October 14, 2017

Ken Arok, Pendiri Singasari Pencetus Wangsa Rajasa

Agus Wibowo
  
Candi Singasari
Ken Arok dikisahkan oleh Kitab Pararaton dengan sangat detil sebagai anak berandalan, penjudi dan pencuri di masa kecil. Ken Arok diceritakan sebagai anak dari seorang perempuan desa yang membuang bayinya di sebuah pemakaman. Ken Arok diangkat anak oleh seorang pencuri, dan dari sini dia belajar menjadi pencuri. Karena kenakalannya, Ken Arok diusir bapak angkatnya yang pencuri, kemudian diangkat anak oleh seorang penjudi dari Karuman Blitar bernama Bonggo Samparan, karena dianggap membawa keberuntungan. Tidak betah menjadi anak angkat Bonggo Samparan, Ken Arok pergi dan berteman dengan gadis anak kepala desa, mulai mengenal baca tulis, tapi kenakalannya makin berkembang dengan menjadi pasangan perampok.

Perjalanan hidup Ken Arok berubah drastis setelah ketemu seorang Brahmana bernama Lohgawe. Dari ciri-ciri fisik dan ciri lain yang dilihat, Begawan Lohgawe meyakini bahwa Ken Arok adalah anak yang ia cari. Setelah memberikan banyak pelajaran agama, baca tulis, dan ilmu lain kepada Ken Arok, Begawan Lohgawe melobi Tunggul Ametung agar menerima anak didiknya tersebut untuk mengabdi di Tumapel. Ken Arok yang tangkas, pandai membaca dan punya wawasan agama cepat mendapatkan kepercayaan dari Tunggul Ametung yang kemudian mengangkat Ken Arok menjadi komandan pasukan pengawalnya.
Ketika Tunggul Ametung tewas terbunuh di peraduan, Ken Arok bergerak sigap, cepat menemukan pembunuh yag bernama Kebo Ijo dan langsung membunuhnya. Tindakan berani Ken Arok membuat keamanan Tumapel tetap terjaga. Atas prestasinya, Raja Kediri mengangkat Ken Arok menjadi Adipati Tumapel menggantikan Tunggul Ametung. Pararato menceritakan bahwa tewasnya Tunggul Ametung merupakan scenario Ken Arok. Karena tertarik dengan Ken Dedes, istri Tunggul Ametung, Ken Arok merencanakan pembunuhan Tunggul Ametung. Dia memesan keris kepada Mpu Gandring dan sering dipinjamkan kepada temannya yang bernama Kebo Ijo yang suka memamerkan keris Ken Arok sebagai kerisnya. Ketika Tunggul Ametung terbunuh dengan keris yang masih menancak, orang-orang langsung percaya bahwa pembunuhnya adalah Kebo Ijo.

Memisahkan Tumapel dari Kediri
Prasasti Lawadan,
Bukti Perang Ken Arok Kertajaya tahun 1205
Setelah menjadi Adipati, Ken Arok menikahi Ken Dedes. Ken Dedes yang sudah mempunyai putra dari Tunggul Ametung bernama Anusapati memberinya dua putra yag bernama Mahisa Wong Ateleng dan Gunigbhaya. Setelah 4 tahun menjadi Adipati, Ken Arok membuat keputusan besar dengan mendeklarasikan Tumapel sebagai kerajaan yang berdiri sendiri, yang merdeka dari Kerajaan Panjalu. Wilayah kekuasaan Kerajaan Tumapel adalah wilayah bekas Kerajaan Jenggala yang terhampar di sisi timur Gunung Kawi.
Pemisahan Tumapel disikapi tegas oleh Kertajaya dengan mengirim pasukan penumpasan tahun berikutnya, yang dipimpin langsung oleh raja Panjalu tersebut. Hanya saja Pasukan Panjalu kalah dan lari mengundurkan diri. Sebelum berhasil mencapai istana, Kertajaya dan pengawalnya mencari perlindungan ke Desa Lawadan di Tulungagung. Setelah berhasil sampai istananya di Daha dan menegakkan kembali kekuasannya, Kertajaya memberikan anugrah sima perdikan kepada Desa Lawadan, yang dikukuhkan dengan membangun Prasasti Lawadan pada tahun 1205. Tanggal dalam prasasti Lawadan diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung.
Setelah penumpasan yang gagal, Tumapel tetap menjadi kerajaan merdeka, sejajar dan bersaing dengan Kerajaan Panjalu. Persaingan dua kerajaan di sisi barat dan sisi timur Gunung Kawi ini seperti menghidupkan persaingan dua kerajaan warisan Erlangga, yaitu Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Kerajaan Tumapel berkembang cepat karena ada pergerakan dukungan dari para brahmana yang kecewa pada Kertajaya yang tidak menghormati para Brahmana, terutama pengikut Syiwa.
Setelah 17 tahun dua kerajaan bersaing, Ken Arok memutuskan untuk menyerang Kerajaan Panjalu di Kediri pada tahun 1222. Sebelum memulai perang, para brahmana metabalkan Ken Arok sebagai titisan Dewa Syiwa.  Hal ini untuk menjawab sesumbar Kertajaya bahwa dia tidak akan bisa dikalahkan kecuali oleh Dewa Syiwa. Dalam peperangan ini Pasukan Ken Arok meraih kemenagan sampai menduduki istana Daha di Kediri. Kertajaya berhasil melarikan diri tapi tidak pernah kembali berkuasa. Putra Kertajaya yang bernama Jayasabha ditawan oleh Ken Arok, kemudian diberikan pengampunan.

