April 08, 2017

Prasasti Palah sebagai Wujud Syukur Raja Kertajaya

Gus Bowii

Prasasti Palah di Candi Penataran Blitar
Prasasti Palah dibangun atas perintah Raja Kertajaya yang merasa bahagia dan bersyukur melihat kenyataan “empat penjuru tidak sirna dari bencana”. Rasa syukurnya tersebut dicurahkan dalam tulisan dalam linggapala yang ditulis oleh Mpu Amogeswara atau Mpu Taluluh pada tahun 1197. Prasasti batu ini difungsikan untuk menyembah Batara Palah, sebagaimana tertulis dalam prasasti “sdangnira Çri Maharaja sanityangkên pratidina i sira paduka bhatara palah” yang berarti “Ketika dia Sri Maharaja senantiasa setiap hari berada di tempat Bathara Palah”. Prasasti Palah juga menyebutkan tentang peresmian sebuah tanah perdikan yang diberikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Palah.

Tidak dijelaskan bencana apa yang dimaksudkan di dalam prasasti, tapi prasasti berbentu tugu batu bertulis ini dibangun 4 tahun setelah Kertajaya selamat dari serangan pasukan Kerajaan Jenggala, bahkan Tunggul Ametung berhasil melakukan serangan balik ke istana Kerajaan Jenggala di Kutaraja. Selain bencana serangan dari Sri Maharaja Girindra, kemungkinan bencana lain adalah letusan Gunung Kelut yang terletak di perbatasan wilayah Kabupaten Blitar dengan Kabupaten Malang. Prasasti Palah dan komplek Candi Penataran terletak kurang lebih 10 kilometer di barat daya Gunung Kelut. Prasasti Palah dan Candi Penataran, menurut analisis Danis Lombar dimaksudkan sebagai Pemujaan terhadap Dewa Gunung, dalam hal ini Gunung Kelud.

Prasasti Palah termasuk prasasti insitu, yang berarti tetap berada di tempatnya di bangun, yaitu berada di halaman Candi Penataran di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Candi Penataran dibangun di kawasan yang ditetapkan sebagai daerah perdikan, dan bangunan-bangunan yang ada di kawasan Candi Penataran dibangun terutama pada masa Kerajaan Majapahit.