July 01, 2016

Prasasti Bukit Gombak tentang Raja Swarnabhumi Kelahiran Majapahit




Gus Bowii


Di Sumatera Barat ditemukan beberapa prasasti yang dibuat oleh Adidtyawarman, yang tinggal di negeri Swarnabhumi, salah satunya adalah Prasasti Pagaruyung I. Prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Bukit Gombak, sesuai nama tempat ditemukannya, yaitu Bukit Gombak yang berada di wilayah Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Prasasti ini dibuat dari batu putih kuarsa yang ditulis dengan huruf Jawa Kuno pada  tahun 1278 saka (wasur mmuni bhuja sthalam) atau tahun 1357 masehi. Prasasti Bukit Gombak ini juga dilengkapi dengan prasasti Adityawarman lainnya, yaitu Prasasti Pagaruyung II sampai Prasasti Pagaruyung VIII. Bedanya  dengan yang lain, Prasasti Bukit Gombak ini menyebutkan nama pembuat prasasti, yaitu Mpungku Dharmma Dwaja bergelar Karuna Bajra.

June 28, 2016

Misteri Keris Tunggu Kasur

Awal Muharram, saya numpang mobil seorang teman senior dalam perjalan dari Jalan Raden Patah di belakang Mabes Polri menuju ke Jalan Saharjo dekat Tugu Pancoran. Teman saya, sebut saja inisialnya RM HS ini adalah seorang PNS yang bekerja di Kementerian Perumahan Rakyat dan Departemen Pekerjaan Umum. Di luar profesinya sebagai PNS, pria kelahiran Madiun Jawa Timur ini adalah guru silat dari perguruan silat terkenal, yang banyak pengikutnya di beberapa daerah di sekitar Gunung Lawu.
Sebagai orang Jawa yang memegang teguh nilai dan budaya Jawa, teman senior saya ini mempunyai keahlian khusus orang Jawa, yaitu merawat dan membersihkan keris. Dia menyimpan banyak keris, dan di rumahnya banyak keris dipajang di ruang tamu dan ruang-ruang lain, bahkan ada lemari khusus untuk menyimpan keris. Menurutnya, keris-keris tersebut bukan miliknya semua, malah lebih banyak yang merupakan titipan dari pemilik atau pewarisnya. Setidaknya ada dua alasan orang menitipkan keris, pertama titip untuk dijual apabila ada yang cocok dan berminat dan kedua, pewaris yang menitipkan keris karena tidak tahu harus diapakan. Kelompok kedua ini menitipkan keris ada yang karena merasa sudah tidak jamannya, malas merawat, perasa tidak nyaman, atau menganggap keris sebagai benda klenik yang harus dijauhi. Semua keris yang dititipkan ke dia diberikan tanda tulisan tentang pemilik dan pewarisnya, agar mudah jika sewaktu-waktu mau diambil kembali.
Di tahun baru menurut Kalender Jawa atau tahun baru Hijriyah, yaitu di bulan Muharam atau bulan Suro, keris yang ada di rumahnya makin banyak, karena ada orang minta tolong dicucikan keris. Mereka ini merupakan kalangan masyarakat yang mau menyimpan keris tapi tidak sempat atau tidak tahu cara merawat keris sebagaimana layaknya keris diperlakukan agar tidak rusak, tampilannya tetap bagus. “..dan auranya baik,” katanya.
Di tengah kemacetan jalan Gatot Subroto, saya pun bertanya untuk menjaga situasi tetap santai, “Pak, sebenarnya keris itu apa sih? Katanya ada keris sakti..”
Sejenak diam berpikir, dia memberi jawaban sambil terus mengemudi.
“Pertama, kalo kita lihat benda yang tampak berbentuk keris, sebenarnya belum tentu keris, Mas. Bisa jadi itu keris-kerisan bisa juga memang keris keneran,” dia menjawab dengan yakin, tapi saya tidak ngerti apa maksudnya keris-kerisan.
“Maksudnya Pak?” tanyaku.
“Keris-kerisan itu,” lanjutnya “...hanya logam biasa yang dibentuk seperti keris, runcing, meliuk-liuk, tapi tidak ada pamornya, logamnya tidak ditempa berlapis-lapis dan berlipat-lipat. Malah ada yang berupa lempengan seng yang digunting berbentuk keris”.
