April 06, 2017

Sri Kertajaya, Raja Kediri Terakhir

Gus Bowii

Sri Kertajaya menjadi raja Kediri menggantikan kakaknya Sri Kameswara. Jatuhnya tampuk pemerintahan di Istana Kediri ini membangkitkan konflik panjang antara Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu. Konflik kembali terjadi karena pengganti Kameswara bukan putra mahkotanya, anak Kameswara dari permaisuri Sri Kirana, anak Raja Jenggala Sri Maharaja Girindra. Sri Kirana kecewa dan istana Jenggala marah. Pasukan Jenggala menyerang Kerajaan Panjalu dan berhasil merangsek sampai ke jantung kekuasaan di Istana Kediri. Pasukan Kerajaan Panjalu terdesak dan kalah dan Sri Kertajaya melarikan diri ke arah selatan, ke daerah Tulungagung-Trenggalek.
Berkat jasa salah satu komandan perangnya dan bantuan penduduk di daerah persembunyian Sri Kertajaya selamat dan berhasil merebut kembali istana Kediri. Atas jasa Tunggul Ametung dan pasukannya, Kertajaya bahkan berhasil melakukan serangan balasan sampai ke istana Kutaraja yang membuat keluarga penguasa Kerajaan Jenggala mengungsi.
Atas jasanya menaklukkan Kerajaan Jenggala, Tunggul Ametung diangkat menjadi Adipati di wilayah Jenggala dan membangun Kota Tumapel sebelah timur Gunung Kawi. Adipati Tunggul Ametung di Tumapel berhasil meredam pemberontakan Jenggala dan Kerajaan Panjalu mencapai kedamaian.
Pada tahun 11xx Tunggul Ametung terbunuh di peraduannya. Ken Arok yang menjadi kepala pengawal Tunggul Ametung menangkap Kebo Ijo dan membunuhnya. Atas jasanya dan membutuhkan orang yang mampu menjaga keamanan di wilayah Jenggala, dan pertimbangan Begawan Lihgawe, Sri Kertajaya mengangkat Ken Arok menjadi Adipati di Tumapel. Serat Pararaton menuliskan bahwa pembunuh Tungguk Ametung adalah Ken Arok dengan cara memfitnah temannya Kebo Ijo. Kerisnya yang dipinjamkan kepada Kebo Ijo dicuri dan digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung. Kebo Ijo yang jadi tertuduh ditangkap dan langsung dibunuh sehingga tidak bisa memberikan kesaksian.
Tiga tahun menjadi Adipati di Tumapel, Ken Arok berhasil menyatukan kembali kekuatan Kerajaan Jenggala. Pada tahun 11xx Ken Arok menyatakan wilayah Tumapel yang berada di wilayah Kerajaan Jenggala menjadi wilayah merdeka dan tidak tunduk pada Kertajaya. Dengan dukungan para brahmana yang kecewa pada Sri Kertajaya, Ken Arok menyatakan diri sebagai raja Tumapel dengan gelar Rajasa sang Amurwabhumi. Sejak Kerajaan Panjalu menghadapi serangan-serangan dari Pasukan Tumapel.
Dua kali serangan Ken Arok menjangkau Istana Kediri. Dalam serangan pertama tahun 1205 Sri Kertajaya berhasil menyelamatkan diri ke Tulungagung sedangkan pada tahun 1222 serangan Pasukan Ken Arok membuat Sri Kertajaya terusir dari istana Kediri dan tidak bisa kembali lagi. Kerajaan Panjalu yang berpusat di Kediri takluk di bawah Kerajaan Tumapel. Salah satu putra Kertajaya diberikan perlindungan oleh Ken Arok kemudian diangkat menjadi Adipati di wilayah Gelang Gelang, Madiun.

Prasasti Kertajaya

Sri Kertajaya merupakan raja yang membangun banyak prasasti ketika menjadi raja. Dalam dua kali menyelamatkan diri ke wilayah Tulungagung dan Trenggalek, Sri Kertajaya banyak memberikan anugrah sima perdikan kepada desa-desa yang berjasa memberikan perlindungan. Dalam pelarian pertama dari serangan Pasukan Jenggala yang dipimpin Sri Maharaja Girindra pada tahun 1191. Dalam pelarian pertama Sri Kertajaya memberikan anugrah sima perdikan kepada Desa Kamulan yang ditandai dengan Prasasti Kamulan pada 31 Agustus 1194, kepada Desa Panjer melalui Prasasti Galunggung pada 20 April 1200, dan kepada Desa Biri melalui Prasasti Biri pada 29 Agustus 1202, dan kepada Desa Sumberangin melalui Prasasti Sumberangin pada 4 April 1204. Dalam pelarian kedua karena serangan Ken Arok pada tahun 1205 Sri Kertajaya memberikan anugrah Sima kepada daerah Lawadan yang dikukuhkan dengan Prasasti Lawadan pada 18 November 1205.  Tanggal pemberian prasasti Kamulan kini diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Trenggalek dan tanggal pemberian prasasti Lawadan diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung.