October 17, 2017

Prasasti Amogaphasa, Dikirim Kertanegara tahun 1286 Ditulis oleh Adityawarman 1347

Agus Wibowo

Arca Amoghapasa
Sri Kertanegara Raja Singhasari melanjutkan ambisi ayahnya, Wisnuwardhana, untuk membangun kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di luar Pulau Jawa. Jika Wisnuwardhana melakukan ekspedisi ke pesisir barat Pulau Kalimantan, Kertanegara melakukan ekpansi ke Pulau Sumatera. Dua kali Kertanegara mengirimkan armada laut kerajaan untuk melakukan Ekspedisi Pamalayu, yaitu padatahun 1275 dan tahun 1286. Ekspedisi pertama dilakukan disertai peperangan akibat adanya penolakan dan perlawanan, ekspedisi kedua dilakukan dalam kondisi damai, dimana armada maritim Singasari membawa Patung Amogaphasa, melambangkan Kertanegara sebagai Budha. Arca ini dimaksudkan sebagai tanda persahabatan dan koalisi antar dua kerajaan.
Ekspedisi Pamalayu dimaksudkan untuk membangun koalisi antara Kerajaan Singhasari dengan Kerajaan Darmasraya untuk membendung kekuatan Mongolia yang berkuasa di utara. Ekspedisi Pamalayu ke-2 berangkat setelah Kertanegara mengusir utusan Pasukan Mongol dan kembali ke Jawa pada tahun 1293, ketika Kertanegara sudah tewas oleh pemberontakan Jayakatwang, bahkan Jayakatwang pun sudah tewas dan telah berdiri Kerajaan Majapahit dengan rajanya Kertarajasa Jayawardhana, seorang pengeran di istana Singasari yang bernama Sanggrama Wijaya.
Prasasti Amoghapasa
Prasasti Amogaphasa ditemukan pada tahun 1884 di Lubuk Bulang, Desa Rambahan, Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Darmasraya, Sumatera Barat, dan kini disimpan di Museum Nasional. Prasasti ini menceritakan perintah Kertanegara (Raja Singasari) yang mengirim ekspedisi Pamalayu pada tahun 1286 dan mempersembahkan Patung Amogaphasa bagi Raja dan rakyat Kerajaan Darmasraya. 
Pada saat dikirimkan melalui Ekspedisi Pamalayu, Arca ini didak dilengkapi keterangan berupa naskah. Setelah pulang ke Darmasraya, dan menjadi raja Adityawarman memerintahkan untuk memberikan keterangan di bidang datar di belakang prasasti pada tahun 1347. Naskah prasasti terdiri dari 27 baris dalam bentuk sloka 12 bait yang ditulis di belakang stela atau sandaran patung batu bernama “Paduka Amogaphasa”. Adityawarman juga menambahkan pahatan aksara bertuliskan namanya pada bagian patung, untuk menunjukkan bahwa dia yang memerintahkan penulisan prasasti pada Patung Amogaphasa.
Mengapa Adityawarman menambahkan prasasti pada arca Amogapasha? Asal usul Adityawarman memang berkaitan dengan arca ini. Berangkat membawa arca sebagai simbol kerjasama, pasukan ekspedisi Pamalayu pulang ke Jawa 10 hari setelah berdiri Kerajaan Majapahit, dengan membawa dua putri Raja Darmasraya. Putri pertama menjadi istri Raja Majapahit Sangrama Wijaya, sedangkan putri kedua menikah dengan panglima pasukan ekspedisi Pamalayu, yang dikenal sebagai Mahisa Anabrang. Adityawarman adalah cucu raja Darmasraya, putra panglima ekspedisi Pamalayu Mahisa Anabrang, bergelar  Dyah Adwayabrahma.