October 02, 2017

1331 - Pemberontakan Sadeng dan Keta

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Gunung Kapur Sadeng di Jember
Setelah Jayanegara dibunuh oleh Ra Tanca, kekuasaan Majapahit dipegang oleh ibusuri Sri Rajapadni, permaisuri Raden Wijaya. Sri Rajapadni mengundurkan diri untuk menjadi biksuni dan melimpahkan tahta Majapahit kepada putri sulungnya, Tribuana Tunggadewi. Menimbang jasa dan prestasinya, Gajahmada ditawari untuk menjadi Mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah yang sudah tua dan sering sakit. Dalam Pararaton dikisahkan bahwa Gajahmada tidak bersedia menjadi Mahapatih, karena masih ada pemberontakan di wilayah timur yang masih belum diatasi. Pemberontakan ini dilakukan oleh Bupati yang sebelumnya di merupakan bagian dari wilayah otonom Tigang Juru yang berpusat di Lumajang,  yaitu wilayah Sadeng dan Keta. Bupati Sadeng dan Keta dianggap memberontak karena belum mengakui kedaulatan Majapahit, meskipun Kerajaan Tigang Juru yang dibangun oleh Aria Wiraraja sudah menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit setelah berakhirnya Pemberontakan Nambi.  
Gajahmada menyatakan bersedia menjadi Mahapatih di Majapahit apabila berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Gajahmada diberikan mandat dari Ratu Tribuana Tunggadewi untuk memimpin pasukan untuk mengatasi pemberontakan Sadeng dan Keta, bersama Adityawarman. Semula pemberontakan ini diatasi melalui diplomasi dengan mengirim Adityawarman untuk ketemu   Bupati Sadeng dan Keta, tapi upaya ini gagal karena ada pasukan Majapahit yang dipimpin Ra Banyak dan Ra Yuyu melakukan provokasi dengan mendekati wilayah Sadeng. Perang terhadap Sadeng dan Keta akhirnya dipimpin langsung oleh Tribuana Tunggadewi. Gajahmada akhirnya berhasil menumpas pemberontakan di daerah Jember ke timur ini. Wilayah Timur Majapahit yang sebelumnya berada di bawah kontrol keluarga Aria Wiraraja, disatukan kembali secara penuh setelah padamnya Pemberontakan Sadeng dan Keta

Setelah berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng dan Keta, Gajahmada bersedia menjadi Mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah. Dalam upacara pelantikannya menjadi Mahapatih, Gajahmada menyampaikan ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Amukti Palapa. Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa Gajah mada megucapkan sumpanya yang terkenal itu; Sumpah Palapa, dengan dukungan penuh Tribhuwanatunggadewi. Pelantikan Gajahmada sebagai rakryan Patih Amangkubhumi Majapahit terjadi pada tahun 1334 Masehi.***