December 12, 2017

Menegakkan Lamin Adat Dayak di Mahakam Ulu

Agus Wibowo


Lamin Adat Kampung Mamahak Teboq
Salah satu yang dikenal dari masyarakat suku Dayak di Kalimantan Timur adalah Lamin Adat atau rumah lamin. Rumah ini dikenal sebagai rumah panggung kayu yang tinggi dan panjang, yang bisa dihuni oleh beberapa keluarga. Rumah panjang yang dibangun dengan kayu ulin atau kayu besi ini bahkan ada yang dihuni oleh 100 orang. Meskipun begitu lamin adat tidak selalu tinggi, besar dan panjang yang bisa menampung beberapa keluarga. Hanya saja lamin adat memang merupakan bangunan yang selalu ada di di kampung atau desa di masyarakat dayak.
Dari beberapa kampung di Kecamatan Long Hubung dan Kecamatan Apari Kabupaten Mahakam Ulu, ada juga lamin adat yang tidak terlalu besar meskipun termasuk bangunan terbesar di kampung. Secara fisik, Lamin Adat bisa dikenali dari ornamen yang kelihatan dari luar, yaitu adanya ukiran atau patung kayu di bagian depan atau di kiri kanan tangga untuk naik ke Lamin Adat. Patung atau ukiran ini merupakan simbol perlindungan atau penjagaan dari gangguan atau serangan gaib kepada warga.
Merapalkan doa di tiang pancang utama Lamin Adat
Eksistensi Lamin Adat sangat penting bagi masyarakat Dayak, termasuk yang di Kalimantan Timur. Selain merupakan bangunan pertama yang dibangun, Lamin Adat juga segera "ditegakkan" jika mengalami kerusakan. Contoh tentang hal ini terjadi Kampung Tiong Ohang di Kecamatan Long Apari Kabupaten Mahakam Ulu. Bangunan kayu besar di kampung yang berbatasan dengan Kalimantan Tengah serta dekat dengan Kalimantan Barat dan perbatasan dengan Malaysia ini terbakar pada tahun 201x. Masyarakat segera mengumpulkan dana dan mendirikan kembali Lamin Adat mereka. Pendirian kembali Lamin Adat dilakukan dengan didahului upacara adat dan dikerjakan melalui gotong royong.
Gotong Royong Menegakkan Lamin Adat
Unsur utama yang ditegakkan adalah tiang pancang utama yang terbuat dari kayu ulin besar dan berukir pada bagian atasnya. Tiang berbentuk gelondongan kayu ini merupakan tiang utama rumah lain yang terbakar. Sebelum ditegakkan, tiang pancang utama atau soko guru dan lubangnya dibacakan mantra dan disiramkan air doa.
Penegakkan tiang utama Lamin Adat dilakukan secara gotong royong, melibatkan kaum laki-laki maupun perempuan. Setelah tiang utama ditegakkan, proses konstruksi Lamin Adat dilanjutkan yang dikerjakan oleh ahli-ahli atau tukang kayu.

Dewan Adat
Lamin Adat tidak terpisahkan dengan dewan adat yang selalu ada di kampung-kampung masyarakat adat. Berdasarkan naskah profil kampung di Kabupaten Mahakam Ulu, ada Dewan Adat yang beranggotakan 5 orang. Keberadaan Dewan Adat ini sangat penting bagi masyarakat Kabupaten Mahakam Ulu, sehingga disahkan dengan Surat Keputusan Bupati. Selain berperan dalam pelaksanaan upacara adat, Dewan Adat juga memegang peran penting dalam peradilan adat, terutama untuk upaya resolusi jika terjadi konflik.
Pembangunan Lamin setelah Tiang Utama Ditegakkan
Ada beberapa upacara adat yang kuat dijalankan oleh masyarakat Dayak di Kalimantan Timur, ada upacara kelahiran, perkawinan sampai upacara kematian. Ada juga upacara untuk mulai menanam dan memanen padi -dan banyak upacara adat lainnya.
Dalam upacara adat pertanian, sosok bangsawan mempunyai posisi penting dalam masyarakat adat. Tokoh yang dalam Bahasa Dayak disebut sebagai Sufii ini mempunyai posisi istimewa di saat mulai menanam padi maupun di saat memulai panen. Penanaman padi yang disebut nugal dimulai dengan gotong royong menanam padi untuk Sufii kemudian dilanjutkan dengan menanam padi secara bergiliran untuk petani lainnya. Pada saat panen pun hampir serupa. Awalnya padi dipanen sedikit lalu dimasak untuk upacata adat, kemudian dilanjutkan dengan panen atau ngotom secara gotong royong bergiliran sampai selesai.
Model ritual adat yang melibatkan sosok sufii ini dipraktekkan di kampung-kampung wilayah dataran rendah seperti di Kecamatan Long Hubung maupun di wilayah hulu yang berbukit di Kecamatan Long Apari. Di kampung-kampung selevel desa di jantung Borneo ini memang adat dijunjung tinggi. Bukan sekedar sebagai upacara melainkan juga untuk membangun sinergi sosial dan harmoni dengan alam.

Kehidupan masyarakat Dayak di hulu Sungai Mahakam memang sangat penuh tantangan alam, karena di kelilingi hutan luas dan menggantungkan akses pada aliran sungai, yang sering deras, banyak riam dan batu yang berbahaya. Bahaya yang bisa mendatangkan keindahan bagi para petualang yang menyukai tantangan alam dan ingin mengenal adat.

November 10, 2017

Misteri Hari Pahlawan 10/11 yang Tepat di Hari Proklamasi Majapahit

Agus Wibowo

Tugu Pahlawan Surabaya (Wid)
Tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan dan Hari Jadi Kota Surabaya, serta Hari Jadi Kerajaan Majapahit pada tahun 1293. Tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Pahlawan merujuk pada perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang terjadi di Surabaya tiga bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Perang ini terjadi antara Pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Inggris melawan puluhan ribu pemuda dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang berkumpul di Surabaya. 

Perang terjadi setelah pihak sekutu mengancam akan membumi hanguskan Surabaya apabila semua laskar bersenjata di Surabaya tidak menyerahkan senjata yang dirampas dari Pasukan Jepang. Ancaman yang disebar melalui pesawat udara tidak digubris, bahkan Bung Tomo membakar semangat pemuda Surabaya untuk terus melawan. 

