April 06, 2017

Raden Wijaya Pendiri Kerajaan Majapahit

Gus Bowii


Raden Wijaya adalah pendiri Kerajaan Majapahit dan menjadi raja pertama pada tahun 1293. Pada saat Sri Kertanegara menjadi Raja di Kerajaan Singasari Raden Wijaya adalah seorang pangeran yang tinggal di istana Singasari di Tumapel. Ketika terjadi serangan sporadis di utara ibukota Kerajaan Singasari, Raden Wijaya diperintah Sri Kertanegara untuk memadamkan penyerangan yang dianggapnya kerusuhan. Ketika Raden Wijaya dan pasukannya bergerak ke utara, istana Singasari yang yang ditinggalkan banyak pasukannya diserang mendadak dan diam-diam oleh pasukan Jayakatwang dari arah selatan. Istana yang tidak siap dengan mudah diduduki dan Sri Kertanegara tewas dalam serangan ini. Empat orang putri Kertanegara ditawan oleh pasukan Jayakatwang. Raden Wijaya yang berhasil mengatasi serangan kecil di utara kembali ke istana dan melakukan serangan balasan kuwalahan menghadapi pasukan besar Jayakatwang. Setelah hanya sanggup membebaskan satu orang putri Sri Kertanegara, Raden Wijaya memutuskan untuk melarikan diri ke Madura dan meminta perlindungan Adipati Sumenep, Aria Wiraraja.
Petualangan pelarian Raden Wijaya menuju Sumenep ini diceritakan dalam Kitab Pararaton, Kisah Raja-Raja Wangsa Rajasa yang ditemukan di Bali tahun 178x. Di istana Adipati Sumenep, Raden Wijaya mendapat dukungan dari Aria Wiraraja. Mereka membuat perjanjian bahwa "Jika Aria Wiraraja berhasil membantu merebut kekuasaan dari Jayakatwang, Raden Wijaya akan memberikan separuh wilayah bekas Kerajaan Singasari, mulai dari Lumajang sampai ke ujung timur Pulau Jawa.

Aria Wiraraja berkirim surat kepada Jayakatwang yang menyatakan bahwa Raden Wijaya minta diampuni dan bersedia tunduk berbakti kepada Kerajaan Kediri. Jayakatwang yang sangat percaya pada Aria Wiraraja setuju menerima Raden Wijaya.
Beberapa bulan tinggal di lingkungan istana, Raden Wijaya mengajukan usulan membuka lahan di Hutan Tarik untuk daerah perburuan. Dengan dukungan Aria Wiraraja, Jayakatwang menerima usulan Raden Wijaya. Dengan pasukan Sumenep yang dikerahkan oleh Aria Wiraraja, Raden Wijaya membuka hutan di dekat aliran Sungai Brantas, di Trowulan. Daerah baru ini dinamakan Majapahit, diceritakan oleh Pararaton karena ada pasukan yang memakan buah maja yang ternyata rasanya pahit.
Dari hasil pengamatan selama tinggal di lingkungan istana, Raden Wijaya yakin bisa mengalahkan pasukan Jayakatwang. Tapi Aria Wiraraja mengusulkan penyerangan dilakukan bersama pasukan Mongol yang mulai merapat di pantai utara Jawa. Serangan pun dilakukan bersama oleh pasukan Raden Wijaya, Pasukan Aria Wiraraja dan Pasukan Mongol. Serangan dari tiga penjuru berlangsung cepat dan pasukan Jayakatwang tidak sanggup memberikan perlawanan berarti. Raden Wijaya berhasik membebaskan tiga putri Sri Kertanegara dan pasukan Mongol berhasil menangkap Jayakatwang dan putranya Ardaraja.
Raden Wijaya kembali ke desa Majapahit untuk menyiapkan penyerahan para putri raja Jawa. Sesampai di Majapahit, pasukan Raden Wijaya menyerang pasukan Mongol yang mengawal perjalanan Raden Wijaya. Selanjutnya pasukan Raden Wijaya melakukan serangan-serangan sporadis dan gerilya sampai pasukan Mongol banyak yang tewas dan sisanya kembali ke laut. Pada 10 November 1293 Raden Wijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit dan dirinya dilantik menjadi raja pertama, dengan gelar Kertarajasa Jayawardana. Raden Wijaya memperistri dua putri Sri Kertanegara dan menjadikan putri sulung sebagai permaisuri. Ketika rombongan ekspedisi Pamalayu kembali dari Sumatera, Raden Wijaya memperistri salah satu putri Raja Darmasraya yang ikut bersama rombongan, yaitu Indreswari atau dikenal sebagai Dara Petak. Adiknya putri Dara Jingga menjadi istri panglima ekspedisi pamalayu, yaitu Mahisa Anabrang. Raden Wijaya menjadi raja selama 12 tahun dan mangkat pada tahun 1309 dan jasadnya dicandikan Simping. Sebagai penggantinya keluarga Kerajaan Majapahit mengangkat Sri Jayanegara, putra Sri Indreswari.

