October 22, 2017

Perang Majapahit - Demak (1478) bukan Perang Bapak vs Anak

Agus Wibowo

Setelah Perang Dua Majapahit yang berpusat di Trowulan dan yang beristana di Daha Kediri, dimenangkan oleh Girindrawardhana yang memerintah di Daha. Berita perang dua Majapahit ini dituis dalam Pasasti Jiwu oleh Girindawardhana pada tahun 1486. 

Mengetahui kekalahan apahnya, putra Bre Kertabhumi yang menjadi Bupati Demak mendeklarasikan Demak sebagai kerajaan merdeka, lepas dari Kerajaan Majapahit pimpinan Girindrawardhana. Kerajaan baru di pesisir utara Jawa ini berbentuk Kesultanan, yang didukung oleh kekuatan muslim yang tumbuh pesat di pesisir utara Pulau Jawa, seperti: Semarang, Lasem, Tuban dan Surabaya. Kesultanan Demak yang dipimpin Sultan Fatah menyatakan perang terhadap Majapahit yang ibukotanya sudah pindah ke Daha, dan telah menjadi lemah oleh perang saudara selama 10 tahun. Dalam buku Babat Demak karya R. Atmodarminto, Kerajaan yang berpusat di Daha tidak disebut sebagai Majapahit, melainkan sebagai Kerajaan Keling.
Persaingan dan perang Demak melawan Majapahit ini berlangsung selama 20 tahun, sampai akhirnya dimenangkan oleh Kesultanan Demak,  dimana Girindrawardhana tewas pada tahun 1498. Sultan Fatah mengampuni putra Girindrawardhana, yaitu Patih Udara, dan mengangkatnya menjadi bupati di Daha  -sebagai bagian Kesultanan  Demak. Hal ini dilakukan karena Sultan Fatah mempertimbangkan hubungan kekerabatan dengan Patih Udara, yang masih terhitung sebagai sepupu. Patih Udara sempat melakukan pemberontakan setelah Sultan Fatah wafat pada tahun 1518, tapi pemberontakan ini dipadamkan oleh Dipati Unus, dimana Patih Udara sebagai pewaris tahta kerajaan Majapahit gugur dalam perang.


Pemberontakan Demak merupakan pemberontakan terakhir di masa Majapahit dan sekaligus mengakhiri eksistensi Kerajaan Majapahit, yang sisa-sisanya ada di Daha Kediri. Kesultanan Demak mendapatkan legitimasi sebagai kelanjutan Kerajaan Majapahit kerena didirikan oleh Raden Patah yang diyakini sebagai putra dari selir Bre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V. Meskipun begitu, legitimasi harus diperjuangkan dengan keras. Sultan ketiga Demak, Sultan Trenggono, harus memerangi kerajaan-kerajaan sis Majapahit di sisi timur bahkan tewas ketika berperang di daerah Situbondo Jawa Timur pada tahun 1546.