Karena ancaman tidak dituruti, Pasukan Sekutu menyerang dengan semua kekuatan, mengebom dari kapal yang merapat di muara Kali Mas, menurunkan pasukan tank, serta pasukan infantri bersenjata lengkap. Ribuan pemuda tewas dalam peristiwa ini. Laskar dan pemuda di Surabaya tidak sanggup memberikan perlawanan berarti karena senjata terbatas, berupa senjata rampasan dari gudang Jepang, golok, pedang maupun bambu runcing.
Sebagian besar pemuda yang terlibat dalam perang Surabaya adalah santri dari pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang digerakkan oleh para Kiai yang patuh kepada Kiai Haji Hasyim Asyari. Perang habis-habisan pada 10 November 1945 ini memunculkan pertanyaan karena ternyata bertepatan dengan hari proklamasi Kerajaan Majapahit pada tahun 1293.  Meskipun proklamasi Kerajaan Majapahit dilakukan di Tarik dekat Mojokerto, wilayah Surabaya juga menjadi ajang pertempuran antara pasukan Raden Wijaya dan Aria Wiraraja dengan Pasukan Mongol yang dikirim Dinas Yuan dari China. 

Pertanyaan berikutnya "Apakah para Kiai NU tahu bahwa tanggal 10 November adalah “hari jadi Majapahit” dan karenanya berusaha membuat peristiwa besar di hari tersebut? Sepertinya tidak. Dari film "Sang Kiai" tanggal 10 November 1945 tidak dipilih secara sengaja mengaitkan dengan 10 November 1293. Dalam film diceritakan bahwa Bung Tomo menginginkan penyerangan ke Pasukan Sekutu dilakukan pada 8 November, tapi Kiai Hasyim meminta untuk menunggu Kiai Abbas yang datang dari Buntet Cirebon.

Ketika Bung Tomo bertanya “Mengapa harus menunggu Kiai Abbas?” Kiai Hasyim menjawab “..kamu akan kalah jika perang tanggal 8 November. Menunggu mbah Abbas karena beliau orang yang tidak pernah tidur di malam hari, karena hatinya takut putus hubungan dengan Allah. Doanya makbul”.

Perang tidak terjadi pada 8 November dan tidak juga terjadi pada 9 November, melainkan pada 10 November 1945. Kalau 10 November bukan dipilih oleh komandan pasukan republik maupun para Kiai, bisa jadi tanggal 10 November dipilih oleh Pasukan Sekutu. Kemungkinan ini lebih masuk akal, karena Pasukan Inggris tahu lebih banyak tentang sejarah Pulau Jawa, karena mereka pernah menugaskan Stamfor Raffles sebagai Gubernur Jenderal wilayah Jawa dan Sumatera di tahun 1811 sampai tahun 1816. 

Selama menjalankan tugas di Pulau Jawa, Raffles sangat berminat pada sejarah Pulau Jawa. Ia menyusuri prasasti-prasasti yang ada di Pulau Jawa termasuk di Jawa Timur. Bebeberapa prasasti bahkan dibawa ke India untuk dibaca oleh ahli huruf Palawa dan bahasa Sanskrit, kemudian menerbitkan The History of Java. Di kemudian hari ia membawa beberapa ahli sejarah, diantaranya J. Brandes yag menterjemahkan Kitab Pararaton dan H. Kern yang menterjemahkan Kitab Negarakertagama. Pada dua kitab tersebut diperoleh informasi tentang 10 November 1293. Informasi dari Raffles yang mantan gubernur jenderal di Pulau Jawa bersifat A1 dan sangat penting. Pertanyaan berikutnya, "Mengapa 10 November 1293 yang penuh kemenangan dan kejayaan dijadikan moment penghancuran dan pralaya agung di Surabaya?” Tidak ada yang tahu pasti.

Bisa jadi pasukan sekutu yang dipimpin Inggris ingin mengecilkan dan menindas kebanggaan 10 November 1293. Tapi tekat pemuda, para kiai dan santri tidak patah oleh ancaman kematian massal demi mempertahankan kemerdakaan. Bagaimana pun darah yang tumpah di Surabaya pada 10 November 1945 makin menyuburkan semangat Indonesia untuk tetap merdeka dan tetap berdaulat. Semangat Hari Pahlawan dan Selamat Hari Jadi Kota Surabaya.***


November 09, 2017

Prasasti Sojomerto dan Eksistensi Wangsa Syailendra di Jawa

Agus Wibowo

Salah satu prasasti paling tua yang ditemukan di daerah Jawa Tengah adalah prasasti baru yang ditemukan di Kabupaten Batang, yaitu prasasti yang berangka tahun 602 saka atau 680 masehi, yang dikenal sebagai Prasasti Sojomerto. Dinamakan demikian karena prasasti ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Jawa Tengah. Bisa dikatakan ini merupakan prasasti tertua yang ditemukan di Jawa Tengah. Prasasti dalam lempeng batu ini memiliki lebar 43 cm, tinggi 78 cm dan tebal 7 cm. Naskah yang dipahat di batu ditulis dalam aksara Jawa Kuno sepanjang 11 baris, tapi dalam bahasa Melayu Kuno.

Prasasti diawali dengan sembah dan puja kepada para dewa, terutama Dewa Siwa, kemudian dilanjutkan dengan identitas yang membuat prasasti, yaitu Dapunta Syailendra. Ada tiga orang lain yang disebut oleh Dapunta Syailendra, yaitu ayahnya yang bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati dan istrinya bernama Sampula.

November 07, 2017

Hari Jadi Kabupaten Tuban dan Kepahlawanan Ranggalawe

Agus Wibowo

Tuban sudah dikenal sebagai daerah pelabuhan sejak masa Kerajaan Singasari, tapi Pemerintah Kabupaten Tuban menetapkan tanggal 12 Agustus 1293 sebagai hari jadi Kabupaten Tuban. Mengapa tanggal tersebut yang dipilih?

