pamalayu yang dipimpin Kebo Anabrang. Ekspedisi ini bertujuan mengukuhkan kesepakatan yang sudah dihasilkan dalam ekspedisi sebelumnya. Rombongan ekspedisi ini membawa Arca budha Amogapasa yang di sisi belakangnya ditulis piagam pada lempeng batu yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Padang Roco. Berdasarkan prasasti di bagian belakangnya, Arca Amogapasa dimaksudkan sebagai tanda persekutuan dari Kerajaan Singasari di Pulau Jawa kepada Kerajaan Darmasraya yang berkuasa di Pesisir Timur Pulau Sumatera. Sebagai timbal balik, Raja Darmasraya mengirimkan dua orang putrinya untuk diperistri Raja Singasari.
Begitu rombonga ekspedisi Pamalayu sampai di Pulau Jawa pada tahun 1293, ternyata sudah terjadi perubahan besar di Pulau Jawa. Pertama, Kerajaan Singasari sudah tidak ada lagi dan Raja Kertanegara tewas diserbu Pasukan Gelang-Gelang yang dipimpin Jayakatwang. Kedua, Jayakatwang yang membangun istananya di Daha juga sudah hancur oleh serbuan Pasukan Sangrama Wijaya dan  Pasukan Mongol yang mau membalas dendam kepada Raja Kertanegara. Ketiga, Pasukan Mongol sudah diusir oleh Pasukan Sangrama Wijaya dengan tipu muslihat dan gerilya. Keempat, telah berdiri kerajaan Majapahit dan Sangrama Wijaya dilantik sebagai raja yang ditahbiskan sebagai anggota Wangsa Rajasa, penerus Kerajaan Singasari.
Singkat cerita, dua putri kerajaan Melayu yang ikut rombongan Ekspedisi Pamalayu diperistri oleh dua orang. Sang kakak yang dikenal sebagai Dara Putih dijadikan istri oleh Sangrama Wijaya dan adiknya Dara Jingga menjadi istri kepala rombongan Ekspedisi Pamalayu, Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrahma yang dikenal akrab sebagai Kebo Anabrang. Dara Putih menurunkan seorang putra, Jayanegara, yang kemudian menjadi Raja Kedua Majapahit pada tahun 1312. Dara Jingga mempunyai seorang putra, Adityawarman, yang tinggal di istana setelah Kebo Anabrang dibunuh oleh Lembu Sora dalam skandal Pemberontakan Ranggalawe. Adityawarman berjasa dalam membangun kekuatan Majapahit di wilayah barat, berhasil menjalankan misi diplomasi ke Kerajaan di China, kemudian pulang untuk menjadi penguasa di Kerajaan Melayu.