April 23, 2017

Kerajaan Kahuripan Suksesor Kerajaan Medang Wangsa Isyana

Agus Wibowo

Prasasti Pucangan
Kerajaan Kahuripan didirikan oleh Erlangga, menantu sekaligus keponakan Raja Medang terakhir, Dharmawangsa Teguh. Tiga tahun setelah lolos dari Peristiwa Mahapralaya yang menewaskan Raja Dharmawangsa di Istana Wwatan, Erlangga mendirikan pusat kerajaan baru di lereng Gunung Penanggungan, dengan istana di Watan Mas. Pusat kerajaan ini dibangun dengan menyatukan kembali sisa keluarga dan pengikut Kerajaan Medang yang selamat. Di awal didirikan pada tahun 1009, Kerajaan Kahuripan mempunyai wilayah di sekitar Gunung Penanggungan, yaitu wilayah Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan dan sedikit wilayah Kabupaten Mojokerto. 

Sebagai penerus Wangsa Isyana, Erlangga mengirim utusan ke daerah-daerah sebelumnya menjadi pengikut dan bawahan Kerajaan Medang di bawah pimpinan Dharmawangsa. Ada daerah yang segera bergabung dengan Erlangga dan ada kerajaan-kerajaan mandiri yang tidak mau tunduk. Sebagian besar kerajaan yang tidak bersedia bergabung dengan koalisi Erlangga, diantaranya Kerajaan Lodoyong di selatan Kali Brantas, Kerajaan Hasin di daerah Trenggalek, serta Kerajaan Wengker di wilayah Ponorogo sampai Madiun. Hubungan dengan Kerajaan di Bali masih terjaga, karena Erlangga bagaimana pun awal putra mahkota Kerajaan Bedhahulu di Bali. 
Ekspansi militer pertama kali dilakukan ke Kerajaan Hasin pada tahun 1030. Peristiwa ini tertulis di Prasasti Baru yang merupakan tuguh batu sebagai bukti penegihan anugerah sima kepada penduduk Desa Baru. Penaklukan Kerajaan Hasin ini merupakan batu loncatan bagi Erlangga untuk menaklukkan Kerajaan Wengker.
Ekspansi berikutnya dilakukan ke Kerajaan Lodoyong yang terletak di wilayah selatan, yang dipimpin oleh Ratu Tulodong. Tapi ekspansi pasukan Erlangga ini gagal, bahkan Pasukan Lodoyong melakukan serangan balik dan berhasil menghancurkan istana Kerajaan Kahuripan di Watan Mas. Erlangga dan keluarga meninggalkan istana dan berdiam di Daerah Patakan, untuk kemudian membangun pusat pemerintahan baru di Kahuripan Sidoarjo, daerah yang dekat dengan muara Kali Brantas di Ujunggaluh. Peristiwa ini tertulis di dalam Prasasti Terep yang dibuat pada tahun 1032.
Ekspansi perluasan wilayah sempat dihentikan sebelum berhasil menundukkan Kerajaan Lodoyong. Kerajaan ini akhirnya bersedia menjadi koalisi Kerajaan Kahuripan tanpa melalui peperangan, dan Ratu Tulodong tetap menjadi ratu dan tetap merdeka. Koalisi dengan Kerajaan Hasin yang sudah ditaklukan dan dengan Kerajaan Tulodong melakukan penaklukan ke Kerajaan Wengker di wilayah Madiun dan Magetan serta Kerajaan Lawram di Wilayah Cepu, Kabupaten Blora.
Setelah Kerajaan Wengker ditaklukan, perang besar terakhir Kerajaan Kahuripan dilakukan terhadap Kerajaan Lawram yang dipimpin Raja Haji Wurawari. Penyerangan terhadap kerajaan yang menghancurkan Kerajaan Medang di Wwatan pada tahun 1006 ini dilakukan Pasukan Erlangga,  didukung pasukan Lodoyong, Pasukan Hasin dan Wengker, serta pasukan Kerajaan Bali. Erlangga berhasil menghancurkan Kerajaan Lawram dan memegang kontrol penuh terhadap wilayah di Jawa Timur. Kisah kemenangan Kerajaan Kahuripan terhadap Kerajaan Lawram ini dituliskan menjadi Kakawin Arjuna Wiwaha oleh Mpu Kanwa.