Selanjutnya dia menjelaskan dengan panjang-lebar:
“Sederhananya, keris bisa dilihat dari logam bahannya. Ada paduan logam utama dan logam pamornya. Pamornya bisa berupa nikel, logam yang berasal dari meteor, maupun titanium. Logam disusun berlapis, ditempa, dilipat, ditempa lagi sampai ratusan kali sampai membetuk garis corak hasil perpaduan warna logam.”
Dia menjelaskan dengan mantap sambil nyetir, terkesan bercanda tapi tidak Nampak tersenyum.
“Nah, keris yang benar-benar keris ini juga ada dua jenis,” lanjutnya tiba-tiba dan tentu saja membuat saya penasaran.
Pertama, keris untuk gaya, yang fungsinya sebagai simbul reputasi, menunjukkan kelas sosial pemiliknya. Ya.. kalo sekarang ibarat sedan mercy-lah, simbolkan kelas sosial atas, yang bonafit, kredibel. Keris model begini logamnya bagus, pamornya berkelas, kadang dilapisi emas, ditatahkan batu permata jamrud, safir bahkan berlian. Pada masa Kerajaan dulu keris diberikan corak khusus yang menandakan lisensi kerajaan. Pemiliknya bisa dianggap kaya, punya kuasa, atau dipercaya orang yang sedang berkuasa. Jadi pemiliknya mempunyai reputasi atau ‘awu’ yang kuat.” 
Dia berhentik sejenak, lalu saya bertanya lagi “Kalau keris yang konon punya kesaktian bagaimana pak?”
“Soal keris yang dianggap sakti, beda lagi ceritanya,” katanya. “Dalam proses pembuatannya, si pembuat memasukkan energi ke dalam keris pada saat penempaan dan pelipatan logam.”
Aku sedikit penasaran tapi tidak tanya, “Energi apa yang dimasukkan dan bagaimana memasukkanya”.
“Energi yang dimasukkan tergantung kepada yang memesan keris, apa posisinya dan berapa biayanya.” Dia melanjutkan seolah tahu pertanyaan saya. Kali ini dia sambil senyum.
“Kalo seorang kopral dengan anggaran terbatas, energi yang dimasukkan adalah aura berani tempur, lincah, kuat dan mungkin juga kebal, karena memang itu yang dibutuhkan oleh orang di dalam pertempuran.  Jika yang memesan adalah Kapolres, beda lagi energinya. Apalagi keris yang dipesan oleh seorang jenderal yang posisinya tinggi dan punya anggaran ‘cukup’. Energi yang diinstal adalah auranya berpikir strategis, ngobrolnya cerdas, terpercaya, berwibawa, kawan terkesima dan anak buah patuh dengan instruksinya.”
Tapi di sini ada bahayanya mas,” katanya membuat saya kembali menyimak. “...yang bahaya adalah Jenderal yang punya keris seorang prajurit tempur. Pangkatnya jenderal, posisi panglima, tapi auranya pingin tempur terus, mikirnya tidak strategis, dan kalo anak buah menghadapi kesulitan dia malah ingin maju tempur sendiri. Mungkin energi yang dimasukkan adalah energy buaya, jadi auranya buaya.. he he.”
Saya ikut tertawa, jadi ingat “Truno 3” kawannya Anggodo, jangan-jangan salah nyimpan keris milik seorang brigadir yang beraura buaya.
Lucu juga penjelasan kawan RM HS ini. Saya jadi ingat seorang teman, teman asal Solo, yang ngaku punya keris “tunggu kasur”. Teman saya yang dikenal teman-teman sebagai bangsawan dam tinggal di dalam benteng ini pernah memberi tahu bahwa keris ini berfungsi menemani pemiliknya dalam melakukan aktivitas di atas kasur.
Kali ini saya iseng bertanya “Ada teman saya orang Solo yang punya keris tunggu kasur. Apakah bapak tahu tentang keris tunggu kasur?”
Dia menoleh sejenak sambil tersenyum tengil, “Wah, yang itu saya tidak tahu mas. Tanya saja langsung pada pemiliknya”.

