October 16, 2017

Prasasti Mula Malurung Buka Identitas Ken Arok

Agus Wibowo

3 dari 12 lempeng
Prasasti Mula Malurung
Setelah Tunggul Ametung tewas terbunuh dengan tertuduh Tunggul Ametung, Ken Arok diagkat menjadi Adipati Tumapel. Peristiwa ini oleh Serat Pararaton dikisahkan bahwa Ken Arok yang melakukan pembunuhan. Dia lolos sebagai tertuduh karena keris yang digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung diketahui oleh banyak orang di Tumapel sebagai milik Kebo Ijo. Atas jasanya memecahkan kasus pembunuhan Tunggul Ametung, Ken Arok pun mendapatkan kepercayaan dari Raja Kediri, Sri Kerta Jaya. Setelah menjadi Adipati, Ken Arok menikah Ken Dedes, janda Tunggul Ametung. Peristiwa ini terjadi di tahun 1203.
Pada tahun 1205, Ken Arok mendeklarasikan melepaskan Kadipaten Tumapel menjadi kerajaan merdeka dan mulai menggunakan gelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Dengan dukungan pasukan kerajaan-kerajaan kecil bawahan Kerajaan Jenggala dan dukungan para barahmana yang tidak berkenan dengan sikap Kertajaya yang tidak menghargai kau brahmana, Ken Arok mulai melakukan penyerangan ke Kediri di tahun 1205. Serangan ini berhasil penduduki istana Kediri tapi Sri Kertanegara berhasil lolos dan mendapatkan perlindungan ke wilayah Lawadan dan mendirikan istananya di wilayah ini sampai berhasil kembali merebut istana Panjalu di Kediri. Setelah melalui persaingan dan perang yang panjang, Ken Arok Akhirnya berhasil mengalahkan Kerajaan Panjalu pada tahun 1222 dan menyatukan kembali bekas wilayah Kerajaan Kahuripan dalam satu kerajaan.

Menjadi penguasa tunggal kerajaan Tumapel dan Kediri, Ken Arok tewas dibunuh oleh Anusapati yang merupakan anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Kerajaan kembali terbelah menjadi dua, wilayah di sisi Timur Gunung Kawi yang berpusat di Tumapel dipimpin Raja Anusapati sedangkan wilayah di sisi barat Gunung Kawi yang berpusat di Kediri dipimpin Mahisa Wongateleng –putra Ken Dedes dengan Ken Arok. Sempat mengalami masa damai sampai Mahisa Wongateleng digantikan oleh adiknya Gunigbaya, kerajaan kembali mengalami kekisruhan akibat upaya kudeta oleh Tohjaya, anak Ken Arok dari selirnya Ken Umang. Tohjaya berhasil membunuh Anusapati dan merebut kekuasaan dari Gunigbaya dan menjadi Raja di Kediri. Di kerajaan Tumapel, Seminingrat (Wisnuwardana) anak Anusapati mengambil tampuk kekuasaan menjadi Raja Tumapel. Wisnuwardana kemudian berhasil membantu Mahisa Cempaka (Narasinghamurti) anak Mahisa Wongateleng mengalahkan Tohjaya dan menjadi Raja Kediri pada tahun 1251.

Dua kerajaan ini hidup damai, pada tahun 1254M Mahisa Cempaka (Narasingamurti) membuat kesepakatan dengan Wisnuwardana (Seminingrat) untuk membangun pemerintahan bersama di Tumapel. Mahisa Cempaka bersedia meletakkan tahta kemudian Wisnuwardana melantik putranya, Sri Kertanegara sebagai Raja Muda di di Kediri. Dua kerajaan kembali bersatu di bawah kekuasaan Raja Wisnuwardana. Di tahun 1255 Raja Wisnuwardana membangun Prasasti Mulamalurung untuk mengukuhkan anugrah sima kepada wilayah Mula Malurung yang sudah ditetapkan oleh Mahisa Wongateleng. Prasasti ini berupa lempengan-lempengan tembaga yang diterbitkan Kertanagara pada tahun 1255 sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya Wisnuwardhana raja Singhasari.

Kumpulan lempengan Prasasti Mula Malurung ditemukan pada dua waktu yang berbeda. Sebanyak sepuluh lempeng ditemukan pada tahun 1975 di dekat kota Kediri, Jawa Timur. Sedangkan pada bulan Mei 2001, kembali ditemukan tiga lempeng di lapak penjual barang loak, tak jauh dari lokasi penemuan sebelumnya. Keseluruhan lempeng prasasti saat ini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Selain berisi pemberian anugerah sima kepada wilayah Mulamalurung, Prasasti Mulamalurung menuliskan kisah dan silsilah raja-raja Tumapel dari masa Ken Arok sampai Wisnuwardana dan pengangkatan Sri Kertanegara sebagai Raja Muda di Kediri.    
Dalam masa damai di bawah pimpinan Raja Wisnuwardana, Kerajaan Singasari mengembangkan kekuasaan ke seluruh Pulau Jawa dan melakukan ekspansi ke Bali. Wisnuwardana juga melakukan ekspansi ke sisi barat dan timur Kalimantan. Kabijakan Wisnuwardana ini dilanjutkan oleh penerusnya Sri Kertanegara yang menjadi Raja SIngasari pada tahun 1275 dan 1286. Sri Kertanegara melakukan ekspansi ke wilayah timur Sumatera untuk membangun koalisi dengan Kerajaan Swarnabhumi. Kebijakan ini bertujuan untuk membendung kekuatan dari utara, dari kekaisaran Mongol yang berkuasa di Daratan China. Sri Kertanegara dua kali mengirimkan pasukan laut ke Sumatera sebelum terbunuh oleh serangan Jayakatwang pada tahun 1293.