October 25, 2017

Misteri Kekuasaan yang Runtuh di Puncak Kejayaan

Agus Wibowo 

Ritual Jamas Keris/Puspito
Kerajaan Medang Wangsa Isyana yang dibangkitkan kembali oleh Mpu Sindok di Jawa Timur mencapai puncak kejayaan pada raja keempat, Darmawangsa Teguh. Bukan hanya bisa bertahan dari serangan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Medang berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Timur, dan bisa membangun koalisi dengan Kerajaan Bedahulu di Pulau Bali melalui perkawinan Raja Udayana dengan Mahendrata, adik Darmawangsa. Dengan kekuatan koalisi tersebut, Darmawangsa bisa mengusir Wangsa Syailendra kembali ke Kerajaan Sriwijaya, bahkan bisa melakukan serangan melalui laut ke pusat Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera.
Dalam situasi aman dan damai, Kerajaan Medang mau memperkokoh koalisasi dengan mengawinkan putri Darmawangsa dengan putra Raja Bedahulu, yang juga keponakannya, yaitu Erlangga. Tapi pesta pernikahan Putri Raja Darmawangsa dan Putra Raja Udayana di puncak kejayaan ini berakhir tragis.
Di saat pesta pernikahan sedang berlangsung pada tahun 1016, istana Kerajaan Medang diserang oleh Raja Wurawari dari Kerajaan Lawram yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya yang ada di daerah Cepu, Kabupaten Blora saat ini. Istana Kerajaan Medang yang ada di Wwatan daerah Maospati Kabupaten Magetan hancur, banyak keluarga kerajaan yang terbunuh, termasuk Raja Darmawangsa. Kerajaan Medang di Jawa Timur hancur di puncak kejayaan, bahkan kehancurannya dikenal sebagai peristiwa "maha pralaya", mengingat banyaknya korban dan terbunuhnya sang raja. Peristiwa ini ditulis di dalam Prasasti Pucangan yang dibuat oleh Raja Erlangga 26 tahun kemudian, pada tahun 1042.

Peristiwa serupa terjadi pada Kerajaan Singasari yang dipimpin Raja Kertanegara di tahun 1292. Ketika sedang bersuka cita atas keberhasilan ekspedisi Pamalayu ke Kerajaan Darmasraya di Pulau Sumatera, istana Kerajaan Singasari yang sedang berpesta diserang oleh Adipati Gelang Gelang yang tidak lain adalah kakak iparnya, Jayakatwang. Dalam serangan diam-diam dan mendadak ini, Raja Kertanegara tewas di istana dan tiga putrinya ditawan oleh Jayakatwang. Peristiwa ini dikisahkan dalam Serat Pararaton dan Kakawin Negarakertagama, dan dituliskan dalam prasasti yang dibuat oleh Raja Majapahit pertama, Kertarajasa Jayawardana, diantaranya Prasati Kudadu.

Dua peristiwa tragis dari sejarah Indonesia masa kehidupan monarki di atas merupakan pelajaran penting dalam menyikapi kemenangan dan kejayaan dalam persaingan kekuasaan. Kemenangan dalam perang menyisakan dendam yang menumpuk potensi pembalasan, sedangkan kekuasaan yang teramat besar, yang menampakkan kejayaan, bisa membuat terlena. Nasihat RA Kartono, kakak RA Kartini, tentang "menang tanpa merendahkan (ngasorake)" bisa jadi dirumuskan berdasarkan perenungan atas tindakan merendahkan pada diri pemenang yang menimbun dendam pada lawan dan sikap merasa jaya yang menurunkan kewaspadaan.

Dalam peristiwa Maha Pralaya, penguasa Kerajaan Medang di istana Wwatan dalam kondisi sangat kuat karena ancaman terberat dari Wangsa Syailendra berhasil diusir jauh ke Pulau Sumatera. Ternyata ancaman mematikan bisa datang dari kekuatan yang tidak diduga, yaitu dari kerajaan kecil Lawram yang ternyata adalah sekutu Kerajaan Sriwijaya. Ketika dalam suasana merayakan pesta perkawinan, pasukan Lawram menghancurkan Kerajaan Medang dalam satu hari. Pada peristiwa hancurnya Kerajaan Singasari, Raja Kertanegara juga merasa kuat dan aman. 

Dia mengirimkan pasukan dalam jumlah besar dan kuat untuk Ekspedisi Pamalayu ke Pulau Sumatera, karena merasa terlindungi oleh para kerabat dan sekutunya. Ternyata serangan mematikan justru datang dari kerabat dekat, yaitu Jayakatwang, saudara ipar yang menjadi suami kakak perempuannya. Kedekatan dengan Jayakatwang juga dikukuhkan dengan mengikat perltalian besan dengan mengawinkan putri Kertanegara dengan putra Jayakatwang, Ardaraja. Serangan melalui operasi senyap oleh Jayakatwang dan pasukannya membuat Istana Kerajaan Singasari hancur dan Raja Kertanegara tewas di singgasana.

Pelajaran dalam Berdemokrasi
Kejayaan dan kelengahan seperti jadi dua sisi mata uang, demikian juga penindasan atau pelecehan dan dendam.  Apa yang diamalami Raja Darmawangsa dan Raja Kertanegara, bisa menjadi pelajaran penting bagi penguasa yang berhasil menghimpun kekuatan besar di masa kini, dalam sistem demokrasi sekalipun. Dukungan besar dari mayoritas anggota parlemen, support dari media massa yang kuat, serta back up dari partai politik yang bisa menggalang kekuatan dari daerah tidak menjamin kekuasaan bebas dari ancaman. Harus diingat bahwa anacaman bisa datang dari lawan yang tampak lemah, sekutu yang balik badan, pendukung yang menjerumuskan, bahkan pengikut setia yang berkhianat. 

Ada hal lebih penting selain memperkuat yang sudah kuat, yaitu melakukan usaha terbaik dalam memenuhi hak-hak warga negara, mengembangkan potensi ekonomi, memperluas kesejahteraan, dan membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) warga negara melalui pendidikan dan pekerjaan yang bermutu. Kekuatan di parlemen yang sudah mayoritas tidak urgent untuk diperbesar yang malah menciptakan ketimbangan, dukungan media massa yang sudah besar tidak perlu diperbesar sampai semua media jadi pendukung, dan monopoli atas kekuatan penegak hukum tidak perlu digunakan secara masif untuk melemahkan lawan.

Kekuatan yang terlalu besar dan lawan yang terlalu lemah akan juga melemahkan kontrol. Setidaknya, kata Lord Acton, "absolute power corrupts absolutely" niscaya terjadi. Jika sudah terjadi pembusukan karena beragam korupsi, tinggal menunggu munculnya kekuatan penghancur yang tidak terduga datangnya. Bisa dari lawan yang menyimpan dendam, rakyat yang marah, sekutu yang berkhianat, atau pendukung setia yang ingin memperbesar kekuasaan sendiri.***