April 27, 2017

Prasasti Sidateka atau Piagam Tuhanyaru 1323

Gambarkan Majapahit  4 Tahun Setelah Pemberontakan Ra Kuti


10 Lempeng Tembaga
Piagam Tuhanyaru
Pada tahun 1319, di Kerajaan Majapahit terjadi pemberontakan oleh seorang Darmaputra, Ra Kuti, yang berhasil menguasai Istana Kerajaan Majapahit Tarik. Banyak ksatria Majapahit yang tewas dalam peristiwa ini, tapi Raja Jayanegara berhasil diselamatkan oleh komandan jaga istana, yang bernama Bekel Mada. Dalam serat Pararaton, Jayanegara diselamatkan dengan dibawa lari sampai Desa Badander, yang terletak di daerah Matahun (Bojonegoro). Setelah melakukan gerakan rahasia, Bekel Mada menyatukan kekuatan pendukung kerajaan dan berhasil mengalahkan Ra Kuti dan pengikutnya, dan membawa kembali Jayanegara ke istana Majapahit. Atas jasanya menyelamatkan raja, bekel Mada diangkat menjadi Patih di Kahuripan dan kemudian diangkat menjadi Patih di Daha.

Menimbang dari pemberontakan dimana istana kerajaan mudah dikuasi, Sri Jayanegara membangun istana baru di kota yang dikelilingi parit di daerah Trowulan (Siwi Sang dalam buku Girindra). Empat tahun setelah pemberontakan Ra Kuti, dan sudah menempati istana baru di Trowulan, Sri Jayanegara  mengeluarkan piagam kerajaan dalam beberapa lempeng tembaga, yang dikenal sebagai Prasasti Sidateka, juga dikenal sebagai Prasasti Tuhanyaru dan juga Prasasti Jayanegara 2. Piagam yang terdiri dari 10 lempeng tembaga ini dikenal sebagai Prasasti Jayanegara 2 karena merupakan prasasti kedua yang dibuat oleh Sri Jayanegara setelah Prasasti Belawi di awal menjadi raja di tahun 1305.
Prasasti ini dinamakan sesebagai Prasasti Tuhanyaru kerena dibuat sebagai bukti pemberian tanah sima perdikan kepada seorang pembesar istana, dan dinamakan Prasasti Sidateka mengingatkan pada kembalinya Sri Jayanegara setelah pelarian sampai ke Desa Badander akibat pemberontakan oleh Ra Kuti. Prasasti Tuhanyaru ditemukan di Mojoketo, saat ini disimpan di Museum Universitas Leiden Negeri Belanda.
Selain menyebutkan maksud berupa pemberian tanah sima perdikan, prasasti ini juga disertai kalimat-kalimat pujian kepada Sri Jayanegara sebagai raja dan beberapa pejabat kerajaan penting di Majapahit. Disebutkan bahwa prasasti ini diperintah kepada para mantra Katrini Perintah itu diterima oleh yang mulia para menteri Katrini:Rakrian menteri Hino Dyah Sri Rangganata, yang menggetarkan musuh seteru. Rakrian menteri Sirikan, Dyah Sri Kameswara, yang bertabiat tiada cacat. Rakrian menteri Halu, Dyah Wiswanata, yang gagah perkasa serupa adik Bima. Semua menteri Katrini itu dikepalai Rake Tuhan Mapatih ring Daha.

Dari prasasti ini juga diketahui bahwa yang menjadi Patih Kerajaan Majapahit adalah Dyah Halayuda. Tokoh ini bernama Mahapatih yang di dalam Serat Pararaton berperan besar dalam menyingkirkan keluarga Aria Wiraraja dalam pentas politik Majapahit. Disebut dalam pemberontakan Ranggalawe (anak Aria Wiraraja), dalam Pemberontakan Mpu Sora (adik Aria Wiraraja) dan dalam Pemberontakan Nambi (anak Aria Wiraraja).