Dalam sejarah kejatuhan Kerajaan Singasari di tahun 1292 sampai berdirinya Kerajaan Majapahit pada 10 November 1293, Ranggalawe menunjukkan pengabdian dan kesetiaannya kepada Raden Wijaya. Ketika Raden Wijaya diperintah oleh Kertanegara untuk menumpas kerusuhan di utara Singasari Ranggalawe yang mengawal. Ketika Raden Wijaya berusaha membebaskan putri-putri Kertanegara yang ditawan oleh pasukan Jayakatwang, Ranggalawe juga yang ikut mengamuk. Ranggalawe juga yang mengusulkan Raden Wijaya pergi ke Sumenep untuk meminta perlindungan pada ayahnya, Aria Wiraraja.

November 02, 2017

Keindahan Puja Puji di Jaman Baheula

Agus Wibowo

Bahkan durjana takut berbuat jahat takut akan keberaniannya. Dewa-Bhatara (yang) lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah. Begitu salah satu pujian Mpu Prapanca kepada Raja Hayamwuruk. 

"Kid jaman now" punya gaya dan bahasanya sendiri untuk memberi apresiasi. Meskipun begitu nenek moyang menyediakan banyak stok gaya jika si kid mulai mati gaya dengan gayanya sendiri. Salah satu sumber dari masa lalu adalah Kitab Negarkertagama, karya Mpu Prapanca yang didentifikasi oleh Profesor Slamet Mulyana sebagai seorang pembesar urusan agama Budha bernama Dang Acarya Nadendra. Kitab ini cenderung diingat berkaitan dengan wilayah kekuasaan Majapahit yang seluas Nusantara dan juga tentang Sumpah Palapa yang diikrarkan oleh Gajahmada.

October 28, 2017

Kotak Pandora Raffles dan Sumpah Pemuda



89 Tahun Sumpah Pemuda

Agus Wibowo


28 Oktober diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda di Indonesia. Al kisah, pada 1928 beberapa organisasi pemuda lintas suku, agama dan organisasi kepemudaan lain mengadakan konggres di Jakarta dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Mereka berikrar berbangsa satu, bertanah air satu dan menjunjung bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia.
Peta Indonesia/Badan Iinformasi Geospasial
Beberapa pemuda yang terlibat diantaranya: Soenario dari Madiun, Johanes Leimina dari Ambon, M. Yamin dari Minagkabau, Amir Syarifudin Harahap dari Pemuda Batak, serta Muhammad Roem, AK Gani, Sie Kong Liong, Mangunsarkoro, Singodimejo dan banyak lagi termasuk Kartosuwiryo. Konggres ini melanjutkan konggres tahun 1926 di mana Mohammad Yamin mulai mengusulkan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

October 27, 2017

Peradaban Arab dari pra-Islam, Kekhalifan, Hingga Kejayaan Turki Utsmani



Agus Wibowo

Judul Buku: The History of Arab . Penulis: Philip K. Hitti. Halaman 981 + ix, Penerbit: Serambi Jakarta, 2006. Terbit pertama 1937.

Hingga pertengahan abad 19, masyarakat dunia belum menyadari bahwa bahasa Assyiria, Babilonia, Ibrani, Aramaik, Arab dan Etiopia memiliki kesamaan yang menakjubkan dan karenanya dianggap berasal dari rumpun yang sama. Beberapa kesamaan diantaranya semuanya memiliki akar kata kerja terdiri dari 3 konsonan, hanya mengenal dua penunjuk waktu yaitu telah dan sedang, dan perubahan kata kerja mengikuti pola yang sama. Fakta ini memunculkan pertanyaan "Di mana tempat asal bangsa ini?" 

Ada kelompok ilmuwan punya teori bahwa mereka berasal dari Afrika Timur ada juga yang berteori bahwa mereka berasal dari Mesopotamia. Teori bahwa mereka dari Mesopitamia dianggap Philip K. Hitti sebagai bertentangan dengan hukum sosiologi di mana masyarakat bergerak dari masyarakat pertanian menjadi nomaden. Teori Afrika Timur justru memunculkan banyak pertanyaan daripada menjawab. Penulis buku ini menganggap teori bahwa mereka berasal dari jazirah Arab lebih masuk akal. 

Misteri 5 Abad Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon



Yustiyadi 
Twitter@yuzemerald

Gerbang Masjid Auung sang Cipta Rasa (Yustiyadi)
Salah satu bangunan bersejarah yang menarik di Cirebon adalah Masjid Sang Cipta Rasa. Para peziarah walisongo ke Cirebon menjadi lebih afdol apabila juga mengunjungi masjid ini. Masjid sang Cipta Rasa dibangun pada zaman Sunan Gunung Jati pada tahun 1408 dan masih kokoh hingga kini. Gaya arsitektur masjid mengambil perpaduan gaya Jawa dan Hindu Majapahit. Hal ini bisa dilihat dari gapura di bagian halaman masjid dan serambi, serta atap masjid yang menyerupai rumah Joglo, rumah adat masyarakat Jawa. Secara umum, masjid ini mempunyai 9 pintu masuk, yang terdiri dari satu pintu utama dan masing-masing 4 pintu di di sisi kanan dan sisi kiri.

October 26, 2017

Parodi Harta Karun Keris Kembar

Alkisah, di lereng Gunung Ungaran, ada sebuah desa yang tenteram dan damai. Masyarakatnya makmur hidup dari pertanian yang subur di lereng gunung dan mudah menjual produk pertanian ke kota yang mudah dijangkau. Udara masih segar, air sungai mengalir jernih dan sumur pun mengeluarkan air jernih-segar di kedalaman 3- 5 meter.
Keris di Museum Nasional
Suatu hari datang orang yang tidak dikenal berpakaian serba putih, memakai ikat kepala putih merapikan rambutnya yang putih. Kedatangan pria tua serba putih ini segera menarik perhatian karena penampilannya yang tidak biasa dan belum ada yang mengenalnya. Tukang tambal ban yang ada di pertigaan jalan masuk desa menyapa dan bertanya. “Selamat siang bapak? Bapak mencari siapa dan bapak ini dari mana?” tanya tukang tambal ban.