Tentu saja saya tidak puas dengan jawaban teman saya ini. Saya juga tidak tahu apakah dia benar-benar tidak tahu ataukah sebenarnya tahu tapi tidak mau menjawab. Bagaimana pun, seperti umumnya keris, keris tunggu kasur tetaplah menjadi misteri.*** 

Berburu Senja di Kaimana




Banyak orang sering mendengar ungkapan “Senja di Kaimana” yang konon begitu indah, tapi yang saya alami sebaliknya –senja tertutup mendung dan justru Kehujanan di Kaimana yang saya dapatkan. Kisah ini terjadi awal Juni 2009. Singkat kisah, berhubung tokoh utama yang diharapkan berhalangan datang, saya pun jadinya on duty untuk hadir dalam acara di Kabupaten Kaimana Papua Barat. Waktunya sangat mepet dan sebenarnya punggung masih pegal-pegal sisa perjalanan darat selama 21 Jam di Aceh karena gagal naik Susi Air –dari Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Barat, Meulaboh, menyeberangi hutan ke Pidie, Lhok Seumawe sampai ke Aceh Timur.

Membongkar Rantai Kemiskinan

Gus Bowii

Dalam 10 tahun terakhir, komitmen negara untuk mengentaskan kemiskinan membesar secara signifikan. Dari aspek anggaran komitmen pemerintah RI untuk upaya ini sangat tinggi, dari tahun 2004 sampai 2011, alokasi untuk pengentasan kemiskinan meningkat drastis sebesar 400%. Hanya saja besarnya anggaran tersebut tidak diimbangi penurunan angka kemiskinan, dalam periode yang sama angka kemiskinan di Indonesia hanya turun sebesar 3,37%. Kuat diduga target Milenium Development Goal untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia menjadi sebesar 7,5% di tahun 2015 tidak akan tercapai.

Gagal Empati pada Korupsi?

Gus Bowii

Makin kuatnya upaya pemberantasa korupsi di Indonesia sepertinya tidak lantas mengurangi  atau menurunkan tingkat korupsi di Indonesia. Pengungkapan kasus-kasus korupsi dan penangkapan koruptor yang makin banyak dan level pelaku yang makin tinggi posisinya, ternyata diikuti juga dengan tetap banyaknya kasus korupsi baru. Baik di level daerah maupun di level nasional, di kalangan eksekutif maupun legislatif, bahkan di kalangan penegak hukum: jaksa, hakim yang menangani kasus korupsi, dan kepolisian dengan kasusnya terkini “Pengadaan Simulator SIM”.

Gus Dur & Sosok Supra Human

Gus Bowii

Serat Pararaton menceritakan masa kecil Ken Arok sebagai anak Dewa Brahma, bukan sekedar titisan. Al kisah, suatu hari sewaktu sang Brahma melayang-layang melihat seorang perempuan muda mencuci di kali. Ada sesuatu yang memancar, menarik perhatian dan Brahma pun mendarat. Singkat cerita, terjadilah proses pembuahan itu dan lahirlah Ken Arok sebagai hasilnya. Dilahirkan sebagai anak dewa, logika kehebatan Ken Arok sudah ditentukan sejak dalam kandungan. Bahwa masa kecilnya pernah dibesarkan seorang maling yang mengasah ketajamannya, menjadi pemimpin perampok di masa muda dan menjadi murid Begawan Lohgawe lantas menjadi sekedar pelengkap kisah pengembangan kapasitas. 

Mitos Seputar Bulan Suro

Gus Bowii

Pertengahan Oktober 2015 terjadi 2 kali tahun baru, yaitu tahun baru Kalender Hijriah pada 14 Oktober 2015 dan tahun baru Kalender Jawa pada 15 Oktober 2015. Bagi masyarakat Islam datangnya tahun baru disambut dengan suka cita, terutama karena tahun baru Hijriah identik dengan Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah yang menjadi awal keberhasilan dan kejayaan syiar Islam. Kegembiraan lain juga datang dari adanya hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Berdasarkan tradisi Arab, bahkan sebelum Islam, hari Asyura atau hari ke-10 bulan Muharram diperingati sebagai hari suka cita. 