Masa Konsolidasi Kerajaan
Raden Wijaya berhasil mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai penerus Wangsa Rajasa atas bantuan banyak pihak, terutama dari Keluarga Aria Wiraraja, termasuk Lembu Sora, Nambi maupun Ranggalawe. Ada juga para panglima perang lokal dan pasukan ekspedisi Pamalayu yang berhasil menjalin koalisi dengan Kerajaan Darmasraya sebagai garis depan membendung pasukan dari barat dan utara. Raden Wijaya pun membagi kekuasaan kepada mereka yang berjasa. Aria Wiraraja diangkat menjadi pesangguhan atau hulubalang selain mendapatkan separuh wilayah Majapagit. Ranggalawe diangkat menjadi Adipati Tuban dan sekaligus sebagai pesangguhan atau hulubalang di istana Majapahit. Nambi diangkat menjadi mahapatih dan Lembu Sora sebagai patih di Kerajaan Daha, di bekas ibukota Kediri. Selain itu, Raden Wijaya juga membuat jabatan baru di istana yang disebut sebagai Darma Putra, untuk mengakomodasi tujuh tokoh dari daerah yang telah berjasa, yaitu: Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanja, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak dan Ra Panggah. Panglima ekspedisi Pamalayu, Mahisa Anabrang diangkat sebagai penglima perang dengan gelar Rakryān Mahāmantri Dyah Adwayabrahma.
Di masa awal menjadi raja, Raden Wijaya menghadapi penentangan atas keputusannya. Pengangkatan Nambi sebagai Mahapatih Majapahit dengan terang-terangan ditentang Ranggalawe, yang mengangap Lembu Sora lebih layak karena dia anggap berjasa lebih besar.
Penentangan Ranggalawe ini kemudian berkembang menjadi pemberontakan pertama di Majapahit. Setelah Ranggalawe pulang ke Tuban dengan sikap tidak puas, di Lingkungan Istana beredar kabar ada penggalangan pasukan untuk memberontak di Tuban. Istana memutuskan untuk menindak pemberontkan dan Mahapatih Nambi mengirim pasukan Mahisa Anabrang. Dalam pertempuran di Sungai Tambakberas, Mahisa Anabrang mengalahkan Ranggalawe dalam pergulatan di sungai, tapi Mahisa Anabrang juga tewas oleh tombak Lembu Sora. Tewasnya Mahisa Anabrang oleh sesama pasukan Majapahit ini menjadi skandal setelah anaknya, Mahisa Taruna, menginak remaja. Setelah mengetahui cerita kematian bapaknya, Mahisa Tarusa menuntut hukuman mati bagi Lembu Sora. Di lingkungan istana beredar isu bahwa Lembu Sora pantas diadili dan dihukum mati, sesuai dengan kitab Kutaramana-wadharmasastra. Tekanan kepada Raden Wijaya untuk menghukum Lembu Sora makin kuat, dan akhirnya memanggil patih Daha ke istana Majapahit. Lembu Sora datang untuk meminta klarifikasi kepada raja diiringi beberapa pengawalnya. Kedatangan Lembu Sora dengan membawa pasukan pasukan pengawalnya dianggap pasukan istana sebagai sikap memberontak. Lembu Sora akhirnya diserang dan tewas di halaman istana Majapahit.

Sebagai Raja yang masih harus membangun legitimasi, Raden Wijaya berada di pusaran persaingan pengaruh antara Keluarga Aria Wiraraja yang menduduki posisi penting dengan mantan pejabat tinggi Kerajaan Singasari yang berhasil dalam misi Ekspedisi Pamalayu tapi tidak mendapatkan posisi strategis karena tidak ikut terlibat dalam perang melawan Jayakatwang dan mengusir pasukan Mongol. Raden Wijaya berhasil mengatasi persaingan antar-kekuatan pendukungnya dan mempertahankan eksistensi Majapahit sebagai penerus Wangsa Rajasa.