Kerajaan Kutai, Dari abad V dan Masih Eksis Hingga Masa Milenial



Agus Wibowo

Istana Kutai Kertanegara
Kutai merupakan salah satu kerajaan tertua di wilayah Nusantara, eksis di abad 4 Masehi, eksis di masa Majapahit, eksis di masa penjajahan Belanda bahkan masih ada di masa reformasi. Berdasarkan bukti tertulis Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia, bahkan menjadi batas masa pra-sejarah dengan masa sejarah. Memang ada kerajaan yang diduga lebih tua, yaitu Salakanegara di ujung barat Pulau Jawa, tapi informasi yang mengabarkan kerajaan ini kebanyakan berasal dari berita luar negeri, baik berita China maupun Eropa.

October 25, 2017

Misteri Kekuasaan yang Runtuh di Puncak Kejayaan

Agus Wibowo 

Ritual Jamas Keris/Puspito
Kerajaan Medang Wangsa Isyana yang dibangkitkan kembali oleh Mpu Sindok di Jawa Timur mencapai puncak kejayaan pada raja keempat, Darmawangsa Teguh. Bukan hanya bisa bertahan dari serangan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Medang berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Timur, dan bisa membangun koalisi dengan Kerajaan Bedahulu di Pulau Bali melalui perkawinan Raja Udayana dengan Mahendrata, adik Darmawangsa. Dengan kekuatan koalisi tersebut, Darmawangsa bisa mengusir Wangsa Syailendra kembali ke Kerajaan Sriwijaya, bahkan bisa melakukan serangan melalui laut ke pusat Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera.

October 24, 2017

Pulau Jawa dalam Pengaruh Empat Peradaban Dunia

Agus Wibowo


Buku Nusa Jawa Silang Budaya merangkul keseluruhan sejarah Pulau Jawa sambil menganalisis unsur-unsur dasar kebudayaannya. Dalam hal ini Profesor enis Lombard merintis sebuah pendekatan baru yag sangat orisinil, dengan mengamati berbagai lapisan budaya, mulai dari yang tampak nyata sampai yang terpendam dalam sejarah. Setiap lapisan budaya diuraikan sejarah perkembangannya dan juga unsur masyarakat yang mengembangkannya. Buku ini menyajikan unsur-unsur budaya modern sebagai hasil dari pengaruh Eropa, kemudian unsur budaya yang terbentuk sebagai dampak dari hubungan dengan Cina dan kedatangan Islam, dan di lapisan paling dalam unsur budaya yang dipengaruhi oleh peradaban kerajaan-kerajaan lokal yang menganut sistem religi dari India.

Misteri Saat Petruk Menjadi Raja

Agus Wibowo


Petruk Paling Jangkung dalam Keluarga Punakawan
Alkisah gemparlah para bangsawan dan raja di kerajaan Astina, Amarta, dan Dwarawati. Entah darimana tiba-tiba muncul kerajaan baru Sonyawibawa dengan raja baru yang menyandang gelar seperti sebaris mantra “Belguelbeh Tongtongsot”. Dia berhasil membangun koalisi atau persekongkolan dengan Batara Guru, rajanya para dewa, dan membuat keonaran dan ontran-ontran di seantero jagat. Para raja dan bangsawan Astina, Amarta, dan Dwarawati pun menghentikan perang antar-mereka bahkan sepakat membentuk blok untuk melawan raja baru yang pongah dari Sonyawibawa. Bala tentara dikerahkan bersama dari segala penjuru untuk mengepung kerajaan yang muncul dari antah berantah ini. Tapi semuanya bisa dipukul mundur. Semua makin penasaran “Siapakah gerangan raja baru ini?” Belum pernah terjadi ada raja yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Aria Wiraraja, Politisi Kunci di Balik Berdirinya Majapahit

Agus Wibowo
Gerbang Keraton Sumenep
Sudah banyak yang tahu bahwa Aria Wiraraja sangat berjasa dalam pendirian Kerajaan Majapahit. Alkisah, setelah runtuhnya Kerajaan Singasari oleh serangan Jayakatwang Bupati Gelang-Gelang yang berkedudukan di wilayah Madiun kini, Aria Wiraraja memberikan perlindungan kepada seorang pangeran Kerajaan Singasari, Sangramawijaya, agar mendapatkan kepercayaan dari Jayakatwang. Sangramawijaya dipercaya untuk membuka lahan di Hutan Tarik sebagai lahan perburuan, cocok dengan hobi Jayakatwang.

Budaya Malu Versus Seppuku*


Agus Wibowo

Bagi orang Jepang, apalagi dari golongan Samurai, janji atau ikrar berarti kesiapan untuk mati. Sebab, bila janji atau ikrar tidak terpenuhi, keyakinannya menuntut untuk ber-seppuku, membelah perut sendiri dengan sebilah pisau, tanpa perlu paksaan fisik atau ancaman senjata. Bahkan, bila penagih janji mencegahnya pun, kematian akan tetap dijalanani. Bagi mereka mati dengan ksatria jauh lebih baik daripada tidak bisa menaruh muka karena beban rasa malu dan bersalah. Di situlah letak nilai tanggungjawab dan kekesatriaan.

Tentu saja di sini ana nilai lain yang justru jauh lebih penting daripada sekedar kesiapan untuk mati dan kewajiban untuk bunuh diri, yaitu proses sebelum kematian menjadi keharusan, dalam hal ini “waktu yang harus diisi dengan berusaha keras, membanting tulang, memeras keringan, disertai perencanaan yang matang untuk kemudian bisa memenuhi janji.

October 22, 2017

Candi Tikus di Situs Majapahit di Trowulan Mojokerto


Untuk ribrik travel, kali ini 1000monarki.com menampilkan informasi tentang Candi Tikus yang ada di kawasan situs Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto. Naskah ini ditulis oleh bung Satria yang ada di https://plus.google.com/collection/4QIbDE.  Redaksi mendapatkan ijin untuk menampilkannya di sini, dengan beberapa editing di beberapa bagian, terutama penyusunan paragrafnya.Silakan. Redaksi. 

Candi Tikus terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Dari jalan raya Mojokerto -Jombang, di perempatan Trowulan, membelok ke kiri jika dari arah Surabaya, melewati Kolam Segaran dan musium Trowulan lalu di perempatan belok ke kiri kurang lebih 2 km setelah melewati gapura Bajang Ratu. Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914.Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan Bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985.

