October 08, 2017

Gunung Kawi, Saksi Bisu Konflik Warisan Dua Kerajaan di Jawa Timur

Agus Wibowo



Gerbang Gunung Kawi
Apabila orang ditanya tentang Gunung Kawi, kebanyakan akan menjawab tentang "ritual pesugihan". Konon pemilik sebuah perusahaan rokok di Malang hampr bangkrut pergi ke Gunung Kawi untuk meminta petunjuk mistik dan juru kunci makam mbah Jugo menyarankan untuk mengganti merek rokok menjadi Bentoel. Kisah rokok Bentoel ini tersebar luas dan membuat Gunung Kawi didatangi banyak pengunjung yang ingin mengubah sial menjadi sukses seperti bos rokok asal Malang tersebut. Tempat favorit yang didatangi pengunjung adalah komplek pemakaman mbah Jugo, tokoh pendukung Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa tahun 1825 - 1830. Di situ ada pohon dewandaru, dimana apabila pengunjung kejatuhan daun atau ranting, dianggap sebagai tanda keinginannya akan dikabulkan.
Sesungguhnya arti penting Gunung Kawi mempunyai sejarah panjang di Jawa Timur. Gunung yang dikenal karena mistik pesugihannya ini meeupakan batas alam dua kerajaan besar di Jawa Timur, yaitu Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu. Awal kisah, Erlangga Raja Kahuripan yang ingin lengser keprabon, merasa bingung karena dua putranya sama-sama ingin menjadi raja. Erlangga akhirnya membagi Kerajaan menjadi dua, pembagian wilayah dilakukan oleh pendeta kerajaan Mpu Barada dengan menarik garis dari utara ke selatan dengan titik tengahnya Gunung Kawi.
Kerajaan Jenggala diberikan kepada putra dari istri kedua, Mapanji Garasakan, dengan wilayah Sidoarjo, Pasuruan, Malang dan daerah lain sampai ujung timur Pulau Jawa. Ibukotanya tetap di Kahuripan, di Surabaya-Sidoarjo sekarang. Kerajaan Panjalu di sisi barat Gunung Kawi diberikan kepada putra dari permaisuri yaitu Smarawijaya, dengan wilayah Blitar, Kediri, Jombang, Kertosono sampai ke barat. Ibukota kerajaan dibangun baru di daerah Kediri, yaitu Kota Daha, di sisi barat Kali Brantas.
Setelah sama-sama menjadi raja, ternyata dua putra Erlangga tetap bersaing bahkan berperang sampai ke anak cucunya. Perang menghasilkan pemenang ketika Jayabaya menjadi Raja Panjalu di tahun 1134, tapi dua kerajaan berhasil damai ketika Sri Kameswara menjadi Raja Panjalu dan menikah dengan Sri Kirana, putri Raja Jenggala. Sri Kameswara pernah bertapa di Gunung Kawi yang petilasannya masih ada di atas situs mbah Jugo. Sri Kameswara bahkan pernah berkunjung ke Gunung Mahameru, yang ditandai dengan adanya Prasasti Ranu Kumbolo.
Dua kerajaan berperang lagi setelah Sri Kamewara wafat. Kertajaya, adik Kameswara, mengambil alih kekuasaan mengabaikan bahwa Kameswara punya putra dari permaisurinya, meskipun masih kecil. Hal ini membuat Sri Kirana marah dan mengadu ke ayahnya, Raja Jenggala, Sri Maharaja Baginda. Perang antara Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala kembali terjadi. Posisi Gunung Kawi swbagai batas antara barat dan timur kembali berlaku. Dalam perang ini Kertajaya sempat mengalami kekalahan sampai mengungsi ke Desa Kamulan di Trenggalek, tapi akhirnya menang berkat jasa Tunggul Ametung yang berhasil menyerang sampai ke istana Jenggala.
Agus Wibowo