Parodi Jaman Batu dan Kejayaan Akik

Gus Bowii

Dalam babak sejarah manusia dikenal masa yang disebut sebagai Jaman Batu, yaitu suatu masa di mana manusia mempunyai teknologi tercanggih untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan teknologi yang terbuat dari batu. Peralatan yang terbuat dari batu digunakan untuk mata tombang untuk berburu, pisau untuk memotong daging, kampak unuk menebang pohon, pipisan untuk menggiling atau menumbuk biji-bijian, dan lain-lain. Selain teknologi batu, manusia juga membuat peralatan dari kayu, tulang dan tanduk binatang dan lainnya.

Ekspansi Mongol dan Hari Jadi Kota Surabaya

Agus Wibowo


Di abad 13, Bangsa Mongolia berubah cepat menjadi kekuatan militer yang kuat, ekspansif dan mendunia. Negeri China yang dilindungi tembok besar sepanjang  21.196,18 km bisa ditaklukkan. Di tahun 1214, Dinasti Jin yang berkuasa di Beijing menyerah dan bersedia menjadi koloni Mongol di bawah kepemimpinan Jenghis Khan.  Kaisar Jin menyerahkan seorang puteri untuk diperistri Jenghis Khan, 500 bocah laki-laki dan perempuan, 3000 kuda, dan 10.000 gulungan sutra. Setelah menaklukkan China di arah Timur, Jenghis Khan melanjutkan ekspansi ke negara-negara di sisi Barat. Tahun 1219 M, Jenghis Khan membawa 200.000 pasukannya bergerak ke Khawarezm di sebelah Barat melalui Transoxiana.  Ia berhasil menduduki kota-kota yang makmur seperti Bukhara dan Samar Khand dan membunuh semua penduduknya sebagai pembalasan dendam. Kemudian mereka berangkat ke kota-kota lainnya hingga korban tewas mencapai jutaan jiwa. Pembantaian ini dilakukan karena penguasa Kerajaan Khawarism Syah Muhammad menolak takluk, bahkan membunuh utusan Jenghis Khan yang dianggap sebagai mata-mata.  

Prasasti Sunda Kelapa dan Hari Jadi Jakarta

Agus Wibowo

Di awal abad 16, pesisir utara Pulau Jawa banyak dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Islam yang berkembang cepat setelah pudarnya kerajaan Majapahit. Di sebelah timur dan tengah pelabuhan-pelabuhan dibawah kendali KeKesultanan Demak, di sisi bagian tengah sampai barat dikuasai Kesultanan Cirebon, dan di Ujung Barat Pulau Jawa pelabuhan-pelabuhan dikuasai Kesultanan Banten. Dari sedikit pelabuhan yang belum dikuasasi oleh kerajaan Islam adalah Sunda Kelapa di muara Kali Ciliwung. Sunda Kelapa masih dibawah kontrol kekuasaan Kerajaan Sunda yang berpusat di pedalaman, di hulu Kali Ciliwung, di Bogor sekarang.

Untuk tetap mempertahankan akses ekonomi ke Laut Jawa, Kerajaan Sunda berupaya memperkuat Sunda Kelapa, agar tidak jatuh ke poros Demak-Cireon-Banten. Mendapat informasi bahwa ada kekuatan besar yang berkuasa di Malaka, Raja Sri Baduga mengutus Pangeran Surawisesa untuk melakukan kontak dan lobi untuk membangun kekuatan militer di Sunda Kelapa. Kekuatan Militer Portugis yang berkuasa di Semenanjung Malaka terterik untuk bekerjasama dengan Kerajaan Sunda. Jika Kerajaan Sunda punya kepentingan untuk mempertakankan akses ekonomi ke Laut Jawa, Portugis berkepentingan untuk menjamin mendapat akses perdagangan lada dari timur nusantara menuju Selat Malaka melalui Laut Jawa.