Rahasia Perebutan Kekuasaan di Demak, Pasca Tewasnya Sultan Trenggono

Agus Wibowo

Masjid Agung Demak/Babad Demak
Kerajaan atau Kesultanan Demak memantapkan eksistensinya setelah mengalahkan Majapahit yang dipimpin oleh Girindrawardhana dan memperoleh legitimasi sebagai penerus Majapahit karena Sultan Fatah adalah putra dari selir Bre Kertabhumi, raja Majapahit bergelar Brawijaya V. Tapi legitimasi berdasarkan garis keturunan tidaklah cukup. Meskipun di sisi barat hanya ada sekali pemberontakan yang dilakukan oleh putra Girindrawardhana di tahun 1512, kerajaan-kerajaan bawahan Majapahit di bagian Timur Gunung Kawi menyatakan tidak tunduk di bawah kekuasaan Kesultanan Demak.

Perang Majapahit - Demak (1478) bukan Perang Bapak vs Anak

Agus Wibowo

Setelah Perang Dua Majapahit yang berpusat di Trowulan dan yang beristana di Daha Kediri, dimenangkan oleh Girindrawardhana yang memerintah di Daha. Berita perang dua Majapahit ini dituis dalam Pasasti Jiwu oleh Girindawardhana pada tahun 1486. 

Mengetahui kekalahan apahnya, putra Bre Kertabhumi yang menjadi Bupati Demak mendeklarasikan Demak sebagai kerajaan merdeka, lepas dari Kerajaan Majapahit pimpinan Girindrawardhana. Kerajaan baru di pesisir utara Jawa ini berbentuk Kesultanan, yang didukung oleh kekuatan muslim yang tumbuh pesat di pesisir utara Pulau Jawa, seperti: Semarang, Lasem, Tuban dan Surabaya. Kesultanan Demak yang dipimpin Sultan Fatah menyatakan perang terhadap Majapahit yang ibukotanya sudah pindah ke Daha, dan telah menjadi lemah oleh perang saudara selama 10 tahun. Dalam buku Babat Demak karya R. Atmodarminto, Kerajaan yang berpusat di Daha tidak disebut sebagai Majapahit, melainkan sebagai Kerajaan Keling.

October 21, 2017

Cincin Keris yang Unik dan Berpamor

Agus Wibowo


Pertama kali tahu ada teman menggunakan cincin yang disebutnya cincin keris saya pun penasaran. Cincin ini berbentuk seperti cincin biasa, tanpa batu, warna hitam dan ada garis-garis lembut warna putih seperti serat. Ini model yang langka, dan di jaman sedang ngetop-ngetopnya cincin batu akik, saya makin tertarik pada cincin keris ini.

October 20, 2017

Majapahit Masih Eksis setelah Sirna Ilang Kertaning Bhumi 1400/1478

Agus Wibowo

Sirna Ilang Kertaning Bhumi menjadi pernyataan yang iconic dan dipercaya sebagai tahun berakhirnya Kerajaan Mahapahit yang dikenal sebagai kerajaan yang berhasil menyatukan kepulauan nusantara. Pernyataan di dalam Babad Tanah Jawi yang melambangkan tahun 1400 saka tersebut juga diartikan sebagai “hancur lebur ditelan bumi”.Sebenarnya apakah yang terjadi?

Dalam periode 1468 sampai 1478 Kerajaan Majapahit mempunyai dua raja yang saling berperang. Di istana Wilwatikta di Trowulan Bre Kertabhumi mengangkat dirinya sebagai Raja Majapahit setelah berhasil menggulingkan pamannya, dari tahta dan melarikan diri ke Kediri. Singhawikramawardhana yang berhasil lolos dari penyerangan, mendirikan istana di Daha Kediri dan tetap menyatakan sebagai Raja Majapahit.

Prasasti Ngantang yang Beritakan Kejayaan Jayabhaya atas Jenggala

Agus Wibowo

Sejak Erlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Panjalu (Kediri) di tahun 1042, dua kerajaan yang dipimpin anak-anak Erlagga selalu terlibat dalam persaingan dan peperangan. Di awal masa pemerintah Pasukan Jenggala yang dipimpin Raja Mapanji Garasakan berhasil mengalahkan Sri Samarawijaya Raja Panjalu, tapi tidak berhasil menguasai Kerajaan Panjalu. Sri Samarawijaya digantikan oleh putranya Sri Jayawarsa Sastraprabu. Kedua kerajaan tetap berdiri sejajar meskipun terlibat dalam persaingan dan perang. Kerajaan Kediri berturut-turut dipimpin anak cucu Sri Samarawijaya, yaitu: Sri Jayawarsa Sastraprabu (1104-), Sri Bameswara Sakalabhuana (1117), dan Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya ( -1159). Kerajaan Jenggala, setelah Mapanji Garasakan (1044-1052), berturut-turut dipimpin oleh anak dan cucunya, yaitu: Alanjung Ahyes (1052-1059) dan Samarotsaha (1059). Tidak ada prasasti yang menyebutkan siapa raja Jenggala setelah Samarotsaha. Di tahun 1185 muncul lagi nama Raja Jenggala bernama Sri Maharaja Girindra, yang menjadi mertua Raja Panjalu Sri Kameswara.

October 19, 2017

Rahasia Kemunculan Ken Arok dan Prasasti Lawadan

Agus Wibowo

Setelah Tunggul Ametung tewas terbunuh pada tahun 1201, Raja Kertajaya mengangkat Ken Arok sebagai Adipati Tumapel. Mendapatkan dukungan dari para brahmana pengikut Syiwa yang kecewa dengan sikap diskriminatif Kertajaya, Ken Arok kemudian menyatakan kemerdekaan Tumapel pada tahun 1204, dan dia dilantik sebagai raja dengan gelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Di tahun 1205 Pasukan Kediri melakukan serangan untuk menghukum Tumapel, tapi pasukan Kertajaya mengalami kekalahan dan melarikan diri ke selatan ke daerah Lawadan. Raja Kertajaya berhasil memulihkan pasukan dan kembali ke istananya di Kediri.

Misteri Konflik Kependudukan dalam Prasasti Wurudu Kidul

Agus Wibowo

Prasasti Warudu Kidul
Nasib Dhanadi, penduduk Mataram Kuno, betul-betul sial. Betapa tidak, dua kali ia harus menghadapi gugatan terhadap status kependudukannya. Gugatan pertama dialami ketika dituduh sebagai golongan budak raja dan tidak berhak memiliki kemerdekaan. Dhanadi mengadu ke pengadilan kerajaan dan setelah ditelusuri sampai kakek-nenek dan buyutnya, pengadilan memutuskan bahwa Dhanadi adalah penduduk asli, yang merdeka dan bukan budak.  Keputusan pengadilan kerajaan dituliskan pada piagam kerajaan yang berbentuk lempeng tembaga pada 20 April 922.Dengan piagam tersebut, Dhanadi punya status kewarganegaraan yang jelas dan tidak akan menghadapi tuduhan lagi sebagai golongan budak raja. 

October 18, 2017

The Mystery of the Heroes Day 10/11 Same with Majapahit Day 1293

Agus Wibowo
November 10 is celebrated as Heroes Day, Surabaya City Day, and Majapahit Kingdom Anniversary in 1293. 10 November commemorated as Heroes Day refers to the war to defend Indonesia's independence that occurred in Surabaya three months after the Proclamation. This war involves a British-led Allied Troop with tens of thousands of young men from East and Central Java who gathered in Surabaya.
The war came after the Allies threatened to bombard and destroy Surabaya, if all armed laskar in Surabaya do not surrender weapons seized from Japanese troops. Threats spread through airplanes were ignored; even Bung Tomo burned the youthful spirit of Surabaya to continue fighting. Because the threats were not obeyed, the Allies attacked with all force: bombed from a docked ship, deployed a tank army, and a well-armed infantry. Thousands of young men died in this incident. Laskar and youth in Surabaya are not able to strike back because of limited weapons, whether booty weapons from the Japanese arsenal, machetes, swords and sharpened bamboo.

Rahasian Hari Jadi Kabupaten Trenggalek dan Pelarian Raja Panjalu

Agus Wibowo


Sejak Raja Jayabhaya mengalahkan Kerajaan Jenggala pada tahun 1135, tidak ada informasi sejarah yang menunjukkan siapa penguasa wilayah Jenggala yang membentang di sisi timur Gunung Kawi. Ketika Raja Kameswara meninggal dunia pada tahun 1190 identitas penguasa Kerajaan Jenggala muncul dalam catatan sejarah. Namanya mulai disinggung di dalam Prasasti Kamulan yang dibangun oleh Raja Kertajaya. Tanggal yang tertulis di prasasti yang terletak di Desa Kamulan saat ini menjadi hari jadi Kabupaten Trenggalek di Jawa Timur. Bagaimana kisah pembuatan Prasasti Kamulan? Mengapa disebutkan Raja Sri Girindra Maharaja sebagai Raja Jenggala?

Rahasia Kota Baru Kerajaan Medang di Jawa Timur - Serial Kota Baru

Agus Wibowo


Prasasti Siwagrha
tentang Perang Dua Wangsa
Di awal abad 10, tepatnya tahun 929, keluarga kerajaan Medang Wangsa Sanjaya melakukan eksodus besar-besaran dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Menurut teori beberapa ahli sejarah, eksodus ini dilakukan karena letusan Gunung Merapi yang dahsyat. Berdasarkan beberapa prasasti, eksodus ini juga dilakukan karena adanya persaingan dengan Wangsa Syailendra yang juga eksis di Jawa Tengah. Candi Prambanan dalam Prasasti Siwagraha (856) disebutkan sebagai tanda atas kebangkitan Medang Wangsa Sanjaya terhadap Balaputradewa anggota Wangsa Syailendra. Dalam perang dua wangsa yang bersaing di Jawa Tengah ini Rakai Pikatan disebutkan memenangkan peperangan atas Balaputradewa. Awalnya Balaputradewa melarikan diri ke bukit Boko dan membangun pertanahanan tapi tetap berhasil dikalahkan.

Misteri Kudeta terhadap Jayabhaya Ditulis dalam Prasasti Angin

Agus Wibowo

Jayabhaya merupakah raja paling terkenal dalam sejarah Kerajaan Panjalu atau Kediri. Dalam persaingan antara dua kerajaan warisan Erlangga, Jayabhaya yang pertama kali memimpin kemenangan Panjalu terhadap Jenggala. Kemenangan Jayabhaya diabadikan dalam prasasti yag monumental, yaitu Prasasti Ngantang, yang pada bagian atas dituliskan slogan "Panjalu Jayanti" yang berarti Panjalu Jaya atau menang. 

Setelah kemenangan ini Kerajaan Panjalu mengalami kedamaian dan kejayaan, tidak ada lagi serangan dari Kerajaan Jenggala yang berpusat di Kahuripan, Sidoarjo. Hanya saja gangguan ternyata datang dari istana sendiri. Jayabhaya dikudeta oleh putranya sendiri, yaitu Sri Sarweswara, yang menjadi Mahamenteri Sirikan. Kudeta ini dilakukan Sarweswara juga berambisi menjadi raja, meskipun yang menjadi putra mahkota adalah saudaranya, Sri Aryeswara yang menjadi Mahamenteri I Hino. Sri Sarweswara mendahulu proses serah terima kekuasaan dari Jayabhaya kepada Sri Aryeswara. 

Monarki Tanpa Wilayah dalam Demokrasi di Indonesia

Wawancara RM Bastian Hendro Wibowo, Keturunan Ke-6 Raja Solo Pakubuwono IV

Sistem demokrasi di Indonesia memiliki pondasi monarki dengan sejarah panjang. Siatem monarki ada yang eksis secara fisik dan ada juga yang terlibat dalam proses demokrasi. Keluarga kerajaan, banyak yang menjadi elit daerah. Salah satu keluarga kerajaan yang masih ada kini adalah Keraton Surakarta. Meakipun tidak memiliki status keistimewaan seperti Keaultanan Yogyakarta, keraton Solo masih punya istana, punya raja, dan banyak anggota keluarga yang tinggal dalam benteng Keraton. Untuk mengetahui apakah Keraton Surakarta masih memiliki pengaruh dalam proses demokrasi di Indonesia, redaksi 1000monarki.com melakukan wawancara dengan keturunan keenam raja Solo, Pakubuwono IV, yaitu Raden Mas Bastian Hendro Wibowo. Berikut petikan wawancara.

