October 19, 2017

Misteri Konflik Kependudukan dalam Prasasti Wurudu Kidul

Agus Wibowo

Prasasti Warudu Kidul
Nasib Dhanadi, penduduk Mataram Kuno, betul-betul sial. Betapa tidak, dua kali ia harus menghadapi gugatan terhadap status kependudukannya. Gugatan pertama dialami ketika dituduh sebagai golongan budak raja dan tidak berhak memiliki kemerdekaan. Dhanadi mengadu ke pengadilan kerajaan dan setelah ditelusuri sampai kakek-nenek dan buyutnya, pengadilan memutuskan bahwa Dhanadi adalah penduduk asli, yang merdeka dan bukan budak.  Keputusan pengadilan kerajaan dituliskan pada piagam kerajaan yang berbentuk lempeng tembaga pada 20 April 922.Dengan piagam tersebut, Dhanadi punya status kewarganegaraan yang jelas dan tidak akan menghadapi tuduhan lagi sebagai golongan budak raja. 

Sialnya persoalan belum selesai, Dhanadi menghadapi masalah kependudukan lagi satu bulan kemudian (6 Mei 922). Kali ini ada seorang bernama Pamariwa yang menuduh Dhanadi bukan penduduk asli melainkan orang Khmer yang menyusup. Dhanadi lagi-lagi mengadukan tuduhan tersebut ke pengadilan kerajaan. Setelah Pamariwa dua kali tidak hadir saat dipanggil pengadilan untuk menjelaskan tuduhan, pengadilan akhirnya memutuskan bahwa Dhanadi bukan penyusup dari Khmer melainkan penduduk asli.

Keputusan pengadilan tersebut dutuliskan di balik piagam yang sudah dimiliki oleh Dhanadi. Prasasti atau piagam Wurudu Kidul jadinya berisi dua keputusan pengadilan tentang status kependudukan Dhanadi. Aksara dan bahasanya Jawa Kuno, dikeluarkan pada masa Kerajaan Medang di Bhumi Mataram dipimpin Rakryan Dyah Tulodong yang memerintah dari tahun 919 sampai 924. Prasasti Wurudu  Kidul saat ini disimpan di Museum Nasional, bisa dilihat di ruang pajang di lantai 2, bersama prasasti-prasasti lain, seperti replika Prasasti Ciaruteun, Parasasti Yupa dari Kutai dan lainnya.