October 12, 2017

Tumapel, Ibukota Singasari Warisan Tunggul Ametung

Agus Wibowo


Candi Singosari
Penyerangan pasukan Jenggala karena marah pada Kertajaya yang merebut tahta Kerajaan Panjalu, membuat pasukan Kertajaya di Kediri kocar kacir dan Kertajaya lari ke selatan, sampai daerah Sendang Sekapat di Trenggalek. Dari daerah ini Kertajaya mendapatkan perlindungan penduduk dan membangun lagi kekuatan militernya. Pasukannya bisa merebut kembali Kota Daha dari pasukan Jenggala dan kembali berkuasa Panjalu. Atas jasa penduduk daerah Sendang Sekapat, Kertajaya memberikan anugerah sima perdikan kepada para tokoh desa, yang dikukuhkan dengan membangun prasasti batu di Desa Kemulan pada tahun 1194.
Lebih jauh, Pasukan Kediri yang dipimpin oleh Tunggul Ametung berhasil menyelinap langsung dan menyerang istana Jenggala di Kahuripan. Keluarga Kerajaan Jenggala pun banyak yang menyelamatkan diri ke hutan, termasuk rajanya, Sri Maharaja Baginda. Atas jasanya yang gemilang, Kertajaya mengangkat Tunggul Ametung menjadi Adipati di bekas wilayah Kerajaan Jenggala, untuk mencegah kebangkitan keluarga kerajaan di timur Gunung Kawi tersebut. Tunggul Ametung tidak menempati istana Jenggala di Kahuripan melainkan membuka daerah baru di Tumapel, mulai dari membuka hutan dan membangun desa.
Pararaton menyebut Tunggul Ametung sebagai akuwu atau kepala desa di Tumapel padahal dia adalah seorang adipati, kemungkinan karena pusat kekuasaan yang ditempati merupakan peemukiman yang baru di buka yang lebih mirip sebagai desa. Kota baru di bekas wilayah Jenggala yang dikontrol oleh Tunggul Ametung lebih mendekati hulu Kalu Brantas di dataran tinggi Malang dari Kahuripan yang dekat dengan hilir, bahkan, muara Kali Brantas.
Setelah Tunggul Ametung tewas dibunuh pada tahun 1200, dia digantikan oleh Ken Arok sebagai adipati, istana kadipaten tetap di Tumapel. Setelah Ken Arok mendeklarasikan kemerdekaan Tumapel pada tahun 1204 dan mengklaim wilayah bekas Kerajaan Jenggala, ibukotanya tetap di Tumapel. Bahkan setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Panjalu dan menyatukan ke dalam satu kerajaan di tahun 1222, Ken Arok tetap memimpin kerajaan di Istana Tumapel.
Kota Tumapel tetap menjadi ibukota kerajaan ketika Ken Arok terbunuh dan digantikan oleh Anusapati, putra Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Posisi Tumapel tidak tergoyahkan setelah Anusapati digantikan putranya, Wisnuwardhana, yang kemudian menamakan kerajaannya sebagai Kerajaan Singasari. Ibu kota Kerajaan Singasari tetap di Tumapel sampai Kertanegara berkuasa dari tahun 1268 sebelum pemberontakan Jayakatwang di tahun 1292.
Waktu Jayakatwang berkuasa selama satu tahun, ibukota kerajaan dipindahkan ke Daha dan nama kerajaan menjadi Kediri. Setelah Jayakatwang dikalahkan oleh Sangrama Wijaya, yang oleh Kitab Pararaton disebut sebagai Raden Wijaya, pusata kerajaan dipindahkan ke daerah yang sama sekali baru, di Desa Majapahit yang dibuka di hutan Tarik. Ibukota baru untuk kerajaan baru yang dinamakan Majapahit ini terletak di dekat hilir Kali Brantas, dekat dengan kita lama di Kahuripan. Meskipun begitu, Kota Tumapel yang berubah menjadi Singasari sesuai dengan nama Kerajaan Singasari, tetap menjadi kota penting.
Kota Singasari menjadi ibukota kerajaan bawahan Majapahit yang dipimpin keluarga raja Majapahit. Bahkan hingga kini Kota Singasari masih eksis, menjadi ibukota Kecamatan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.⁠⁠⁠⁠ Lokasinya di sebelah timur Kota Batu dan dilewati jalan utama Surabaya – Malang.