April 08, 2017

Prasasti Kamulan Sebagai Anugrah atas Perlindungan Desa bagi Kertajaya

Gus Bowii

Setelah Kameswara wafat, yang naik menjadi Raja Kediri adalah adiknya Sri Kertajaya. Hal ini membuat marah permaisuri Kameswara, yaitu Sri Kirana, karena putranya lebih berhak atas tahta Kerajaan Kediri. Sasi Kirana didukung orang tuanya yang menjadi Raja Jenggala, yaitu Sri Maharaja Girindra. Pasukan Jenggala menyerang istana Kediri tapi Kertajaya berhasil lolos dan melarikan diri ke selatan dan mendapatkan perlindungan dari penduduk Daerah Ketandan Sekapat, termasuk penduduk Desa Kamulan.

Dari daerah ini Kertajaya memulihkan pasukannya, bahkan dengan pasukan yang dipimpin Tunggul Ametung, Kerajaan Kediri berhasil melakukan serangan balasan sampai ke pusat Kerajaan Jenggala di Kutaraja, di sebelah timur Gunung Kawi. Tunggul Ametung berhasil merebut istana Jenggala di Kutaraja dan keluarga Sri Maharaja Girindra melarikan diri. Atas jasanya ini, Tunggul Ametung  diangkat menjadi Adipati di wilayah bekas Kerajaan Jenggala, dan mendirikan Desa Tumapel sebagai pusat pemerintahan baru.
Untuk jasa-jasa penduduk daerah Ketandan Sekapat, Kertajaya memberikan anugerah sima perdikan yang ditulis di atas daun lontar. Sebagai daerah perdikan, daerah ini dibebaskan dari segala pungutan pajak, daerah merdeka berpemerintahan sendiri yang kedudukannya langsung di bawah kekuasaan raja. Anugrah sima ini kemudian dikukuhkan dengan dibangunnya prasasti batu yang diletakkan di Desa Kamulan. Prasasti Kamulan saat ini disimpan di Museum Wajakensis di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Cerita pembangunan prasasti batu ini dituliskan dalam prasasti sebagai berikut: “…bahwa Samya Haji Katandan Sakapat menghadap Raja Kertajaya didampingi Pangalasan bernama Geng Adeg, menyampaikan bahwa pihaknya menyimpan rontal berisi keputusan raja yang telah dicandikan di Jawa. Mereka mohon supaya keputusan di daun lontar itu dikukuhkan dalam bentuk prasasti batu yang diberikan cap kerajaan Kertajaya. Tanggal pemberian anugerah sima kepada Daerah Ketandan Sekapat ini kemudian dijadikan sebagai hari berdirinya Kabupaten Trenggalek, yaitu 31 Agustus 1194, atau tahun Saka hari ketujuh, bulan Palguna, tahun 1116.