October 18, 2017

Misteri Kudeta terhadap Jayabhaya Ditulis dalam Prasasti Angin

Agus Wibowo

Jayabhaya merupakah raja paling terkenal dalam sejarah Kerajaan Panjalu atau Kediri. Dalam persaingan antara dua kerajaan warisan Erlangga, Jayabhaya yang pertama kali memimpin kemenangan Panjalu terhadap Jenggala. Kemenangan Jayabhaya diabadikan dalam prasasti yag monumental, yaitu Prasasti Ngantang, yang pada bagian atas dituliskan slogan "Panjalu Jayanti" yang berarti Panjalu Jaya atau menang. 

Setelah kemenangan ini Kerajaan Panjalu mengalami kedamaian dan kejayaan, tidak ada lagi serangan dari Kerajaan Jenggala yang berpusat di Kahuripan, Sidoarjo. Hanya saja gangguan ternyata datang dari istana sendiri. Jayabhaya dikudeta oleh putranya sendiri, yaitu Sri Sarweswara, yang menjadi Mahamenteri Sirikan. Kudeta ini dilakukan Sarweswara juga berambisi menjadi raja, meskipun yang menjadi putra mahkota adalah saudaranya, Sri Aryeswara yang menjadi Mahamenteri I Hino. Sri Sarweswara mendahulu proses serah terima kekuasaan dari Jayabhaya kepada Sri Aryeswara. 


Kudeta ini memancing pemberontakan berikutnya, yaitu oleh Sri Aryeswara yang mempunyai legitimasi lebih kuat sebagai putra mahkota. Sri Ayeswara terus melakukan pemberontakan selama dua tahun sampai akhirnya berhasil mengalahkan Sri Sarweswara. Setelah menjadi raja Panjalu, Sri Aryeswara menuliskan peristiwa kudeta yang dilakukan oleh Sarweswara terhadap Jayabhaya dan pemberontakan yang dilakukan olehnya pasa sebuah prasasti batu pada 23 Maret 1171. Prasasti ini dinamakan sebagai Prasasti Angin, yang menerangkan bahwa Raja Kediri adalah Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara setelah merebut tahta dari Sri Sarweswara. Dari Prasasti Angin juga diketahui bahwa  lambang Kerajaan Panjalu di masa Raja Aryeswara adalah gambar Ganesha. 

Saat ini Prasasti Sapu Angin menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta. Bagi yang ingin melihatnya, prasasti ini dipajang di lantai 2 gedung Museum Nasional pada bagian pajang prasasti.