April 22, 2017

Hari Jadi Kabupaten Nganjuk dan Perang Anjukladang tahun 937

Agus Wibowo

Hari jadi Kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur diperingati pada 10 April. Tanggal ini ditentukan berdasarkan angka tanggal yang ditemukan di Prasasti Anjukladang yang dibangun pada tahun 937. Prasasti yang ditemukan di bekas reruntuhan Candi Lor ini dibuat pada akhir abad Seribu ketika Mpu Sindok masih berkuasa di Kerajaan Medang Wangsa Isyana. Pertanyaannya, untuk apa prasasti tersebut dibangun?

Al kisah, berdasarkan catatan sejarah, di tahun 928 terjadi eksodus besar-besaran keluarga Kerajaan Medang Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Eksodus ini diduga kuat karena dua hal, yaitu adanya letusan dahsyat Gunung Merapi dan peperangan dengan Wangsa Syailendra dari Kerajaan Sriwijaya yang makin menguasai sebagian besar wilayah Jawa Tengah. Pertama kali Mpu Sindok membangun istana di Tamwlang di Kabupaten Jombang tapi kemudian dipindahkan ke arah barat di Watan, Kabupaten Magetan. Pemindahan ini dilakukan karena Tamwlang terlalu dekat dengan Kali Brantas sehingga mudah diserang oleh pasukan laut. 

Pemindahan ini tepat, karena pasukan Wangsa Syailendra juga menyerang Kerajaan Medang melalui Sungai Brantas. Karena Istana Watan jauh dari sungai, pasukan penyerang melakukan perjalanan darat dari Kertosono dan melewati daerah Anjukladang. Di daerah ini, dengan bantuan penduduk Anjukladang, pasukan Kerajaan Medang bisa menahan dan mengalahkan pasukan Wangsa Syailendra. 

Atas jasa-jasa masyarakat Desa Anjukladang tersebut, Mpu Sindok memberikan anugerah sima perdikan. Dengan anugerah ini penduduk Desa Anjukladang dibebaskan dari membayar pajak, pejabat kerajaan dilarang masuk desa tanpa seijin raja, dan pemerintah juga diberikan beberapa otonomi lain termasuk mempunyai laskar dan menyelenggarakan upacara keagamaan sendiri. 
Janji Mpu Sindok yang awalnya dituliskan di daun lontar ini dikukuhkan melalui prasasti dalam bentuk tugu batu bertulis, yang dikenal sebagai Prasasti Anjukladang. 
Gus Bowii