Pendirian Kerajaan Majapahit dalam Prasasti Kudadu

Gus Bowii

Di tahun 1290 Kerajaan Singasari berada di puncak kejayaannya. Dipimpin Raja Kertanegara, kerajaan yang berpusat di Kediri Jawa Timur ini menyatukan dua Kerajaan di Jawa Timur dan memimpin kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dalam satu koalisi untuk menaklukkan Kerajaan di Bali dan menguatkan kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Setelah mengusir utusan dari Kerajaan Mongol yang meminta Singasari menjadi negara bawahan, Singasari melakukan misi militer dan diplomatik besar-besaran ke wilayah Melayu. Sri Kertanegara percaya diri bahwa upayanya ke sisi barat nusantara ini bisa menghadang kekuatan dari utara, dari Kerajaan Mongol yang mungkin menuntut balas.

Sayangnya mobilisasi kekuatan militer besar-besaran ini menciptakan kelemahan militer di pusat kerajaan. Jayakatwang dari Gelang Gelang yang belum lama mendapatkan pengampunan dari Raja Kertanegara melakukan serangan cepat langsung ke istana kerajaan berhasil melumpuhkan kekuatan militer yang tersisa, berhasil membunuh Raja Kertanegara dan para pembesar kerajaan yang tinggal di pusat kerajaan. Salah satu keponakan Raja Kertangera, Sangrama Wijaya, berhasil melarikan diri dan selamat sampai Pulau Madura dan mendapatkan perlindungan dari penguasa Sumenep, Aria Wiraraja. Keberhasilan ini berkat pertolongan pimpinan dan warga Desa Kudadu. Setelah beberapa hari diburu pasukan Jayakatwang, rombongan ia lolos dari buruan karena disembunyikan, diberi pasokan makanan, dan dikawal sampai mendapatkan jalan aman sampai ke Sumenep.

Penguasa Sumenep, Aria Wiraraja, memberikan perlindungan kepada Sangrama Wijaya, memintakan ampun kepada Jayakatwang, hingga mendapatkan ijin membuka hutan Tarik di Trowulan, dimana ia bisa mengkonsolidasi kekuatan sisa-sisa Singasari. Dengan “memanfaatkan” Pasukan Mongol yang hendak menuntuk balas kepada Sri Kertanegara, ia berhasil mengalahkan Jayakatwang, dan setelah mengusir pasukan Mongol dengan tipu muslihan dan gerilya, ia mendirikan Kerajaan Majapahit di Trowulan. Ia ditahbiskan menjadi Raja Majapahit dengan gelar “Kertarajasa Jayawardhana Anantawikramottunggadewa“. Sejarah mengenalnya sebagai Raden Wijaya.

Atas jasa-jasa pemimpin Desa Kudadu, Raden Wijaya memberikan penghargaan (anugrah) kepada pejabat dan masyarakat Desa Kudadu, dengan menetapkan  Desa Kudadu sebagai sīma atau tanah perdikan untuk dinikmati oleh pejabat Desa Kudadu dan keturunan-keturunannya sampai akhir zaman. Dengan menjadi Sima, pejabat desa berhak mengambil manfaat dari tanah yang dikuasainya tanpa dipungut pajak oleh kerajaan, baik untuk pertanian, memanen buah dan kayunya dan lain-lain. Penetapan Desa Kudadu sebagai Sima ini dilakukan pada 11 September 1294 melalui Prasasti Kudadu, yang dipahat dalam beberapa lempeng tembaga dengan tulisan aksara Kawi Majapahit.

Prasasti Kudadu ditemukan di lereng Gunung Butak yang masuk dalam jajaran Pegunungan Putri Tidur yang terletak di wilayah perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. Prasasti yang juga dikenal sebagai Prasasti Butak ini, selain menetapkan Desa Kudadu sebagai Sima, juga menuliskan kisah heroik pimpinan Desa Kudadu yang memberikan persembunyian, makan-minum, sampai ke Ramban, tempat di mana Raden Wijaya dan rombongannya, termasuk Ranggalawe, Nambi, Lembu Sora dan lain-lain melanjutkan pelarian sampai ke Sumenep dengan selamat.