October 17, 2017

The Secret of the Sangguran Stone, which is stranded at Lord Minto's House in Scotland

Agus Wibowo

Sangguran Inscription is an important document that became evidence of Indonesian history, especially about Medang Kingdom. This inscription was brought by Stamford Raffles in the early 19th century, given to the Governor General of the British Empire in India, Lord Minto, and taken to Scotland.

Sangguran Stone on the yard of Lord Minto's house
Before Mpu Sindok led the exodus of the Royal Family of Medang from Central Java to East Java, The Medang Royal military had expanded to the eastern part of Java Island several years earlier. Their tracks were found in Tulungagung until Malang and conquered the Kingdom of Kanjuruhan. Sangguran Ston issued by order Mpu Sindok who became Prime Minister in Medang in the time of King Dyah Wawa. This expansion continued the efforts of King Dyah Balitung in 905, recorded in the Kubu-Kubu Stone, which is part of the Penampihan Temple in Tulungagung.

Prasasti Amogaphasa, Dikirim Kertanegara tahun 1286 Ditulis oleh Adityawarman 1347

Agus Wibowo

Arca Amoghapasa
Sri Kertanegara Raja Singhasari melanjutkan ambisi ayahnya, Wisnuwardhana, untuk membangun kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di luar Pulau Jawa. Jika Wisnuwardhana melakukan ekspedisi ke pesisir barat Pulau Kalimantan, Kertanegara melakukan ekpansi ke Pulau Sumatera. Dua kali Kertanegara mengirimkan armada laut kerajaan untuk melakukan Ekspedisi Pamalayu, yaitu padatahun 1275 dan tahun 1286. Ekspedisi pertama dilakukan disertai peperangan akibat adanya penolakan dan perlawanan, ekspedisi kedua dilakukan dalam kondisi damai, dimana armada maritim Singasari membawa Patung Amogaphasa, melambangkan Kertanegara sebagai Budha. Arca ini dimaksudkan sebagai tanda persahabatan dan koalisi antar dua kerajaan.

Rahasia Prasasti Sangguran, yang Terdampar di Rumah Lord Minto di Skotlandia

Agus Wibowo

Prasasti Sangguran merupakan dokumen penting yang menjadi bukti sejarah Indonesia, khususnya tentang Kerajaan Medang. Prasasti ini oleh Stamford Raffless di awal abad 19, diserahkan ke Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris di India, Lord Minto, dan dibawa ke Skotladia. Sampai saat ini Prasasti Sangguran masih di lahan milik anak cucu Lord Minto, dan belum bisa diambil untuk dibawa ke Indonesia.

Prasasti Sangguran di Skotlandia/Tempo.co
Sebelum Mpu Sindok memimpin eksodus Keluarga Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, Pasukan Kerajaan Medang sudah melakukan ekspansi ke wilayah timur Pulau Jawa, lewat Tulungagung sampai ke Malang dan menaklukan Kerajaan Kanjuruhan. Prasasti Sangguran dikeluarkan atas perintah Mpu Sindok yang menjadi Patih di Medang di masa Raja Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa pada tahun 928 masehi. Ekspansi yang dilakukan oleh Raja Dyah Wawa ini melanjutkan upaya Raja Dyah Balitung pada tahun 905 yang tercatat di Prasasti Kubu-Kubu yang merupakan bagian dari Candi Penampihan di Tulungagung.

October 16, 2017

Prasasti Mula Malurung Buka Identitas Ken Arok

Agus Wibowo

3 dari 12 lempeng
Prasasti Mula Malurung
Setelah Tunggul Ametung tewas terbunuh dengan tertuduh Tunggul Ametung, Ken Arok diagkat menjadi Adipati Tumapel. Peristiwa ini oleh Serat Pararaton dikisahkan bahwa Ken Arok yang melakukan pembunuhan. Dia lolos sebagai tertuduh karena keris yang digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung diketahui oleh banyak orang di Tumapel sebagai milik Kebo Ijo. Atas jasanya memecahkan kasus pembunuhan Tunggul Ametung, Ken Arok pun mendapatkan kepercayaan dari Raja Kediri, Sri Kerta Jaya. Setelah menjadi Adipati, Ken Arok menikah Ken Dedes, janda Tunggul Ametung. Peristiwa ini terjadi di tahun 1203.

Bujangga Manik, Pangeran Sunda Perintis Travel Jurnalism Indonesia

Agus Wibowo

Naskah Bujangga Manik (sunda.andyonline.net)
Orang pertama yang menempuh perjalanan keliling Pulau Jawa dengan berjalan kaki, tidak terbantahkan adalah Bujangga Manik. Dia adalah seorang pangeran dari Kerajaan Sunda bernama Prabu Jaya Pakuan, yang  tinggal di komplek istana di Pakuan Pajajaran -Bogor saat ini. Meskipun seorang ksatria, Bujangga Manik lebih memilih kehidupan sebagai seorang resi Hindu. Lebih tidak bisa dibantah lagi bahwa dia yang melakukan “perjalanan keliling Pulau Jawa” dan membuat catatan atas perjalanannya tersebut. Catatan perjalanan Bujangga Manik ditulis  pada 29 lembar daun nipah, yang masing-masing terdiri dari 56 baris –totalnya 1.624 baris. Hanya saja catatan perjalanan Bujangga Manik ini tersimpam di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford.

October 15, 2017

Mencari Pusaka di Museum Nasional

Agus Wibowo

Prasasti Kutai
Museum Nasional di Jakarta memiliki banyak koleksi benda bersejarah di Indonesia. Dari benda-prasejarah berupa gading gajah raksasa, arca-arca di masa kerajaan, benda teknologi, alat transportasi, senjata untuk perang, maupun prasasti berisi naskah yang menjadi bukti fase perjalanan Indonesia masuk masa sejarah. Saat berkunjung ke Museum Nasional awal Oktober 2017, sedang ada renovasi sisi kanan museum, sehingga saya tidak bisa melihat koleksi yang berupa arca. Baruntung masih ada yang buka, yaitu lantai 2 -naiknya pakai eskalator.

