April 07, 2017

Mitos Bulan Suro dan Bulan Muharram



Pertengahan Oktober 2015 terjadi 2 kali tahun baru, yaitu tahun baru Kalender Hijriah pada 14 Oktober 2014 dan tahun baru Kalender Jawa pada 15 Oktober 2015. Bagi masyarakat Islam datangnya tahun baru disambut dengan suka cita, terutama karena tahun baru Hijriah identik dengan Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah yang menjadi awal keberhasilan dan kejayaan syiar Islam. Kegembiraan lain juga datang dari adanya hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. 
Berdasarkan tradisi Arab, bahkan sebelum Islam, hari Asyura atau hari ke-10 bulan Muharram diperingati sebagai hari suka cita. Pada hari itu setiap suku mengadakan perayaan dengan mengenakan pakaian baru dan menghias kota-kota mereka. Hari Asyura juga dipercaya sebagai keberhasilan misi atau kebebasan dari kesulitan beberapa nabi, antara lain: Berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di bukit Judi, Nabi Ibrahim selamat dari apinya Namrudz, Nabi Yakub sembuh dari kebutaan dan ia dibawa bertemu dengan Nabi Yusuf, Nabi Musa selamat dari pasukan Fir’aun saat menyeberangi Laut Merah, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut paus dan sebagainya.
Di kalangan penganut Syiah, hari Asyuro juga mempunyai kesan mendalam, yang berbeda dengan kisah kebebasan para Nabi di atas. Pada 10 Muharram tahun 61 Hijriah (10 Oktober 680) terjadi Perang Karbala antara rombongan kecil Bani Hasyim yang dipimpin Hussain bin Ali dengan pasukan Bani Umayah yang jumlahnya jauh lebih besar. Sebagian besar rombongan Bani Hasyim terbunuh termasuk Hussain bin Ali yang merupakan anak Ali bin Abi Thalib yang juga cucu Nabi Muhammad SAW. Hari Asyuro bagi pengikut Syiah dikenang secara mendalam dan diperingati sebagai hari Kesyahidan Husain, cenderung sebagai hari duka cita daripada sebagai hari suka cita.
Bagaimana dengan bulan Syuro dalam Kalender Jawa? Berdasarkan kedekatan nama, bulan pertama dalam Kalender Jawa dinamakan sebagai Bulan Syuro karena di dalam bulan pertama yang beriringan dengan Bulan Muharram di Kalender Hijriyah ini ada hari Asyuro yang terjadi pada tanggal 10. Kesan masyarakat Jawa terhadap bulan Syuro lebih cenderung terkesan hati-hati dan berkaitan dengan bencana-bencana yang pernah terjadi dan dikhawatirkan terjadi di bulan awal tahun ini. Masyarakat Jawa yang menganut nilai-niai kepercayaan Jawa tidak akan menggelar hajat besar di bulan ini, semisal mengadakan akad nikah, mulai membangun rumah, melakukan perjalanan penting, menggelar pesta dan lain-lain. Jika hajat besar dilaksanakan di bulan Syuro, masyarakat Jawa kahawatir akan mendapatkan bencana.
Ada penganut budaya Jawa yang mempunyai catatan tentang bencana-bencana yang terjadi di Bulan Suro. Ada bulan Sura yang dinamakan sebagai Sura Duraka, dimana banyak terjadi bencana besar seperti yang terjadi bulan Januari sampai Februari tahun 2007, dimana banyak musibah terjadi di seantero negeri ini. 1) tenggelamnya KM Senopati di laut Banda, 2) Kecelakaan Pesawat Adam Air dekat teluk Mandar barat laut Majene. 3) Kereta api anjlok dan terguling sampai 3 kali dalam sebulan. 4) Tabrakan bus di pantura, 5) Kecelakaan pesawat garuda di Yogyakarta, 6) Jakarta dilanda banjir terbesar sepanjang, 7) Kapal terbakar di Sulawesi dan maluku. 9) Kapal laut terbakar dan tenggelam di selat Karimun, dan lain-lain. Bahkan konon, jatuhnya kekhalifan Abbasyah di Bagdad setelah berkuasa selama 508 tahun juga terjadi di bulan Muharram atau bulan Suro di kalender Jawa.