Prasasti Kudadu menjadi bukti tentang proses transisi dari Kerajaan Singasari sampai terbentuknya Kerajaan Majapahit, situasi konflik dan gambaran relasi kehidupan masyarakat desa dengan pembesar kerajaan. Prasast ini juga memberikan konfirmasi tentang kebenaran kisah tentang Kerajaan Majapahit yang ditulis oleh Prapanca dalam Negara Kertagama pada lembar-lembar daun lontar. Pemimpin dan warga Desa Kudadu memberikan perlindungan kepada Raden Wijaya dan mereka memanen anugrah yang layak.***

Prasasti Pucangan, Dokumen Kerajaan Kahuripan yang Terdampar di Kalkuta

Agus Wibowo

Tepat di hari bahagia menyambut pernikahan putri Raja Dharmawangsa dengan Airlangga Putra Raja Udhayana, istana Kerajaan Medang mendapatkan serangan dari utara. Serangan tiba-tiba oleh pasukan Kerajaan Warawuri yang didukung Kerajaan Sriwijaya ini membuat istana Kerajaan Medang hancur. Serang yang terjadi satu tahun setelah serangan Kerajaan Medang ke Kerajaan Sriwijaya ini menewaskan Raja Dharmawangsa. Airlanggaberhasil menyelamatkan diri dan melarikan diri ke hutan bersama pengawalnya.

Sembilan Pemberontakan di Masa Majapahit

Agus Wibowo

Kerajaan Majapahit dikenal sebagai kerajaan maritim besar di Indonesia, dan memiiki rentang kekuasaan sampai seluruh pulau di wilayah nusantara. Dari ujung barat sampai ke Aceh, semenanjung Malaka, bersekutu dengan kerajaan-kerajaan di Thailand, Vietnam dan Kamboja. Di Utara pengaruh kekuasaan Majapahit sampai ke Kepulauan Zulu di Selatan Philipina dan di ujung Timur sampai ke Papua. Di balik kebesaran Majapahit sebenarnya banyak terjadi pemberontakan, baik di masa awal pendirian di tahun 1293 maupun pasca kekuasaan Hayamwuruk hingga runtuhnya pemerintahan terakhir yang berpusat di Daha Kediri oleh pemberontakan Demak pada tahun 1512.

Model Suksesi Masa Majapahit yang Dilematis

Gus Bowii

Kerajaan Majapahit dikenal dan dikenang karena kekuasaan dan pengaruhnya yang besar di wilayah Nusantara.  Di wilayah Jawa Bagian Timur sampai Jawa Tengah,  kerajaan bawahan yang dipimpin oleh saudara dan kerabat raja. Di luar Pulau Jawa, Kerajaan Majapahit di bawah duet Patih Gajahmada dan Raja Hayamwuruk, berhasil  menyatukan kerajaan-kerajaan di wilayah nusantara untuk menjaga kedaulatan bersama dan menjamin keamanan jalur perdagangan laut dari perairan Maluku, Laut Jawa, Selat Malaka sampai Laut Cina Selatan.

Tiga Pewaris Tahta yang Mendirikan Kerajaan Sendiri

Gus Bowii

Dalam sejarah kerajaan di Indonesia, ada tiga pearis tahta yang memilih untuk tidak megambil hak warisnya. Tiga tokoh dalam sejarah monarkhi nusantara tersebut adalah Airlangga, Sangrama Wijaya dan Raden Patah. Airlangga adalah pewaris tahka Kerajaan Bali, tapi memilih mendirikan Kerajaan Kahuripan yang kemudian dipecah menjadi Kerajaan Kediri dan Jenggala. Sangrama Wijaya adalah pewaris tahta Kerajaan Sunda yang memilih tingga di Singasari kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit. Raden Patah adalah putra Bre Kertabumi yang menjadi Raja Majapahit Timur –Raja Majapait Pertama yang bergelar Brawijaya. Perebutan Kekuasaan yang terjadi di Majapahit membuat Raden Patah dan Pendukungnya mendirikan Kerajaan Demak untuk konsolidasi entitas muslim di pesisir utara Pulau Jawa.

Republik 1000 Monarki

Indonesia kini menjadi salah satu negara berbentuk republik dengan level demokrasi yang cukup baik, setidaknya diakui oleh negara lain dan jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, maupun Afrika. Warga negara mempunyai hak dan ruang yang besar untuk terlibat dalam menentukan arah politik negara. Rakyat bisa memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat secara langsung, baik di MPR RI, DPR RI, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota. Mulai tahun 2005, rakyat Indonesia memilih kepala negara secara langsung.