September 28, 2017

Lonceng Cakra Donya oleh-oleh Chengho untuk Rakyat Aceh

Agus Wibowo

Memasuki halaman Museum Aceh, siapapun akan dengan mudah melihat lonceng besar yang digantung dalam bangunan kecil seperti meunasah. Lonceng ini dikenal dengan nama “Lonceng Cakradunya”. Lonceng yang disimpan di halaman Museum Aceh ini merupakan buatan China yang dipersembahkan kepada Kerajaan Samudra Pasai di pantai Timur Aceh, sebagai symbol persahabatan antara Kerajaan Samudra Pasai dengan Dinasti Ming yang berkuasa di Daratan China, yang dibawa dalam ekspedisi Cheng Ho pada abad 15. Lonceng ini dibawa oleh Cheng Ho dalam kesempatan ke-4 ekspedisi laut ke wilayah nusantara, sebagai hadiah dari Kaisar Yongle kepada Kerajaan Samudera Pasai.
Lonceng raksasa ini berbentuk stupa, dibuat pada 1409 Masehi. Tingginya mencapai 125 centimeter, lebar 75 centimeter. Di bagian luar terukir hiasan dan tulisan Arab juga China. Naskah dalam huruf Arab sudah tipis dan sulit dibaca, sedangkan China bertuliskan “Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo” yang berarti “Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5.”
Pasai kala itu dikenal sebagai negeri yang makmur dan terbuka. Banyak pedagang-pedagang dari Timur Tengah dan Gujarat India datang untuk berbisnis dan menyebarkan Islam. Pasai juga mengekspor rempah-rempah ke berbagai Negara, termasuk ke Tiongkok.
Sau abad kemudian, Kerajaan Pasai ditakluk oleh Kerajaan Aceh Darussalam pimpinan Sultan Ali Mughayatsyah pada 1542 M. Lonceng persembahan kaisar China ini disita dan dibawa ke Banda Aceh. Di masa Kerajaan Aceh dipimpin Sultan Iskandar Muda, lonceng ini digunakan sebagai salah satu alat komunikasi di kapal perang Kerajaan Aceh, yaitu Kapal Cakra Donya. Lonceng persembahan Cheng Ho ini ditaruh di buritan depan kapal dan dinamakan Akidato Umoe yang berarti Berita Kejadian. Setelah tidak digunakan di kapal, lonceng ini kemudian dikenal dengan nama kapal yang membawanya, yaitu Cakra Donya.

Lonceng Cakra Donya sempat digantung di depan Masjid Raya Baiturrahman yang ada di dalam area Istana Sultan Aceh. Pada 1915 M, dari Masjid Raya, lonceng bersejarah ini kemudian dipindah ke Museum Aceh dan bertahan hingga sekarang.