October 19, 2017

Rahasia Kemunculan Ken Arok dan Prasasti Lawadan

Agus Wibowo

Setelah Tunggul Ametung tewas terbunuh pada tahun 1201, Raja Kertajaya mengangkat Ken Arok sebagai Adipati Tumapel. Mendapatkan dukungan dari para brahmana pengikut Syiwa yang kecewa dengan sikap diskriminatif Kertajaya, Ken Arok kemudian menyatakan kemerdekaan Tumapel pada tahun 1204, dan dia dilantik sebagai raja dengan gelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Di tahun 1205 Pasukan Kediri melakukan serangan untuk menghukum Tumapel, tapi pasukan Kertajaya mengalami kekalahan dan melarikan diri ke selatan ke daerah Lawadan. Raja Kertajaya berhasil memulihkan pasukan dan kembali ke istananya di Kediri.
Atas jasa penduduk Lawadan, Kertajaya memberikan anugrah sima perdikan kepada penduduk daerah Lawadan, yang dikukuhkan dengan dibangunnya Prasasti Lawadan berbentuk tugu batu. Prasasti ini sekarang berada di dalam kawasan Pabrik PT Industri Marmer Tulungagung, dalam kondisi terawat tapi aksaranya ada yang aus. Naskah yang tertulis prasasti ini menerangkan bahwa penduduk Desa Lawadan dan daerah sekitarnya diberikan anugerah berupa pembebasan pajak dan diberikan sejumlah hak istimewa seperti melakukan kegiatan di depan umum, dan lain-lain.    


Prasasti Lawadan terdapat lancana raja yang mengeluarkan prasasti yaitu Kertajaya dengan gelar lengkap Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa. Pemberian anugrah sima dan hak-hak lain, termasuk bermacam hak otonom untuk melakukan kegiatan khusus, disimpulkan bahwa penduduk Lawadan diberikan kekuasaan untuk membentuk pemerintahan sendiri yang otonom. Hal ini ditimbang tepat sebagai waktu berdirinya Kabupaten Tulungagung. Sejak tahun 2003, berdirinya Kabupaten Tulungagung ditetapkan sama dengan tanggal dibangunnya Prasasti Lawadan oleh Kertajaya, yaitu pada 18 November 1205.