October 18, 2017

Rahasian Hari Jadi Kabupaten Trenggalek dan Pelarian Raja Panjalu

Agus Wibowo


Sejak Raja Jayabhaya mengalahkan Kerajaan Jenggala pada tahun 1135, tidak ada informasi sejarah yang menunjukkan siapa penguasa wilayah Jenggala yang membentang di sisi timur Gunung Kawi. Ketika Raja Kameswara meninggal dunia pada tahun 1190 identitas penguasa Kerajaan Jenggala muncul dalam catatan sejarah. Namanya mulai disinggung di dalam Prasasti Kamulan yang dibangun oleh Raja Kertajaya. Tanggal yang tertulis di prasasti yang terletak di Desa Kamulan saat ini menjadi hari jadi Kabupaten Trenggalek di Jawa Timur. Bagaimana kisah pembuatan Prasasti Kamulan? Mengapa disebutkan Raja Sri Girindra Maharaja sebagai Raja Jenggala?
Pada saat Raja Kameswara wafat, dia punya putra dari permaisurinya yaitu, Sri Kirana, putri Raja Jenggala. Perjalanan cinta Raja Kameswara dengan putri Raja Jenggala ini dituliskan dalam kisah Panji Smaradhana yang ditulis oleh Mpu Darmaja. Hanya saja Sri Kertajaya, adik Kameswara, merebut kekuasaan dan menjadi Raja Kediri. Pengambilalihan kekuasaan ini dianggap tidak hak oleh Sri Kirana dan keluarganya, sehingga masa damai Jenggala dan Kediri kembali berakhir. Pasukan Jenggala menyerang Kediri, sampai berhasil menduduki istana Kediri. Raja Kertajaya berhasil meloloskan diri, berlari ke arah selatan dan mendapatkan perlundungan dari penduduk daerah Ketandan Sekapat, salah satunya Desa Kamulan. 

Dengan lobi, diplomasi dan pendekatan, penduduk daerah Ketandan Sekapat memberikan perlindungan dan tempat yang layak bagi Raja Kertajaya. Dari daerah ini, pasukan yang dipimpin oleh Tunggul Ametung melakukan serangan balasan ke pusat Kerajaan Jenggala di Kutaraja. Pasukan Tunggul Ametung meraih kemenangan dan banyak keluarga kerajaan melarikan diri ke hutan. Raja Kertajaya berhasil kembali ke istana Kediri dan mewujudkan stabilitas  keamanan di Kediri. Untuk menjaga wilayah Jenggala, Raja Kertajaya menunjuk Tunggul Ametung sebagai Adipati, dan membuka desa baru di Tumapel.

Di masa damai para tokoh daerah Ketandan Sekapat menghadap Raja Kertajaya untuk meminta pengukuhan pemberian sima perdikan bagi desa-desa di daerah mereka, sebagaimana sudah dijanjikan raja melalui tulisan di daun lontar. Demi menunjukkan kesetiaan pada janjinya, Raja Kertajaya membangun tugu batu bertuliskan penberian sima perdikan dan jajaran pejabat Kerajaan Kediri di baliknya. Prasasti batu dibangun di Desa Kamulan, karena itu dinamakan sebagai Prasasti Kamulan. Di prasasti ini tertulis “bulan Palguna ketujuh, tahun saka 1116” yang berarti tanggal 31 Agustus 1194. Tanggal pengukuhan Daerah Ketandan Sekapat sebagai daerah sima swatantra ini ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Trenggalek.