Mitos Jumat Tanggal 13
Kepercayaan tentang tabu terhadap waktu tertentu, baik hari maupun bulan tidak hanya terjadi di Jawa. Di kalangan masyarakat Amerika Serikat yang terkenal modern dan rasional, pun mempunyai kepercayaan serupa, yaitu terhadap hari Jumat tanggal 13. Kepercayaan ini menginspirasi dibuatnya film “Friday the 13th” yang bercerita tentang berbagai malapetaka yang terjadi di hari Jumat tanggal 13. Meskipun film ini lantas membuat kepercayaan terhadap Friday the 13th seolah fiktif belaka, ada fakta kuat bahwa kepercayaan tersebut memang nyata di kalangan masyarakat Amerika Serikat. Berdasarkan hasil penelitian dari Dr Donald Dossey seorang psikoterapi khusus dlm bidang “phobia”, ada lebih dari 21 juta orang yang memiliki penyakit “paraskevidekatriap hobia” atau rasa takut akan hari Jumat tgl 13. Menurut laporan dari “The Stress Management Center and Phobia Institute” di Asheville – AS, tenyata setiap hari Jumat tgl 13, ekonomi Amerika mengalami kerugian antara 800 s/d 900 juta AS$, karena banyak orang yg ogah travelling, bekerja, ataupun melakukan kegiatan bisnis apapun juga.
Kepercayaan yang sama juga terjadi di negara lain. Di negara-negara Amerika Latin, Yunani dan Spanyol dimana ada kepercayaan untuk tidak mengadakan perjalanan di hari Selasa tanggal 13. Di Italia, kepercayaan yang sama berlaku untuk hari Jumat tanggal 17. Kepercayaan atau phobia semacam ini sering dituduh sebagai tahayul, atau mistik, atau klenik, irasional dan tidak perlu digubris. Lebih jauh bahkan ada kelompok yang penuh semangat mengecam kepercayaan phobia ini sebagai musrik, menyekutukan Tuhan.
Di dalam kepercayaan terhadap misteri bulan Suro ada perpaduan sejarah antara Islam dengan Jawa –yang tidak selalu Islam. Penamaan bulan Suro berasal dari nama Hari Asyuro yang terjadi pada tanggal 10 Muharram tahun Hijriyah atau kalender Islam yang ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar yang menetapkan hari kedatangan Nabi Muhammad ke Kota Madinah di tahun 622 Masehi sebagai titik awal kalender. Sekilas ada kesan bahwa misteri yang ada di bulan Suro berkaitan dengan tragedi Perang Karbala pada 10 Muharram atau jatuhnya kekhalifan Abbasyah di Bagdad di bulan Muharram pada tahun
Tapi kalender Jawa mempunyai sejarah sendiri yang lebih panjang. Sebelum disatukan Sultan Agung yang menjadi penguasa Mataram, Kalender Jawa mengikuti Kalender Saka yang mempunyai titik awal pada tahun 78 Masehi, dan menggunakan basis perhitungan bumi mengelilingi matahari yang lama satu tahun adalah 365 hari. Nama bulan dan hari Kalender Jawa menggukan istilah Bahasa Jawa atau Hindu. Kalender Jawa yang asal muasalnya mengikuti penanggalan Hindu, mengakomodasi musim, siklus tradisi, hari-hari besar untuk dirayakan dan waktu-waktu penting yang berbeda.
Bulan Suro dengan Bulan Muharram memang beriringan dan dibuat banyak persamaan, sesungguhnya punya titik awal dan sejarah yang berbeda, serta ada basis peristiwa, siklus musim dan tradisi spiritual yang berbeda. Pada Kalender Jawa yang diiringkan dengan Kalender Hijriyah ada nuansa kepercayaan Islam yang makin manifes dan menguat, tapi masih tertanam pengaruh Aji Saka yang konon telah memperkenal peradaban abjad kepada masyarakat Jawa.