Bentang Gunung Kawi, 
Menjadi Batas Jenggala dan Kediri
Atas jasanya, Tunggul Ametung diangkat menjadi Adipati di wilayah bekas Kerajaan Jenggala, dan dia membangun kota baru di Tumapel, di Singasari Kabupaten Malang, di timur Gunung Kawi. Tunggul Ametung bisa mengontrol wilayah Jenggala sampai ia terbunuh di tahun 1200 dan digantikan komandan pasukan Tumapel yang bernama Ken Arok. Pemuda yang menurut Pararaton adalah pembunuh sesungguhnya Tunggul Ametung ini memproklamasikan kemerdekaan Tumapel yang lepas dari Kerajaan Panjalu pada tahun 1204. Kerajaan Panjalu kembali berperang dengan Kerajaan Jenggala dengan nama lain, yaitu Tumapel. Berita China menyebutnya sebagai Tumapan. Batas dua kerajaan tetap, yaitu Gunung Kawi.
Perang pertama terjadi tahun 1205 tapi Ken Arok hanya memenangkan pertempuran, tidak berhasil menaklukkan Kerajaan Panjalu. Setelah 17 tahun dalam perang dingin yang damai, Ken Arok berhasil menaklukkan Kerajaan Panjalu pada perang di tahun 1222. Ken Arok beekuasa di Tumapel sedangkang untuk wilayah Panjalu dia menempatkan Mahisa Wong Ateleng di istana Daha Kediri. Meskipun terjadi perebutan kekuasaan oleh anak-anak Ken Dedes Tunggul Ametung, Ken Dedes-Ken Arok maupun anak Ken Arok-Ken Umang, Kerajaan Tumapel tetap terkontrol oleh keturunan Ken Dedes. Damai yang panjang terjadi ketika Wisnuwardhana menjadi raja dan menamakan kerajaan sebagai Singasari (Prasasti Mula Malurung), dan menempatkan Kertanegara sebagai Raja Muda di Kediri, sampai kemudian menjadi Raja Singasari mulai tahun 1268.
Situasi damai hancur begitu Jayakatwang melakukan kudeta di tahun 1292 yang menewaskan Kertanegara, kemudian kerajaan dinamakan sebagai Kerajaan Kediri yang berpusat di Daha. Dalam kudeta ini, Sangrama Wijaya yang kemudian dikenal sebagai Raden Wijaya, lolos dari pasukan Jayakatwang dan melarikan diri memujun Sumenep di ujung timur Pulau Madura untuk meminta perlindungan kepada Aria Wiraraja. Di istana Adipaten Sumenep, Aria Wiraraja dan Sangrama Wijaya menyusun rencana untuk mengambil alih kekuasaan dari Jayakatwang. Aria Wiraraja yang paham bahwa Sangrama Wijaya merupakan cucu Mahisa Cempaka (cucu Ken Arok) bersedia membantu, dengan perjanjian dia diberikan setengah wilayah kerajaan Singasari sisi timur sampai ke Blambangan.
Koalisi Aria Wiraraja dan Sangrama Wijaya berhasil mengalahkan Jayakatwang sekaligus mengusir pasukan Mongol, dan pada 10 November 1293, mereka mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit dengan ibukota baru di Tarik. Sangrama Wijaya dilantik menjadi Raja Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana sedangkan Aria Wiraraja menjadi Hulubalang. Peristiwa ini dituliskan dalam Prasasti Kudadu maupun Prasasti Belawi.
Pada tahun 1295, setelah terjadi Pemberontakan Ranggalawe, Aria Wiraraja menagih janji dan meminta haknya atas separuh wilayah kerajaan. Permintaan ini dipenuhi dan Aria Wiraraja menguasai wilayah timur bekas wilayah Kerajaan Jenggala. Wilayah yang dikuasai oleh Aria Wiraraja dinamakan Kerajaan Tigang Juru yang berpusat di Lumajang. Kerajaan ini kemudian juga dikenal sebagai Majapahit Timur. Eksistensi Majapahit Timur ini berakhir setelah wafatnya Aria Wiraraja dan ditumpasnya Pemberontakan Nambi pada tahun 1316 ketika Majapahit dipimpin Jayanegara, putra Sangrama Wijaya.
Sejak penyatuan Majapahit ini posisi Gunung Kawi sebagai batas dua wilayah kerajaan yang dibuat oleh Erlangga pada tahun 1042, berakhir dan dilupakan. Meskipun begitu, perbedaan ciri khas dua wilayah yang dibagi oleh Gunung Kawi ini bisa dilacak hingga kini. Setidaknya masyarakat di wilayah sebelah barat Gunung Kawi menggunakan Bahasa Jawa yang kental pengaruh dari barat sedangkan masyarakat di timur Gunung Kawi menggunakan Bahasa Jawa yang berpadu dengan Bahasa Madura.
Sejarah konflik panjang ini mungkin menghasilkan perbedaan budaya, nilai dan persepsi dalam kontestasi politik di Jawa Timur hingga kini. Gunung Kawi manarik untuk dipahami, bukan sekedar sebagai tempat ritual pesugihan, melainkan juga wisata sejarahnya –terutama sejarah persaingan kekuasaan warisan Erlamgga yang lengser keprabon mandeg pandito pada tahun 1042.