October 20, 2017

Prasasti Ngantang yang Beritakan Kejayaan Jayabhaya atas Jenggala

Agus Wibowo

Sejak Erlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Panjalu (Kediri) di tahun 1042, dua kerajaan yang dipimpin anak-anak Erlagga selalu terlibat dalam persaingan dan peperangan. Di awal masa pemerintah Pasukan Jenggala yang dipimpin Raja Mapanji Garasakan berhasil mengalahkan Sri Samarawijaya Raja Panjalu, tapi tidak berhasil menguasai Kerajaan Panjalu. Sri Samarawijaya digantikan oleh putranya Sri Jayawarsa Sastraprabu. Kedua kerajaan tetap berdiri sejajar meskipun terlibat dalam persaingan dan perang. Kerajaan Kediri berturut-turut dipimpin anak cucu Sri Samarawijaya, yaitu: Sri Jayawarsa Sastraprabu (1104-), Sri Bameswara Sakalabhuana (1117), dan Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya ( -1159). Kerajaan Jenggala, setelah Mapanji Garasakan (1044-1052), berturut-turut dipimpin oleh anak dan cucunya, yaitu: Alanjung Ahyes (1052-1059) dan Samarotsaha (1059). Tidak ada prasasti yang menyebutkan siapa raja Jenggala setelah Samarotsaha. Di tahun 1185 muncul lagi nama Raja Jenggala bernama Sri Maharaja Girindra, yang menjadi mertua Raja Panjalu Sri Kameswara.
Di masa kepemimpinan Mapanji Jayabhaya, Kerajaan Panjalu mengalami kemenangan gemilang, dan keluarga Kerajaan Jenggala terusir dari istana. Kemenagan Kerajaan Panjalu yang dipimpin Jayabaya ini didokumentasikan dalam Prasasti Ngantang, yang ditemukan di Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang, yang saat ini menjadi koleksi Museum Nasional. Prasasti ini dibangun sebagai pengukuhan pemberian anugerah sima kepada wilayah Ngantang dengan 12 desa yang masuk di dalamnya. Anugerah ini diberikan atas jasa-jasa penduduk wilayah Ngantang yang mendukung Jayabaya meskin berada di wilayah kerajaan Jenggala, dan berperan besar dalam peperangan melawan pasukan Jenggala.

Sebelum dibangun Prasasti Ngantang, para kepala desa di wilayah Ngantang agar anugera sima yang sudah diberikan oleh raja sebelumnya dalam bentuk naskah di daun lontar dipindahkan ke atas batu dan ditambah dengan anugerah Jayabhaya sendiri. Permohonan penduduk Ngantang ini dilakukan dengan menghadap langsung ke istana Panjalu didampingi guru Raja Jayabaya, yaitu Mpungku Naiyayikarsana. Permohonan ini dikabulkan oleh Raja Jayabhaya pada tahun 1135. Dalam Prasasti Ngantang terdapat semboyan besar pada bagian atas, yaitu “Panjalu Jayanti” yang berarti “Panjalu Menang”.

Prasasti Ngantang menjadi salah satu penanda kejayaan Kerajaan Panjalu di bawah kekuasaan Raja Jayabhaya sebelum meninggal akibat pemberontakan putranya, Sri Sareswara, pada tahun 1159. Wafatnya Jayabhaya dan terjadinya perebutan kekuasaan di istana Panjalu, menjadi kesempatan kepada pewaris Kerajaan Jenggala untuk bangkit di bawah pimpinan Raja Sri Maharaja Girindra.