Pembelahan Kerajaan
Raja Erlangga mempunyai putri sulung yang menarik diri sebagai Putri Mahkota pada tahun 1037, dan mampunyai dua putra dari permaisuri dan dari istri kedua. Untuk mengatasi persaingan antara dua putranya, Samarawijaya Teguh dan Mapanji Garasakan. Untuk mengatasi persaingan dua putranya ini, Raja Erlangga melakukan penjajakan ke Bali, tapi Kerajaan Bedhahulu telah mengangkat adik Erlangga sebagai raja menggantikan Raja Udayana. Erlangga akhirnya memutuskan membagi wilayah Kerajaan Kahuripan menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Jenggala yang wilayahnya terletak sebelah timur Gunung Kawi yang berpusat di Kahuripan (di Sidoarjo saat ini) dan Kerajaan Panjalu yang wilayahnya terletak di sebelah barat Gunung Kawi dengan pusat pemerintahan di Kediri, dengan istananya di Daha.
Pembelahan Kerajaan Kahuripan ini, dalam Kitab Negara Kertagama disebutkan dilakukan oleh Mpu Barada yang membagi wilayah dengan menarik garis yang menghubungkan Gunung Kawi ke arah selatan dan utara. Pembagia Kerajaan Kahuripan ini juga dicatat dalam Prasasti Pamwatan yang bertarik 20 November 1042. Dalam Prasasti ini Erlangga dinyatakan sebagai Raja Kahuripan yang beristana di Daha Kediri. Sebelumnya, dalam Prasasti Pucangan yang dibuat pada tahun 1041, dinyatakan bahwa Erlangga masih beristana di Kahuripan.
Dalam pembagian ini Kerajaan Jenggala diberikan kepada Mapanji Garasakan dan Kerajaan Panjalu diberikan kepada Samarawijaya. Erlangga mengakhiri peran sebagai raja di Istana Daha Kediri, kemudian mengundurkan diri untuk menjadi biksu. Dalam Prasasti Gandhakuti yang dibangun pada 24 November 1042 Erlangga sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana. Pilihan Erlangga untuk berhenti jadi raja kemudian menjadi seorang biksu menjadi contoh nyata praktek lengser keprabon.  

Peninggalan Kerajaan Kahuripan
Kolam Pemandian Jolotundo
Kerajaan Kahuripan yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang mempunyai banyak peninggalan karena berhasil memciptakan stabilitas dan dukungan dari keraja-kerajaan yang ada di Jawa Timur. (1) Pembangunan tanggul Kali Brantas yang ada di wilayah Kerajaan Tulodong untuk mencegah banjir dan meningkatkan pertanian. (2) Pelabuhan di muara Kali Brantas yang ada di Ujung Galuh. (3) Istana Daha di Kediri yang menjadi pusat Kerajaan Panjalu. (4) Bangunan tempat suci di lereng Gunung Penanggungan, salah satunya adalah tempat pemandian suci Jolotundo. (5) beberapa prasasti yang diuat oleh Erlangga, diantaranya Prasasti Baru, Prasasti Patakan, Prasasti Pucangan, Prasasti Pamwatan dan Prasasti Gandhamukti.
Prasasti Baru merupakan tugu batu tanda pemberian sima perdikan kepada penduduk Desa Baru yang berjasa dalam penundukan Kerajaan Hasin pada tahun 1030. Prasasti Patakan menceritaka peristiwa penyerbuan pasukan Ratu Tulodong terhadap istana Watan Mas yang menyebabkan Erlangga memindahkan istana ke Kahuripan, sehingga istananya ini membuat kerajaan Wangsa Isyana yang dibangunnya dikenal sebagai Kerajaan Kahuripan. Prasasti Pucangan dibuat pada masa kejayaan Kerajaan Kahuripan, dimana Erlangga menuliskan kisah dan silsilah dan keterkaitannya dengan Kerajaan Medang yang dibangun Mpu Sindok sampai Raja Dharmawangsa yang berankhir dengan peristiwa Maha Pralaya. Prasasti Pamwatan dan Prasasti Ghandamukti berisi muatan informasi tentang pembagian kerajaan menjadi dua serta mundurnya Erlangga jadi Raja Kahuripan. Hal ini ditunjukkan dengan gelar Erlangga di Prasasti Pamwatan masih sebagai “Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa” sedangkan di Prasasti Ghandamukti sebagai “Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana”.