October 14, 2017

Transisi Hindu – Budha ke Islam dalam Sejarah Kerajaan Konsentris di Pulau Jawa

Judul Buku: Nusa Jawa Silang Budaya: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris. Penulis: Denys Lombard. Halaman: 346. Penerbit: Gramedia. Tahun: 2005  

Agus Wibowo


Pulau Jawa di awal abad 18 lebih tampak wajah pemerintahan VOC yang berwajah Eropa dan beberapa keaultanan Islam di Tengah Jawa dan di pesisir Cirebon dan Banten. Pandangan ini banyak berubah ketika penguasaan atas Pulau Jawa dialihkan ke Inggris dan Stamfor Raffles menjadi Gubernur Jenderal di Indonesia. Dia mempunyai minat sangat besar pada artefak-artefak berupa arca, candi dan prasasti yang ditemukannya. Bangunan, prasasti dan arca yang ditemukan tidak merepresentasikan eksistensi kerajaan-ketajaan yang sedang berkuasa, baik di Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, maupun Banten.

Ken Arok, Pendiri Singasari Pencetus Wangsa Rajasa

Agus Wibowo
  
Candi Singasari
Ken Arok dikisahkan oleh Kitab Pararaton dengan sangat detil sebagai anak berandalan, penjudi dan pencuri di masa kecil. Ken Arok diceritakan sebagai anak dari seorang perempuan desa yang membuang bayinya di sebuah pemakaman. Ken Arok diangkat anak oleh seorang pencuri, dan dari sini dia belajar menjadi pencuri. Karena kenakalannya, Ken Arok diusir bapak angkatnya yang pencuri, kemudian diangkat anak oleh seorang penjudi dari Karuman Blitar bernama Bonggo Samparan, karena dianggap membawa keberuntungan. Tidak betah menjadi anak angkat Bonggo Samparan, Ken Arok pergi dan berteman dengan gadis anak kepala desa, mulai mengenal baca tulis, tapi kenakalannya makin berkembang dengan menjadi pasangan perampok.

October 13, 2017

Prasasti Jiwu 1486, Bukti Terjadinya Perang dua Majapahit

Agus Wibowo
Prasasti Jiwu - Traylokapuri
Prasasti Jiwu dikenal juga sebagai Prasasti Trailokyapuri, dibangun oleh Girindrawardhana, atau Brawijaya VI pada tahun 1486. Prasasti ini dibangun sebagai tanda pengukuhan pemberian anugerah tanah di Trailokyapuri kepada seorang Brahmana yang telah berjasa dalam membantu Girindrawardhana mengalahkan Bre Kertabhumi yang berkuasa di Istana Wilwatikta Trowulan. Prasasti ini bahkan menjelaskan bahwa Bre Kertabhumi gugur di Istana Kedaton (Trowulan). Prasasti Jiwu terdiri dari 4 prasasti yang tersimpan di Museum Mojokerto, ada yang dibuat oleh Singhawikramawardhana yang menyatakan menjadikan desa Sawek, Pung, Talasan dan Batu menjadi tanah sima/perdikan dan diberikan pada pendeta Brahmaraja Ganggadhara. Girindrawardhana melengkapi prasasti Jiwu, karena Prasasti yang dibuat sebelum Singhawikramawardhana tewas ini belum ditentukan batas-batasnya.

Misteri Dua Perang Saudara di Majapahit

Agus Wibowo

Perang - Museum Plembang
Majapahit dikenal sebagai kerajaan besar di Nusantara dari awal abad 14 sampai abad 16. Setelah mencapai puncaknya pada tahun 1389, Majapahit mengalami kemunduran akibat terjadinya perebutan kekuasaan, yang ditandai oleh dua perang besar yaitu Perang Paregreg pada tahun 1404 dan Perang Dua Majapahit pada tahun 1466 sampai tahun 1478. Perang Paregreg berlangsung dalam waktu satu tahun tapi mengurangi kekuatan militer Majapahit secara signifikan, karena kedua pihak mendapatkan dukungan yang sama besar.  Perang dua Majapahit berlangsung lebih dari 10 tahun yang melibatkan anak dan cucu Kertawijaya. Perang ini berakhir pada tahun 1478, tapi kemudian berlanjut dengan perang lain yang berkaitan dengan putra raja yang punya hak atas tahta Majapahit, yaitu Kerajaan Demak.

Rahasia Lima Desa di Masa Majapahit

Agus Wibowo

Pada awal 2014 lalu Pemerintah RI menetapkan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, yang mulai berlaku pada tahun 2015. Disahkannya Undang-Undang ini diharapkan menjadi titik awal berkembangnya kemandirian desa-desa di Indonesia. Di dalam pasal 4 UU ini, salah satu tujuan penataan desa disebutkan untuk “meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat desa, sebagai bagian dari ketahanan nasional”. Tulisan ini dimaksudkan sebagai inspirasi tentang desa mandiri yang ada di Jaman Majapahit.

Rahasia 5 Ibukota Baru Kerajaan Besar di Jawa Timur

Agus Wibowo

Dari akhir abad 10 di masa Mpu Sindok Raja Medang sampai akhir abad 14 di masa Raden Wijaya Raja Mapahit, ada 7 kota yang dibangun sebagai ibukota kerajaan besar di Jawa Timur. Kota pertama adalah Kota Tamwlang dan Wwatan sebagai ibukota Kerajaan Medang. Kota kedua adalah Watan Mas dan Kahuripan yang dibangun Erlangga. Kota tiga adahah Daha di Kediri yang dibangun untuk Kerajaan Panjalu. Yang keempat adalah Kota Tumapel menjadi ibukota Kerajaan Singasari, dan kelima Kota Tarik dan Trowulan yang menjadi ibukota Kerajaan Majapahit.

October 12, 2017

Prasasti Lokananta dari Gunung Tua Tapanuli

Agus Wibowo

Prasasti Lokananta/Lintang
Mendengar kata lokananta, kebanyakan masyarakat akan membayangkan tentang alat musik. Hal ini karena lokananta memang merupakan alat music kuno yang sudah ada di masa Kerajaan Bahkan Kerajaan Majapahit di abad 14. Langit Kresna Haryadi dalam bukunya Majapahit 2: Bala Sanggrama, menceritakan keindahan alunan music yang dikeluarkan oleh alat berupa gamelan Jawa. Di masa kini, Lokananta lebih dikenal sebagai nama perusahaan rekaman  pertama di Indonesia, yang didirikan di Kota Solo pada tahun 1956.