Ken Arok Raja Singasari
Ken Arok mendeklarasikan sebagai maharaja yang menyatukan dua wilayah dengan gelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Ken Arok menjadi raja dan berkedudukan tetap di Tumapel dan mengangkat putra pertamanya dari Ken Dedes, Mahisa Wong Ateleng untuk menjadi raja muda di istana Daha di Kediri. Putra Kertajaya yang bernama Jayasabha diangkat menjadi bupati di Gelang-Gelang, arah barat Kediri ke arah Madiun.
Pembagian kekuasaan oleh Ken Arok membuat ketidakpuasan pada Anusapati, karena lebih tua daripada Mahisa Wong Ateleng yang diangkat menjadi raja muda di Kediri. Pararaton menceritakan bahwa hal ini kemudian membuat Anusapati mencari tahu bahwa dia adalah anak tiri dan ayahnyah, Tunggul Ametung, sesungguhnya dibunuh oleh Ken Arok. Anusapati dikisahkan merencanakan pembunuhan terhadap Ken Arok. Rencana ini berhasil pada tahun 1227, dimana Ken Arok terbunuh di peraduannya pada saat tidur, yang dilakukan oleh orang tidak dikenal. Ken Arok didermaka di Candi Kagenengan yang digalih. Anusapati naik tahta menjadi raja Singasari di istana Tumapel, sedangkan Mahisa Wong Ateleng tetap menjadi raja Kediri di istana Daha.

Singasari Pasca Ken Arok
Dari prasasti Mula Maluruh diperoleh informasi bahwa Ken Arok punya 4 anak dari Ken Dedes, 4 anak dari Ken Umang dan satu anak tiri dari Ken Dedes, dari suami pertama Tunggul Ametung.  Setelah Ken Arok tewas, Kerajaan Singasari dimpimpin oleh dua raja kembar, yaitu Tumapel dipimpin Anusapati sedangkan Kediri dipimpin oleh Mahisa Wonga Teleng.  Putra Ken Arok kedua, Agnibhaya diangkat menjadi raja Kediri setelah Mahisa Wonga Teleng meninggal dunia karena sakit. Pada tahun 12xx, Tohjaya putra Ken Arok dari Ken Umang melakukan pemberontakan ketika dua raja terlibat dalam event bersama, yaitu turnamen adu jago. Dalam peristiwa ini Anusapati dan Agnibhaya terbunuh.
Meski berhasil membunuh dua orang raja, Tohjaya hanya bisa menjadi raja di Kediri. Untuk pusat Kerajaan Singasari di Tumapel, putra Anusapati yang bernama Wisnuwardhana diangkat menjadi raja. Wisnuwardhana kemudian membantu Mahisa Cempaka, putra Mahisa Wonga Teleng, merebut kekuasaan atas Kediri dari Tohjaya. Upaya ini berhasil, tapi Mahisa Cempaka kemudian memutuskan menjadi resi dan menyerahkan tahta Kediri untuk disatukan dengan Singasari. Wisnuwardhana menjadi raja keseluruhan SIngasari dan mengangkat putranya, Kertanegara, untuk menjadi raja muda di Kediri. Pada fase ini, yang berkuasa secara penuh di Kerajaan Singasari adalah keturunan Ken Dedes dari Tunggul Ametung.
Wangsa Rajasa atau keturunan Ken Arok kembali berkuasa setelah Sangrama Wijaya yang dikenal sebagai Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit pada 1293. Raden Wijaya adalah cucu dari Mahisa Cempaka, cucu Ken Arok dari putra pertamanya Mahisa Wonga Teleng.  Dalam beberapa prasasti yang dibangunnya mulai tahun 1294, Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana menuliskan status asal usulnya sebagai “anggota Wangsa Rajasa”.