September 28, 2017

Wisnuwardhana, Penyatu Keturunan Ken Arok dan Ken Dedes

Agus Wibowo


Candi Jajagu,
sebagai pendermaan Wisnuwardhana
Raja ketiga Kerajaan Tumapel adalah putra Anusapati yang juga cucu Ken Dedes dan Tunggul Ametung, Seminingrat yang bergelar Wisnuwardhana. Dia menjadi raja di Tumapel kemudian membantu Mahisa Cempaka, putra Mahisa Wongateleng, merebut kekuasaan Kerajaan Kediri dari Tohjaya. Kedua raja cucu Ken Dedes ini kemudian membuat kesepakatan menyatukan Kerajaan Kediri dan Tumapel menjadi Kerajaan Singhasari. Mahisa Cempaka berhenti menjadi raja dan Wisnuwardhana menjadi raja di kerajaan yang disatukan, kemudian dia mengangkat putranya, Kertanegara menjadi raja muda di Kediri.
Penyatuan dua kerajaan ini ditulis dalam Prasasti Mula Malurung yang dibuat oleh Wisnuwardhana. Prasasti Mula Malurung mengungkap bahwa kisah tentang Ken Arok yang ada di Kitab Pararaton bukanlah legenda melainkan sejarah factual yang benar-benar terjadi. Prasasti Mula Malurung menuliskan dengan detil tentang anak cucu Ken Arok dan Ken Dedes, termasuk anak cucu Ken Dedes dari suami Tunggul Ametung maupun anak cucu Ken Arok dengan selirnya, Ken Umang. Selain itu, prasasti ini juga menjelaskan posisi Jayakatwang, bupati Gelang-Gelang. Jayakatwang yang merupakan cicit Kertajaya yang ditumbangkan oleh Ken Arok, menjadi menantu Wisnuwardhana melalui perkawinan dengan putrinya. Selain prasasti Mula Malurung, Wisnuwardhana juga memerintahkan Kertanegara yang menjadi raja muda di Kediri untuk membuat prasasti lain, diantaranya Prasasti Kelurak yang ditemukan di Magelang.
Prasasti Mula Malurung
Bersatunya pemerintahan Tumapel di sisi timur Gunung Kawi dan pemerintahan Kediri di sisi barat Gung Kawi menjadikan Kerajaan Singasari mencapai kedamaian dan kejayaan. Di bawah pimpinan Wisnuwardhana, Kerajaan Singhasari mulai menjalankan politik luar negeri yang lebih ekspansif. Selain mengembang diplomasi dengan kerajaan-kerajaan di barat Pulau Jawa, Kerajaan Singasari melakukan ekspansi ke Pulau Bali dan ekspedisi ke Pulau Kalimantan, terutama di pantai sisi Selatan dan Barat. Wisnuwardhana merupakan pelopor kerajaan di Jawa Timur yang mengembangkan politik luar negeri yang memandang pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut di perairan nusantara sebagai pulau-pulau yang disatukan oleh laut. Wisnuwardhana wafat pada tahun 1268 dan didermakan di Candi Jajago.

Kebijakan politik luar negeri yang sudah dimulai dilanjutkan oleh putranya –Kertanegara, yang sejak remaja dikader menjadi raja muda di istana Daha di Kediri.