October 07, 2017

Hoax Mematikan di Masa Majapahit

Agus Wibowo


Candi Bulu di Tuban
yang Jadi Lahan Makam
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh masyarakat maupun pemerintah adalah hoax atau berita palsu. Berita model ini memiliki unsur fakta dan data yang benar tapi dicampur dengan unsur fakta dan data palsu. Masalahnya unsur fakta palsu ini mengarahkan berita pada kesimpulan yang salah, menjurus fitnah dan bisa mengarah pada terjadinya kekejihan. Menjadi lebih berbahaya karena teknologi komunikasi saat ini bisa menyebarkan informasi dengan cepat, serentak ke jutaan penerima, apalagi jika masyarakat berada dalam situasi konflik dan butuh referensi yang cepat untuk mengambil tindakan. Berita tentang adanya bank kalah kliring, misalnya, bisa membuat puluhan ribu nasabah bank melakukan penarikan uang di bak secara serentak, yang berakibat banyak bank mengalami rush dan mengguncang ekonomi Negara.
Di masa ketika teknologi komunikasi hanya bisa dilakukan melalui tatap muka dan melalui surat yang disampaikan oleh kurir, hoax pun sering menunjukkan kekuatannya. Hal ini bisa ditelusuri sampai masa awal Kerajaan Majapahit 700-an tahun lalu. Ketika Lembu Nambi diangkat menjadi Patih oleh pertama Majapahit, Sangrama Wijaya, ada beberapa pihak yang kecewa. Salah satunya adalah Adipati Tuban, Ranggalawe. Menimbang jasa-jasa dalam mengawal Sangrama Wijaya ke Madura, memerangi Jayakatwang dan mengusir Pasukan Mongol banyak yang menganggap bahwa Ranggalawe atau Lembu Sora yang lebih berhak menjadi Patih Majapahit.
Berbeda dengan yang lain, Ranggalawe berani berterus terang menyampaikan pendapatnya di hadapan raja dalam siding kerajaan. Banyak pembesar dan pasukan Kerajaan Majapahit yang terkejut atas sikap Ranggalawe di istana, dan segera berseliweran kabar kabar burung setelah Ranggalawe kembali ke Tuban. Beredar kabar bawah Ranggalawe marah besar, selang beberapa hari kemudian beredar kabar Ranggalawe akan melakukan pemberontakan.
Sementara itu di Tuban beredar kabar bahwa Pasukan Majapahit akan menyerang Tuban karena marah dengan kelancangan Ranggalawe menentang kebijakan raja. Dua berita ini berhasil membuat Majapahit menyiapkan pasukan dan Ranggalawe juga menyiapkan pasukan. Berita adanya pergerakan pasukan di Tuban membuat Raja Majapahit mengeluarkan perintah penumpasan. Perang akhirnya terjadi di Kali Tambak Beras di Gresik, dimana pasukan Majapahit berhasil menumpas pasukan Tuban. Ranggalawe tewas dalam pertarungan satu lawan satu dengan panglima Ekspedisi Pamalayu, Mahisa Anabrang.  
***
Situs Biting,
Reruntuhan Benteng Lumajang
Hoax kembali membuktikan kekuatannya dalam Pemberontakan Nambi di tahun 1316. Nambi, Patih Majapahit, mengajukan ijin untuk menengok ayahnya, Aria Wiraraja, yang sakit keras di Lumajang. Kepergiannya ke ibukota Kerajaan Tigang Juru ini diijinkan oleh Raja dan tidak ada masalah. Masalah terjadi ketika Nambi belum juga kembali seperti permohonannya. Perpanjangan cuti oleh Nambi karena ayahnya wafat. Nambi sudah menyampaikan ijin melalui Mahapati, tapi rupanya tidak disampaikan ke Jayanegara, raja kedua Majapahit. Di ibukota Kerajaan Majapahit kemudian beredar berita bahwa Nambi melakukan pembelotan ke Majapahit Timur atau Tigang Juru yang didirikan oleh Aria Wiraraja.
Bahkan beredar kabar bahwa Nambi sedang membangun benteng pertahanan dan menyiapkan pasukan untuk melawan Majapahit. Laporan-laporan tentang persiapan Nambi untuk melawan Majapahit begitu meyakinkan, sampai akhirnya Jayanegara mengeluarkan perintah penumpasan kepada Mahapatih. Nambi yang terkejut dengan pergerakan pasukan Majapahit, segera menyiapkan pasukan dari Sadeng, Keta dan daerah lain untuk merapat di Lumajang. Perang antara pasukan Majapahit dan pasukan Nambi terjadi di Lumajang. Pasukan Majapahit berhasil menghacurkan benteng di Biting dan mengalahkan pasukan pendukung Nambi.
Serat Pararatong mengisahkan bahwa dua perang di masa awal Majapahit ini disebabkan oleh desas-desus yang disebarkan oleh ‘orang-orang’ yang dipimpin Mahapatih. Dalam pemberontakan Ranggalawe maupun pemberontakan Nambi, beredar hoax di istana bahwa putra-putra Aria Wiraraja ini mempersiapkan pemberontakan, sedangkan di Tuban maupun di Lumajang beredar juga hoax bahwa Majapahit menyiapkan pasukan penyerangan. Dua hoax tersebut berhasil mendapatkan mendapatkan legitimasi raja, menjadi nyata dan factual karena dua belah pihak tergerakkan untuk menyiapkan pasukan dan perang betul-betul terjadi. Atas keberhasilannya, Mahapati diangkat menjadi Patih Kerajaan Majapahit di tahun 1316.